INILAHKORAN.COM - ASPIRASI
twitter facebook
Jumat, 10 Mei 2013 | 08:45 WIB

Waspada Teroris

Oleh:
Waspada Teroris

INILAH, Bandung - Masih ingat Mawan Kurniawan? Ketika Densus 88 menangkap pria kalem yang bekerja sebagai programer pada sebuah perusahaan jasa informatika di Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung, itu sekitar delapan bulan lalu, kita semua terhenyak bak orang yang baru bangun dari mimpi buruk.

Penangkapan Mawan, yangdiduga telah membobol dana sekitar Rp6 miliar melalui situs internet perusahaan valuta asing untuk berbagai kegiatan terorisme di Indonesia, menyadarkan semua pihak –setidaknya saat itu– bahwa terorisme bisa tumbuh di mana saja dan dapat melibatkan siapa saja. Mulai dari keluarga, tetangga, sampai anggota masyarakat biasa.

Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Abdul Rakhman Baso pun segera mengambil inisiatif untuk membangun kebersamaan untuk menangkal segala bentuk aksi terorisme. Maka, digelarlah sebuah apel besar dengan tema Bersama Kita Tingkatkan Daya Tangkal Masyarakat terhadap Ancaman Terorisme Melalui Sinergitas Pemerintah, TNI, Polri, dan Elemen Masyarakat.

Hadir 151 lurah, 453 personel Babinkamtibmas, 129 personel Babinsa, dan sejumlah unsur muspida, termasuk Wali Kota Bandung Dada Rosada, Ketua DPRD Bandung Erwan Setiawan, Dandim 0618-BS Letkol Ujang Sudrajat, dan Kajari Bandung Febri Adriansyah. Dalam upacara tersebut, Kapolrestabes mengajak semua pihak untuk mewaspadai ancaman terorisme dan gerak-gerik teroris dengan membangun deteksi dini dan sinergitas.

Hasilnya? Tak seorang pun tahu sampai Densus 88 menyerbu sebuah rumah di Margaasih, Kabupaten Bandung, pada Rabu (8/5)siang. Dalam penyergapan tersebut tim antiteror itu menangkap hidup-hidup Haris Fauzi alias Jamrud dan menembak mati Budi alias Angga, Bang Junet alias Encek, dan Sarame.

TKP-nya memang di luar Kota Bandung. Tapi, itu tidak berarti jaringan teroris bergeser ke luar Kota Bandung hanya gara-gara apel tersebut. Yang patut kita yakini adalah bahwa sejak bom meluluhlantakkan anjungan tunai Bank BNI di Jalan Dipatiukur, Kota Bandung, pada Juni 2011, ancaman terorisme tidak pernah bergeser ke mana-mana.

Sebab, yang terjadi adalah bahwa jaringan teroris tidak lagi terpusat di suatu daerah, tapi berpencar ke banyak tempat dalam kelompok-kelompok kecil. Targetnya pun tidak selalu simbol-simbol Barat. Pengebom ATM BNI di Jalan Dipatiukur meninggalkan pesan bahwa mereka prihatin dengan nasib para petani yang lahannya dijarah pemodal besar. Bahkan ancaman bom pernah ditujukan terhadap Masjid Persis Pusat, Jalan Viaduct Kota Bandung.

Membangun kewaspadaan terhadap ancaman terorisme tidak akan pernah cukup dengan satu kali apel. Apalagi dengan lingkup yang terbatas. Sekarang terlalu mudah bagi seseorang untuk menjadi teroris. Doktrin-doktrin tentang intoleransi, yang dulu dimonopoli tempat-tempat peribadatan dan lembaga-lembaga atau organisasi keagamaan, kini tersebar melalui kampanye pemilu atau pemilukada dan bisa diakses dengan mudah dari dunia maya.

Apel kewaspadaan sebaiknya lebih sering digelar dan libatkan juga para politisi. [den]

Berita Terkait
Kembali ke atas