INILAHKORAN.COM - LINTAS JABAR
twitter facebook
Rabu, 31 Juli 2013 | 20:12 WIB

Warga Paseh Sumedang Protes Galian C

Oleh: Vera Suciati
Warga Paseh Sumedang Protes Galian C
Galian C - inilah.com/Benny Bastiandy

INILAH.COM, Sumedang - Ratusan warga di Desa Legok Kaler, Kecamatan Paseh memprotes keberadaan Galian C jenis batu andesit di daerah mereka. Ratusan warga ini menyampaikan aspirasi melalui audiensi dengan beberapa anggota DPRD Kabupaten Sumedang, di Ruang Rapat Paripurna, Rabu (31/7/2013).

Warga menolak pertambangan di tanah desa tersebut karena takut merusak lingkungan. Apalagi, pertambangan tersebut berada di kaki Gunung Tampomas yang merupakan wilayah resapan air bagi daerah di sekelilingnya.

Salah satu warga Desa Legok Kaler, Lili Suhari (50) mengatakan, galian C di Desa Legok Kaler berada di atas tanah desa seluas 16,2 hektare. Penambangan tersebut sudah berjalan sekitar seminggu yang lalu dengan beberapa alat berat beroperasi di sana. Penambangan tersebut sudah berjalan di tiga lokasi berbeda.

“Lahan tersebut adalah lahan produktif, lahan yang juga digarap oleh warga untuk berkebun. Di tanah itu, ditanam palawija dan terkadang juga warga berhuma,” kata Lili yang juga sebagai Bendahara pada sebuah organisasi lingkungan di lingkungannya, yaitu Tegakkan Aturan Selamatkan Tampomas (Tegas Tampomas).

Menurut Lili, warga juga khawatir penambangan tersebut dapat merusak lingkungan seperti yang sudah terasa akibat penambangan-penambangan di tempat lain. Mata air penduduk dikhawatirkan akan hilang apabila penambangan tersebut diteruskan.

“Di sana, ada mata air penduduk yang juga mengairi empat dusun, yaitu Dusun Sukajadi, Sukananjung, Cisugan, dan Dusun Sukahayu. Keempat dusun itu masuk Desa Paseh Kaler,” kata Lili.

Lokasi penambangan tersebut berjarak sekitar 300 meter dari pemukiman padat penduduk. Penduduk merasakan, keberadaan penduduk tersebut membuat kebisingan dan pencemaran udara. Selain itu, kendaraan yang keluar masuk melintasi Jalan Cileuksa–Legok juga menjadi penyebab kerusakan di jalan tersebut. “Kalau kebisingan ya, pertambangan beroperasi 24 jam siang malam. Selain bising, juga terasa getaran-getaran,” kata Lili.

Sementara itu, Ketua Komisi A DPRD Kabupaten Sumedang Ending Ahmad Sadjidin mengatakan, permintaan warga untuk menutup galian C di desa mereka tidak serta merta dapat dipenuhi dengan waktu singkat. Izin penambangan di Desa Legok Kaler pada saat Bupati Don Murdono.

“Dewan perlu menanyakan kepada Bupati tentang bisa tidaknya izin tersebut dicabut. Jika bisa alasannya kenapa, jika tidak bisa pun alasannya apa,” kata Ending.[jul]

Berita Terkait
Kembali ke atas