PASAR MODAL
twitter facebook
Kamis, 11 Juli 2013 | 03:00 WIB
Hendra Martono

Saham Ritel Tak Berhubungan dengan Lebaran

Oleh: Ahmad Munjin
Saham Ritel Tak Berhubungan dengan Lebaran
Hendra Martono, Vice President Brokerage Strategic Development Henan Putihrai Securities - (Foto: inilah.com)

INILAH.COM, Jakarta – Meski emiten-emiten sektor ritel mengalami lonjakan penjualan saat puasa dan jelang lebaran, tapi tidak dengan harga sahamnya. Karena itu, dua momentum itu tak bisa jadi patokan.

Hendra Martono, Vice President Brokerage Strategic Development Henan Putihrai Securities mengatakan, secara teknikal momentum puasa dan lebaran tidak bisa dijadikan patokan untuk transaksi saham-saham di sektor ritel. Menurut dia, dalam beberapa tahun terkahir, tidak setiap puasa dan lebaran, saham-saham ritel mengalami penguatan.

Korelasinya, kata dia, hanya antara 43-47%, tergantung pada sahamnya. “Tidak cocok, tidak bijaksana jika beli sekarang dengan target jual jelang lebaran. Lebih baik, untuk trading jangka pendek, beli saat baru mengalami kenaikan dan lepas saat baru turun. Jadi, perhatikan fundamental saham per saham dan pergerakan harganya masing-masing,” katanya kepada INILAH.COM.

Pada perdagangan Rabu (10/7/2013) saham PT Ramayana Lestari Sentosa (RALS.JK) stagnan di Rp1.090; PT Mitra Adiperkasa (MAPI.JK) stagnan di Rp6.800; PT Matahari Putra Prima (MPPA.JK) naik Rp25 (1,14%) ke Rp2.200;

PT Supra Boga Lestari (RANC.JK) stagnan di Rp880; PT Hero Supermarket (HERO.JK) turun Rp25 (0,70%) ke Rp3.500; PT Matahari Departement Store (LPPF.JK) turun Rp200 (1,81%) ke Rp10.800 per saham. Berikut ini wawancara lengkapnya:

Bulan puasa telah tiba dan lebaran masih dinanti. Seberapa besar korelasi positif dua momentum ini terhadap saham-saham di sektor perdagangan ritel?

Secara umum, momentum puasa dan lebaran terhadap laju saham-saham ritel memang berkorelasi positif tapi tidak terlalu signifikan. Korelasinya hanya antara 43-47%, tergantung pada sahamnya. Karena itu, secara teknikal momentum puasa dan lebaran tidak bisa dijadikan patokan untuk transaksi saham-saham sektor ritel. Dalam beberapa tahun terkahir, tidak setiap puasa dan lebaran, saham-saham ritel mengalami penguatan. Saham-saham ritel tidak ada hubungannya dengan puasa dan lebaran.

Bisa Anda rinci saham per saham?

RALS, pada Agustus atau bulan puasa tahun lalu justru berada dalam tren melemah. RALS justru baru mengalami penguatan signifikan pada bulan November. Lalu, pada puasa 2011, pada September, RALS justru turun. Saya melihat hampir tidak ada saham ritel yang geraknya linier dengan momentum musim puasa dan lebaran. Karena itu, korelasi positif bulan puasa tidak terlalu signifikan terhadap saham-saham sektor ritel.

Pada Agustus 2012, MPPA memang naik. Tapi, pada September 2011 justru turun dan naik pada bulan puasa 2010 dan bulan November 2009 mendatar. Apalagi, MPPA sudah banyak aksi korporasinya yang mempengaruhi gerak sahamnya dibandingkan faktor puasa.

Begitu juga dengan MAPI yang Agustus 2012 turun dan datar pada September 2011 dan melaju datar juga pada bulan puasa 2010. Jadi, secara teknikal, tidak ada kaitan secara langsung bulan puasa dengan penguatan saham-saham sektor ritel.

Bukankah penjualan dari emiten ritel mengalami lonjakan pada momentum puasa dan lebaran?

Memang penjualan emiten bisa saja mengalami lonjakan, tapi tidak terefleksi pada kenaikan harga sahamnya. Correlation coefficient puasa terhadap saham sektor ritel sangat kecil atau tidak terlalu sempurna, di bawah 50% di level 46%. Yang benar-benar terkorelasi jika angkanya mencapai antara 80% hingga 100%.

Jika setiap lebaran saham tersebut naik, artinya punya correlation coefficient 1 (satu) atau 100%. Tapi, faktanya naik-turun bahkan kadang-kadang datar. Jika dalam empat tahun berturut, hampir tidak ada kesamaan pola, menandakan correlation coefficient hampir tidak ada. Di level 50% saja sangat lemah. Apalagi di bawahnya.

Dari sentimen fundamental, kalaupun ekspektasi penjualan meningkat karena faktor puasa, tapi dengan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi yang memicu lambungan inflasi, orang akan lebih mengutamakan makanan dibandingkan pakaian. Mereka yang biasanya membeli baju di Ramayana atau Matahari, seiring tingginya inflasi, bisa saja beralih dan membeli di tempat lain yang lebih murah tapi tetap baju baru.

Kalau begitu, apa saran Anda untuk para pemodal di sektor saham perdagangan ritel?

Untuk saham-saham sektor ritel, kita harus melihat masing-masing saham dan harus punya target resistance di level berapa. Ada lebaran atau tidak, hampir tidak berpengaruh secara teknikal.

Misalnya, MPPA yang penuh dengan aksi korporasi, hampir tidak ada hubungannya dengan lebaran atau tidak. Lebih baik, jika MPPA punya aksi korporasi dan sebagainya, ada peluang menguat.

Lalu, RALS punya gejala penurunan sejak 5 Juni 2013 dan baru belakangan menguat. Tidak cocok, tidak bijaksana jika beli sekarang dengan target jual jelang lebaran. Lebih baik, untuk trading jangka pendek, beli saat baru mengalami kenaikan dan lepas saat baru turun. Jadi, perhatikan fundamental saham per saham dan pergerakan harganya masing-masing. [jin]

Berita Terkait
Kembali ke atas