INILAHKORAN.COM - LINTAS JABAR
twitter facebook
Sabtu, 26 Januari 2013 | 20:15 WIB

Telaah Perjuangan Tokoh Islam Melalui Ngabungbang

Oleh: Zainulmukhtar
Telaah Perjuangan Tokoh Islam Melalui Ngabungbang
Makam Keramat Syekh Ja'far Shidiq atau Mbah Wali Cibiuk - inilah.com/Zainulmukhtar

INILAH, Garut - Menyambut hari kelahiran Nabi Muhammad SAW atau yang kerap disebut Maulid Nabi, berbagai tradisi kerap dilakukan di berbagai daerah. Salah satunya tradisi Ngabungbang (begadang) di Makam Keramat Syekh Ja'far Shidiq di Kabupaten Garut.

Berbeda dengan kebanyakan tempat, Ngabungbang di makam keramat Syekh Ja'far Shidiq atau disebut Mbah Wali Cibiuk di Desa Cipareuan Kecamatan Cibiuk nyaris tidak mengenal acara ritual apapun selain berdo'a dan berbagi kisah Rasululloh dan tokoh keramat yang diziarahi.

"Sepanjang pengetahuan, saya dan para santri dibawa guru Ngabungbang ke Makam Mbah Wali itu hanya berdo'a. Di sana kita diberi nasihat dan wasiat setelah dikisahkan
tentang Rasululloh SAW dan para penyebar Islam. Termasuk bagaimana sosok Mbah Wali semasa hidupnya," tutur salah seorang pengurus Pondok Pesantren An Najah Desa Limbangan Timur Kecamatan Limbangan, Jati Nugraha, Sabtu (26/1).

Menurut Jati, Ngabungbang tak lebih daripada berziarah pada malam hari di bulan Mulud dengan memanfaatkan terangnya sinar rembulan. Sehingga dalam semalam itu aktivitas ziarah tidak terbatas pada satu makam.

"Kita napak tilas terhadap perjuangan para leluhur yang merupakan penyebar Islam. Sebelum ke Makam Mbah Wali, kita ziarah dulu ke makam orang tua, Mbah Wali Abdurrahman, kemudian Sunan Cipancar. Pada setiap tempat ziarah, kita merenungkan perjuangan mereka semasa hidupnya agar kita bisa mencontohnya," ucap Jati yang masih keturunan Mbah Wali Cibiuk itu.

Dengan demikian, Ngabungbang di makam Mbah Wali Cibiuk bukanlah untuk mencari berkah atau mengkultuskan tokoh yang diziarahi. Melainkan sebagai upaya instrospeksi diri untuk meneladani perjuangan mereka dalam melaksanakan ajaran Rasululloh SAW.

Makam Syekh Ja'far Shidiq atau Mbah Wali berada di kaki Gunung Haruman Desa Cipareuan Kabupaten Garut. makam tersebut tak pernah sepi dari para peziarah, baik dari daerah Garut sendiri maupun luar Garut dan dijadikan Pemkab Garut sebagai salah satu objek wisata ziarah, yang tergolong ke dalam atraksi budaya peninggalan sejarah dengan bentukan fisik (relic/artefac) berupa makam.

Makam Syekh Ja'far Shidiq berada di tengah kompleks makam seluas 5 hektare, terdiri dari empat komplek makam utama yang semuanya merupakan kerabat dekatnya. Mereka yaitu makam Eyang Abdul Jabar yang berada di sebelah Timur, dan agak ke tengah makam Syekh Ja'far Shidiq sendiri. Ke arah Barat terletak makam Nyimas Ayu Siti Fatimah, dan paling ujung makam Mbah Muhammad Asyim. Masing-masing dari keempat komplek makam utama dibatasi pagar bambu.

Untuk menuju makam Syekh Ja'far Shidiq, dari arah Jalan Raya Kecamatan Cibiuk maka peziarah akan melewati jalan desa sepanjang sekitar 80 meter dan jalan setapak sepanjang 50-60 meter berbentuk 'foothpath' yang permukaannya dilapisi semen.

Berbeda dengan umumnya pemakaman keramat yang ditempatkan di sebuah bangunan khusus (semacam mouselium) dari tembok, tidak ada bangunan semacam itu yang melingkupi makam Syekh Ja'far Shidiq maupun yang lainnya di komplek makam keramat Sunan Haruman. Makam-makam utama di sini hanya diberi pengamanan berupa pagar bambu/kayu yang cukup tinggi dan rapat. Khusus komplek makam Syekh Ja'far Shidiq, dikelilingi semacam bangunan padepokan terbuka, terbuat dari kayu beratap genteng sebagai tempat para peziarah berdo'a.

Di dalam lingkungan kompleks makam juga terdapat bangunan mushola dan toilet untuk keperluan para peziarah.[ang]

Berita Terkait
Kembali ke atas