NASIONAL
twitter facebook
Jumat, 16 Agustus 2013 | 07:40 WIB

GMKN Minta SBY Bubarkan SKK Migas

Oleh: Firman Qusnul Yakin
GMKN Minta SBY Bubarkan SKK Migas
Ketua Umum PP Muhammadiyah M Din Syamsuddin - (Foto: inilah.com/Agus Priatna)

INILAH.COM, Jakarta - Sejumlah tokoh nasional yang tergabung dalam Gerakan Menegakan Kedaulatan Negara (GMKN) menilai Menteri ESDM Jero Wacik dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bertanggungjawab atas kasus korupsi minyak dan gas (migas) termasuk yang menjerat Kepala Satuan Kerja Sementara Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Rudi Rubiandini.

Tokoh nasional tersebut di antaranya, Ketua Umum PP Muhammadiyah M Din Syamsuddin, selaku Koordinator GMKN dengan anggota politisi senior Partai Golkar Fahmi Idris, mantan Menteri Keuangan Fuad Bawazier, mantan Ketua MK Mahfud MD, Wakil Sekjen Golkar Ali Mukhtar Ngabalin, Koordinator Indonesian Resources Studies (IRESS) Marwan Batubara, Nyoman Udayana, Selamet Rujito, dan beberapa Tokoh Masyarakat lainnya.

Din Syamsuddin menyatakan, sebagai Ketua Komisi Pengawas SKK Migas Jero Wacik yang juga Menteri ESDM dinilai lalai. Karena tidak menunaikan kewajibannya sehingga menimbulkan penyimpangan dan korupsi termasuk penerimaan suap Rudi Rubiandini.

"Dia (Jero Wacik) juga harusnya tanggung jawab. Harus ada tindakan," kata Din di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (15/8/13).

Meski demikian Din mengaku belum mengetahui sejauh mana keterlibatan Jero Wacik dalam kasus Rudi. Semua tergantung pembuktian KPK.

"Ini bukan soal jumlah (suap) tapi korupsi yang terjadi di dunia migas. Ini seperti puncak gunung es. Di atas terlihat kecil di bawahnya lebih besar lagi. Maka itu kita dorong KPK untuk menyelesaikan," tandasnya.

Din bersama sejumlah Tokoh itu akan mendesak SBY untuk membubarkan SKK Migas karena itu hanya peralihan dari BP Migas, yang telah dibubarkan oleh Mahkamah Konstitusi.

Sebelumnya, Wakil Ketua KPK Bidang Penindakan Bambang Widjojanto menyatakan, langkah itu dilakukan pasca KPK menetapkan Rudi sebagai tersangka bersama dengan dua pihak swasta yakni Ardi (A) dan pemilik perusahaan berinisial KOPL (Kortel Oil), Simon.

Dugaan keterlibatan pihak lain muncul, lantaran uang suap yang diberikan untuk Rudi terbilang besar.

Penyidik KPK menemukan uang senilai USD690 ribu dan 127 dolar Singapura di rumah Rudi dan A. Uang itu diberikan S kepada Rudi melalui perantara A.

Ketiga orang itu, kini sudah menjadi tersangka. KPK pun memastikan, peluang menjerat pihak lain terbuka. Musababnya, proses penyidikan masih berjalan.[dit]

Berita Terkait
Kembali ke atas