INILAHKORAN.COM - LINTAS JABAR
twitter facebook
Jumat, 30 Agustus 2013 | 17:09 WIB

Cimanggung dan Jatinangor Mulai Kekeringan

Oleh: Vera Suciati
Cimanggung dan Jatinangor Mulai Kekeringan
ilustrasi

INILAH.COM, Sumedang - Kecamatan Jatinangor dan Cimanggung mulai kekeringan di awal musim kemarau ini. Dua wilayah di arah barat Sumedang ini memang selalu terkendala air saat musim kemarau.

Padatnya penduduk dan melimpahnya bangunan di kawasan pendidikan dan industri ini membuat ketersediaan air selalu kurang. Beruntung, saat musim hujan, Cimanggung berbeda dengan Jatinagor yang sudah jarang kebanjiran karena sudah ada normalisasi sungai Cimande.

Kebutuhan air di Jatinangor untuk kategori air tanah dangkal mencapai 2.619.933 meter kubik per tahun, sementara ketersediaannya hanya 18.890.649 meter kubik/tahun.

Untuk air tanah dalam pengambilan air yang dilakukan setiap tahun mencapai 4.600.000 meterkubik pertahun dari ketersediaan hanya 2 juta meterkubik pertahunnya.

Pengambilan air tanah dalam yang melebihi kapasitas membuat air tanah dangkal selalu kekurangan dan sehingga menyebabkan kekeringan pada musim kemarau. Air tanah dangkal ini menyusut hingga 3 meter pertahunnya.

Cimanggung menggunakan air tanah dalam lebih banyak lagi mengingat banyak perusahaan industri yang membutuhkan jutaan meter kubik per tahunnya hanya untuk kebutuhan industri saja.

“Ketersediaan air di Jatinangor sebenarnya sudah tidak sebanding dengan kebutuhannya, sementara saat ini solusinya hanya membuat sumur artesis oleh pengusaha dengan kedalaman hingga 150 meter,” kata Kepala Bagian Hubungan Masyarakat (Kabag Humas) PDAM Tirta Medal Sumedang, Cece Wahyu Gumelar, Jumat (30/8/2013).

Sementara, keberadaan sumber mata air pun tidak terlalu membantu. Debit mata air di Gunung Manglayang semakin berkurang debit airnya .

“Dengan pola konsumsi seperti itu sementara tak ada treatmen pengelolaan air, musim kemarau yang melanda wilayah Sumedang dalam sepekan ini, akan semakin berdampak terhadap penurunan debit air di beberapa sumber air di Jatinangor,” kata Cece.

Kekeringan terjadi di antaranya di Desa Cihanjuang, Pasir Nanjung dan Desa Sindangpakuon Kecamatan Cimanggung. Warga kebingungan setiap memasuki musim kemarau karena selalu kesulitan air bersih untuk rumah tagga dan megaliri pesawahan. Untuk keperluan sehari-hari saja, warga terpaksa memanfaatkan air di Sungai Cimande.

"Air bersih yang ada tak bisa mencukupi untuk mengaliri area pesawahan. Jangankan untuk mencuci pakaian, mau mandi saja kami kesulitan," kata Ujar Jamaludin, warga Desa Pasirnanjung.

Warga di Perum Griya Jatinangor 1 Desa Sukarapih Kecamatan Sukasari juga sudah merasakan kesulitan air bersih ini.

"Sumber air dari Goa walet yang berlokasi di Desa Genteng Kecamatan Sukasari sebagai pemasok air untuk PDAM debitnya menyusut. Sehingga, PDAM pun ikut kebingungan karena terbatasnya volume air yang akan disalurkan ke pelanggannya," kata Maqbul. [gin]

Berita Terkait
Kembali ke atas