PASAR MODAL
twitter facebook
Minggu, 10 Maret 2013 | 09:22 WIB

BEI: Ini Tips Hindari Penipuan Investasi di Bursa

Oleh: Wahid Ma'ruf
BEI: Ini Tips Hindari Penipuan Investasi di Bursa
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) - Inilah.com/Wirasatria

INILAH.COM, Garut - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengindikasikan ada beberapa perilaku perusahaan efek yang dapat menyebaban terjadinya kerugian terhadap nasabah pasar modal.

Demikian dikatakan Direktur Pemeriksaan dan Pengawasan PT BEI, Urip Budi Prasetyo dalam Capital Market Outlook 2013 yang diadakan Asosiasi Wakil Perantara Pedagang Efek Indonesia (AWP2EI) di Kabupaten Garut, Sabtu (9/3/2013). Salah satunya sales marketing perusahaan efek yang menjalankan tugas manajer investasi. Secara peraturan BEI hal tersebut tidak diperbolehkan di pasar modal.

Karena keputusan akhir untuk investasi dilakukan setelah mendapat arahan atau rekomendasi dari manajer investasi bukan dari sales marketing. "Tetapi karena ada nasabah yang terlalu percaya kepada sales sehingga seperti layaknya manajer investasi, atau jadinya fun manager jadi bukan fund manager," kata Urip Budi Prasetnyo.

Indikasi ini merupakan temuan saat BEI melakukan audit khusus terhadap perusahaan efek. Hal ini setelah terjadi pengaduan dari nasabah. Walaupun BEI selalu melakukan audit rutin maupun audit khusus.

BEI menyarankan kepada nasabah untuk mencermati haknya sebagai nasabah sehingga dana investasikan masih dapat terpantau. Untuk mengetahui setiap transaksi dananya, investor akan mendapatkan trading confirmation. Setiap transaksi yang dilakukan manajer investasi selalu memberikan informasi kepada nasabah.

Selain itu, nasabah juga mendapatkan rekap dari transaksi yang dilakukan manajer investasi setiap bulan. Dari pemberitahuan tersebut maka aliran dana nasabah selalu dapat terdeteksi. Cara terakhir adalah menggunakan kartu akses, dengan fasilitas single number yang dapat digunakan nasabah untuk mengetahui rekening efeknya. Kartu tersebut dapat melihat rekening nasabah yang ada di KSEI.

Kasus penipuan di pasar modal yang terdata paling besar nilainya Rp1,5 triliun. Hal ini tergolong kecil dibanding kasus investasi bodong. Namun hal tersebut tetap mengurangi kenyamanan investor dalam berinvestasi.

Sementara saat ini Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan mengusulkan unit market intelijen untuk mencegah penipuan investasi. Salah satu kegiatan yang akan dilakukan dengan menelusuri penawaran investasi yang dilakukan baik secara langsung dan lewat internet.

OJK telah menerima 278 termasuk permintaan dan penyampaian informasi hingga awal Maret 2013. Dari 278 call centre,sekitar 220 merupakan penyampaian informasi, dan sisanya pengaduan. Data tersebut paling besar pengaduan tersebut industri keuangan non bank.

Persoalan investasi bodong kembali mengemuka setelah muncul kasus terbaru, yakni kasus mirip multi level marketing Koperasi Langit Biru dan PT Gradasi Anak Negeri (GAN). Ribuan anggota dan investor merugi gara-gara pengelola investasi itu kabur.

Berita Terkait
Kembali ke atas