GAYA HIDUP
twitter facebook
Sabtu, 8 September 2012 | 19:09 WIB

Edukasi Perbaiki Kualitas Hidup Pasien Hipertensi

Oleh: Dahlia Krisnamurti
Edukasi Perbaiki Kualitas Hidup Pasien Hipertensi
inilah.com

INILAH.COM, Jakarta - Prevalensi hipertensi di Indonesia tergolong tinggi, namun masih sangat banyak penderita penyakit ini yang tidak terdeteksi dan tertangani dengan baik.

Ini karena masih banyak masyarakat kurang paham dengan penyakit hipertensi dan pemahaman tentang bahayanya.

Padahal, hipertensi merupakan salah satu faktor risiko paling berpengaruh terhadap kematian dan kesakitan karena kejadian penyakit jantung dan pembuluh darah yang merupakan angka terbesar di Indonesia.

Berkaca pada hasil Riset Kesehatan Dasar Depkes (Riskesdas) 2007, sekitar 76% kasus hipertensi di masyarakat belum terdiagnosis. Hal ini terlihat dari hasil pengukuran tekanan darah pada usia 18 tahun ke atas ditemukan prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 31,7%.

Ironisnya, lebih dari 31,7% prevalensi hipertensi itu diketahui yang sudah mengetahui memiliki tekanan darah tinggi (hipertensi) berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan adalah 7,2%. Sementara dari kasus tersebut yang sadar dan menjalani pengobatan hipertensi hanya 0,4%.

Tekanan darah tinggi yang menetap dapat merusak arteri jantung. Tekanan darah tinggi yang tidak ditangani adalah penyebab terbesar stroke.

Tekanan darah tinggi berbahaya karena menyebabkan kelelahan jantung dan arteri, serta menimbulkan kerusakan jaringan halus. Jika dibiarkan tidak ditangani, tekanan darah tinggi akhirnya merusak mata dan ginjal.

Semakin tinggi tekanan darah, semakin besar pula risiko komplikasi, misalnya serangan jantung, penyakit arteri koroner, dan stroke, yang akan memperpendek usia. Menurunkan tekanan darah walaupun hanya sedikit akan mengurangi risiko serangan jantung sebesar 20%.

Hipertensi sering tidak menunjukkan gejala, sehingga baru disadari bila telah menyebabkan gangguan organ, misalnya gangguan fungsi jantung atau stroke. Tidak jarang hipertensi ditemukan secara tidak sengaja waktu pemeriksaan kesehatan rutin atau datang dengan keluhan lain.

Karenanya, edukasi tentang bahaya hipertensi dan deteksi dini sangat diperlukan guna meminimalisir tingkat kematian dan kerusakan organ serta cacat total penderita hipertensi.

Ketua Perhimpunan Hipertensi Indonesia sekaligus Kardiologis Senior dari RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, dr Arieska Aan Soenarta, Sp.JP mengatakan dalam penatalaksanaan hipertensi tidak hanya tekanan darah sesaat saja yang diperhatikan akan tetapi perilaku tekanan darah sepanjang waktu tertentu yang penting untuk diperhatikan dimana hal tersebut berhubungan dengan prognosa organ organ target yang dipengaruhi oleh hipertensi.

" Karena menyerang tanpa gejala. Hipertensi merupakan faktor resiko utama penyebab penyakit jantung dan pembuluh darah. Setiap dua detik, satu orang meninggal karena penyakit jantung dan pembuluh darah”, kata dr Arieska dalam acara seminar Seminar Internasional "Meet The Expert BP Variability" yang diselenggarakan oleh Indonesian Society of Hypertension (InaSH) , didukung oleh PT Pfizer Indonesia., di Hotel Manhhatan Jakarta, Sabtu (8/9).

Menurut dr Arieska, edukasi seperti seminar dan workshop serta deteksi dini amatlah diperlukan, agar penderita dapat mengenal lebih jauh akan penyakit hipertensi.

"Salah satu kegiatan InaSH selain workshop hipertensi yang sudah berjalan baik yang dilakukan di beberapa daerah di Indonesia, kegiatan lain adalah kerjasama dengan beberapa instansi untuk meng highlight hal hal yang merupakan informasi terbaru atau breaking news di bidang hipertensi bagi kalangan medis," jelas dr Arieska.

Prof. Wiguno Prodjosudjadi MD, Phd dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo menambahkan, selama ini nilai tekanan darah absolute dianggap penting dalam memprediksi risiko. Penelitian-penelitian membuktikan bahwa variabilitas tekanan darah ternyata tidak kalah penting dalam memprediksi risiko.

Namun, sambung dr Arieska, berbagai rekomendasi, guideline dalam diagnosis dan pengelolaan hipertensi, masih berdasarkan pengukuran tekanan darah klinis secara terisolasi. Evaluasi risiko kardiovaskular yang terkait tekanan darah, didasarkan pada pengukuran tekanan darah rerata.

""Karenanya, penting untuk melakukan ambulatory BP monitoring (ABPM). Banyak manfaat dari teknik ini dan cara ini bisa memberikan profil tekanan darah dalam 24 jam," ujar dr Arieska.

Lebih lanjut, Prof Wiguno menjelaskan, mekanisme terjadinya variabilitas tekanan darah tidak sepenuhnya diketahui. Namun, beberapa bukti memperlihatkan bahwa faktor perilaku, neural, refleks dan humoral, serta kepatuhan terhadap pengobatan antihipertensi mempengaruhi fenomena ini.

Hasil sub studi ASCOT-BPLA menunjukkan, amlodipin /perindropil lebih efektif menurunkan variabilitas tekanan darah sistolik, dari beta blocker/thiazide pada pasien hipertensi.

Pada kedua kelompok, pengobatan dengan tekanan darah rerata yang dapat terkontrol dengan baik, risiko kejadian vaskular meningkat lima kali lipat, jika variabilitas tekanan darah sistolik dalam setiap kunjungan tinggi. Penurunan variabilitas tekanan darah yang lebih baik, berpengaruh pada angka kejadian stroke dan kardiovaskular yang ditunjukkan oleh amlodipin/ perindropil dibandingkan beta blocker/thiazide dalam sub studi ini.

Kurangi risiko dan kerusakan organ

Director of Cardiovascular for the UCSF Fresno at Stanford University, yang juga anggota American Heart Association, Prof Prakash Deedwania mengungkapkan tujuan pengobatan pada hipertensi adalah mengurangi resiko dan kerusakan organ. Hal ini demi kualitas hidup pasien melalui kepatuhan pengobatan.

"Menurunkan tekanan darah dan mengontrolnya sesuai target penurunan darah adalah salah satu cara mengurangi risiko kematian, dan penyakit penyerta hipertensi, seperti penyakit jantung, gagal ginjal, dan stroke," ungkapnya.

Menurutnya, di dalam tubuh terdapat pembuluh darah mikro yang mengalirkan darah. Bila tekanan darah tinggi, pembuluh darah ini bisa rusak sehingga tidak mampu untuk menapis. Kerusakan ini justru memicu tahanan perifer, yang bila rusak dapat mengeluarkan hormon yang membuat tekanan darah menjadi lebih tinggi lagi.

"Karena itu, pasien harus tetap mengonsumsi obat untuk menurunkan tekanan darah, dan menjaga ginjal supaya tetap terjaga," tambahnya.

Sementara itu, Public Affairs & Communications Director Pfizer Indonesia, Widyaretna Buenastuti mengatakan dalam penatalaksanaan hipertensi, Pfizer telah berkontribusi sejak 20 tahun yang lalu, tidak hanya melalui produk tetapi juga melakukan edukasi baik kepada kalangan medis maupun masyarakat.

"Ini merupakan sebuah komitmen dari visi kami untuk menjadikan Indonesia yang lebih sehat,” kata Widya. [mor]

Kembali ke atas