EKONOMI
twitter facebook
Senin, 24 Juni 2013 | 13:01 WIB
Majalah InilahREVIEW Edisi ke-43 Tahun II

Karsani, Geolog Senior: Minyak Kita Masih Ada

Oleh: Emmanuel Kure
Karsani, Geolog Senior: Minyak Kita Masih Ada
Karsani Aulia, Senior Vice President Samudra Energy. - (Foto : istimewa)

TAHUN 1990, Menteri Pertambangan dan Energi Ginadjar Kartasasmita pernah meramal bahwa 12 tahun mendatang Indonesia tidak akan lagi menjadi eksportir minyak. Sayangnya, ramalan Ginandjar seperti tidak didengar.

Ramalan Ginandjar akhirnya terbukti. Lihat saja, sejak beberapa tahun lalu, Indonesia bukan lagi negara eksportir minyak, tapi sudah menjadi importir.

Betulkah minyak di perut bumi Indonesia sudah hampir habis? “Kita masih punya cadangan minyak yang belum digali sekitar 75%,” kata Karsani Aulia, Senior Vice President Samudra Energy.

Karsani adalah seorang geolog senior, yang dihormati di kalangan perminyakan. Selama 27 tahun ia bekerja di PT Caltex Pacific Indonesia yang kemudian berubah menjadi PT Chevron Texaco. Ia sempat menjabat Vice Pressident Exploration di perusahaan Amerika Serikat itu.

Di tengah Seminar Geosain yang digelar Badan Geologi, Kamis pekan lalu, Karsani ditemui Bachtiar Abdullah dan Emanuel Kure dariInilahREVIEW. Petikan wawancaranya:

Kita perlu mendapat gambaran eksplorasiminyak dan gas di Indonesia saat ini. Bagaimana peluang sumur baru di Indonesia?

Kalau dari sisi eksplorasi, apalagi untuk wilayah Indonesia Timur, pasti lama jika dihitung dari eksplorasi sampai produksi. Lapangan Tangguh di Papua baru berproduksi setelah 15 tahun setelah eksplorasi. Sementara untuk wilayah Indonesia Barat eksplorasi bisa cepat karena infrastruktur perminyakannya sudah bagus.

Bagimana produksi migas saat ini?

Minyak yang diangkat saat ini maksimum 20%-25% dari yang ada di perut bumi. Kita sebenarnya bisa meningkatkan produksi menjadi 45%-50% dengan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) di sumur-sumur yang sudah ada. Dengan menyuntikkan uap, air atau kimia atau dibor horisontal, produksi minyak bisa meningkat seperti itu. Namun, upaya ini sama dengan investasi menemukan cadangan minyak baru.

Pada tahun 1990-an ketika saya bekerja di PT Caltelx Pacific Indonesia, ternyata Lapangan Minas bisa meningkatkan produksi 50% lebih besar dari sebelumnya dengan tehnik EOR. Bahkan, di Lapangan Duri produksinya melonjak sampai 70% dengan injeksi uap.

Jadi, berapa potensi cadangan kita?

Kita masih punya cadangan minyak yang belum digali sekitar 75%. Produksi minyak kita selama ini baru mencapai 25 miliar barel, padahal potensi yang bisa digali ada 50 miliar barel lagi. Tinggal perlu aturan hukum, pajak, dan aturan yang menyangkut kementerian lain yang lebih jelas dan tegas.

Apakah investasi migas masih menarik bagi investor?

Bagi perusahaan minyak atau gas yang penting apakah investasinya akan menguntungkan? Kalau peraturan pemerintah tidak ada, maka jaminan keuntungan juga tidak ada, ya siapa yang mau investasi?

Selengkapnya, artikel ini bisa disimak di majalah InilahREVIEW edisi ke-43 Tahun II yang terbit Senin, 24 Juni 2013. [tjs]

Berita Terkait
(Program 100 Hari Jokowi (2)) Soal BBM di APBN, Lakukan Hedging Minyak
Kembali ke atas