SINDIKASI
twitter facebook
Selasa, 5 Maret 2013 | 02:39 WIB

Kepri Dilanda Angin dan Gelombang Tinggi

Oleh: Haluan Kepri
Kepri Dilanda Angin dan Gelombang Tinggi
Ilustrasi

INILAH.COM, Tanjungpinang - Sepanjang Maret 2013, wilayah Kepulauan Riau (Kepri) bakal dilanda panas yang terik. Cuaca ekstrim itu juga disertai angin kencang yang membuat gelombang laut bisa mencapai lima meter.

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Tanjungpinang, Hartanto mengatakan, hal tersebut diakibatkan angin selatan di wilayah Jawa bersifat rendah dan dari Utara kencang, yang berdampak langsung terhadap cuaca di wilayah Kepri. Kecepatan angin di atas 15-20 Knot.

Kata Hartanto, angin kencang mengakibatkan gelombang di perairan Kepri hingga mencapai ketinggian lima meter, terutama di perairan Laut Cina Selatan.

Menurut dia, cuaca di wilayah Kepri pada umumnya panas kering. Pada tanggal 23 Maret nanti, posisi matahari akan berada dekat dan lurus di garis ekuator. Hal itu berarti, matahari mencapai titik puncaknya sehingga cuaca menjadi akan sangat panas.

"Akhir bulan ini tepatnya tanggal 23 Tanjungpinang dan wilaah Kepri umumnya akan sangat panas karena posisi matahari sangat dekat dan lurus di tengah Kepri. Ditambah kecepatan angin 30-40 Km/jam mengakibatkan gelombang tinggi di perairan Kepri" kata Hartanto ditemui di kantor BMKG Stasiun Tanjungpinang, Senin (4/3).

Dikatakan, hari Rabu (6/3) dan Kamis (7/3) depan, puncak gelombang tertinggi akan terjadi di perairan Kepri terutama di wilayah laut Anambas dan Natuna. Ketinggian gelombang diperkirakan mencapai empat sampai lima 5 meter.

Atas kondisi cuaca yang ekstrim ini, Hartanto mengimbau seluruh pihak operator pelayaran dan nelayan dan juga masyarakat pesisir untuk waspada.

"Bagi masyarakat nelayan Bintan yang hendak berlayar ke arah laut Cina Selatan, diimbau mewaspadai gelombang tinggi. Apalagi bagi kapal kecil, lebih baik mengurungkan niat untuk melaut. Untuk pelayaran dekat seperti Tanjungpinang hingga Batam dan sekitarnya masih tidak terlalu berbahaya," katanya.

Kata Hartanto, kecepatan angin saat ini tidak berpengaruh terhadap penerbangan di Tanjungpinang. Itu karena angin masih searah dengan jalur penerbangan.

Menurutnya, selagi masih sejalur penerbangan, maka akan berdampak positif karena membantu penerbangan saat landing dan take-off pesawat.

"Penerbangan masih aman, tidak terpengaruh karena kecepatan angin masih sejalur dengan rute pesawat saat landing dan take-off. Untuk pesawat berdampak positif karena dapat membantu penerbangan. Akan tetapi, apabila arah angin berlawanan, bisa-bisa pendaratan dan penerbangan pesawat jadi terganggu" sebutnya.

Khusus di wilayah Tanjungpinang, diprediksikan dalam satu pekan ke depan tidak akan ada curah ujan. Lapisan atas kering dan angin kencang membuat pembentukan awan sulit. Terkadang awan sudah mendung tetapi tidak jadi hujan dan biasanya awan yang mendung menjadi hilang.

Hertanto juga berpesan kepada warga agar tidak melakukan aktivitas pembakaran untuk pembukaan lahan. Jika tidak dikontrol, pembakaran tersebut bisa berakibat fatal karena kondisi cuaca saat ini dapat mempermudah api dengan cepat menjalar dan tidak terkendali.

Kemudian, masyarakat pun diminta mewaspadai panas kering yang berpotensi mengganggu kesehatan. Hartantoi menyarankan agar masyarakat memperbanyak minum air guna menghindari serangan dehidrasi ringan akibat banyak mengeluarkan keringat.

"Intansi terkait dapat kiranya, memperhatikan pohon-pohon yang sudah tidak layak atau tua yang di pinggir jalan dan di pemukinan masyarakat. Karena takutnya menjadi berbahaya dengan kondisi angin hingga 30-40 km/jam sangat berpotensi kencang, bisa membahayakan pengendara dan rumah warga ketika angin bertiup kencang dan terjadi pohon tumbang", katanya.

Sementara itu, panas yang menerpa Kota Tanjungpinang sejak beberapa hari terakhir membuat titik-titik api di kawasan hutan bermunculan. Setelah sebelumnya dua kawasan hutan terbakar, Senin (4/3) kemarin kebakaran kembali melanda dua areal hutan lindung, yakni Hutan Lindung Bukit Manuk Tanjung Lanjut, Senggarang dan Hutan Lindung Tanjungpinang. Kedua hutan itu terbakar mulai pukul 10.30 WIB dan pukul 15.30 WIB.

Sekitar satu hektar lahan hutan Bukit Manuk hangus terbakar. Di Hutan Lindung Tanjungpinang lebih parah, api melahap empat hektar kawasan hutan.

Dua mobil pemadam kebakaran Pemko Tanjungpinang dikerahkan ke lokasi. Tak lama api berhasil dipadamkan meski harus dengan cara manual yakni memukul-mukulkan ranting kayu pada api. Sekitar pukul 17.50 WIB, api baru dapat dipadamkan.

"Terpaksa pakai cara manual karena kendaraan tidak bisa masuk ke lokasi titik api," kata Herman, salah seorang petugas.

Selain sulitnya mencapai lokasi titik api, kelangkaan solar juga menjadi persoalan tersendiri bagi petugas pemadam kebakaran. "Solar langka, kami jadi kesulitan beroperasi," kata Herman.

Menurut dia, biasanya kebakaran hutan ini terjadi faktor manusia. "Ada yang mau membuka lahan untuk berkebun dengan cara membakar. Tetapi tidak diperhitungkan dan malah apinya ditinggal begitu saja hingga menjalar ke lahan orang lain," katanya.

Sebelumnya, Sabtu (2/3) lalu, di Hutan Lindung Senggarang Besar juga ditemukan dua titik kebakaran.

"Selain karena manusia, angin kencang juga mempercepat perembetan api menjadi luas. Hendaknya bagi yang mau membuka lahan, buatlah batasan api agar tidak menjalar. Selain itu, sebaiknya api dijaga, dikontrol agar tidak membesar dan meluas. Segera mungkin laporkan jika api membesar dan tidak bisa dikendalikan lagi," ujar Herman. [ton]

Berita Terkait
Kembali ke atas