INILAHKORAN.COM - EKONOMI
twitter facebook
Kamis, 6 Juni 2013 | 11:21 WIB

Harga Sembako di Cianjur Diprediksi Naik Tajam

Oleh: Benny Bastiandy
Harga Sembako di Cianjur Diprediksi Naik Tajam
inilah.com/Benny Bastiandy

INILAH.COM, Cianjur - Harga sejumlah komoditas kebutuhan bahan pokok di pasar tradisional di Kabupaten Cianjur, diprediksi bakal mengalami kenaikan seiring kondisi cuaca ekstrem dengan intensitas curah hujan tinggi saat ini.

Pasalnya, kenaikan harga tersebut selalu dipengaruhi pasokan komoditas lantaran hasil panen tak maksimal ketika kondisi cuaca tak menentu.
Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Cianjur, Judi Adi Nugroho mengatakan, hasil laporan dan pemantauan rutin pihaknya ke pasar-pasar tradisional, harga-harga kebutuhan pokok masyarakat saat ini memang relatif stabil. Hanya saja ada beberapa komoditas yang harganya mulai mengalami kenaikan, seperti komoditas sayuran.
"Kondisi cuaca ekstrem dengan intensitas curah hujan tinggi saat ini memang diprediksi bakal berimbas pada harga-harga kebutuhan bahan pokok masyarakat. Dari hasil laporan dan pemantauan, beberapa di antara komoditas yang sudah naik yakni cabai merah. Saat ini harganya mencapai Rp30.000 per kilogram dari semula Rp20.000-Rp25.000. Demikian juga harga cabai keriting yang sudah menembus harga Rp32.000 per kilogram," kata Yudi saat dihubungi INILAH, Kamis (6/6/2013).
Pun harga beras, Yudi memprediksikan bakal mengalami kenaikan. Saat ini untuk harga beras kualitas 2 berada di kisaran Rp7.800 per kilogram. Sedangkan beras kualitas 1 berada di level Rp8.000 per kilogram.
"Tapi melihat kondisi cuaca saat ini, ada kemungkinan harganya akan naik, karena hasil panen tak maksimal serta proses penjemuran padi akan memakan waktu lama. Kalaupun ada yang menggunakan mesin pengering listrik, harga jualnya pun akan mahal," terang Yudi.
Namun Yudi mengaku tak terlalu mengkhawatirkan jika harga beras diprediksi mengalami kenaikan. Sebab, ketika pasokan beras berkurang, menurut Yudi, pemerintah masih memiliki cadangan beras di Bulog.
"Raskin adalah salah satu cadangan pemerintah. Kalaupun nanti harga beras sudah di luar batas toleransi, kita juga bisa mengajukan digelarnya OP (Operasi Pasar). Intinya, ketika harga beras naik, bisa kita antisipasi," tuturnya.
Komoditas lainnya yang diwaspadai naik adalah daging sapi dan telur ayam mengingat bulan depan sudah memasuki bulan Puasa. Biasanya, ketika memasuki bulan Puasa, harga komoditas kebutuhan bahan pokok dipastikan naik.
"Khusus di Pasar Cipanas, harga daging sapi impor saat ini Rp85.000 per kilogram. Sedangkan harga daging sapi impor sebesar Rp90.000 per kilogram. Sedangkan telur ayam sebesar Rp17.500 per kilogram," ujarnya.
Yudi mengimbau agar masyarakat tak perlu panik menyikapi prediksi kenaikan harga komoditas kebutuhan bahan pokok ke depan. Sebab, berdasarkan pemantauan, pasokan masih aman dan harganya pun relatif stabil.
"Terkecuali saat ini harga jengkol sudah menembus Rp50.000 per kilogram. Tapi karena jengkol bukan merupakan kebutuhan pokok, maka masyarakat sendiri tak perlu panik," tegasnya.
Di lain tempat, Bupati Cianjur, Tjetjep Muchtar Soleh mengatakan, Pemkab Cianjur akan terus mengevaluasi proses maupun hasil-hasil, termasuk pembangunan ketahanan pangan sebagai upaya menyatukan pandangan dalam rangka memecahkan persoalan dan merumuskan solusi bagi masalah ketahanan pangan dii Kabupaten Cianjur. Sebab, ketahanan pangan merupakan isu multidisiplin, multisektor, dan multidimensi.
"Karenanya kita harus terus berupaya meningkatkan ketahanan pangan yang merupakan kebutuhan dasar manusia. Maka pembangunan ketahanan pangan merupakan pembangunan prioritas, sekaligus fondasi bagi sektor-sektor lainnya. Berbagai permasahan yang mesti mendapat perhatian kita semua antara lain, terjadinya peningkatan jumlah penduduk yang memerlukan penyediaan bahan pangan yang lebih besar. Terjadinya kerusakan lingkungan, degradasi lahan, alih fungsi lahan pertanian, dan perubahan iklim yang dapat mengganggu produksi dan produktivitas pangan, serta terjadinya kompetisi antara sumber-sumber pangan dan sumber-sumber energi," kata Tjetjep dalam suatu kesempatan, beberapa hari lalu.
Tjetjep berharap, Dewan Ketahanan Pangan segera merumuskan ide-ide dasar dari pembangunan ketahanan pangan yang disesuaikan dengan kondisi dan kultur masyarakat sehingga manfaatnya dapat dirasakan. Utamanya menghadapi tantangan dan perubahan lingkungan strategis pada semua tingkatan, baik dari pergerakan harga-harga pangan , kenaikan BBM, dan perubahan iklim yang mempengaruhi daya beli. "Perubahan lingkungan strategis ini akan berdampak pada meningkatnya kerawanan pangan," pungkas Tjetjep.

Berita Terkait
Kembali ke atas