LAINNYA
twitter facebook
Sabtu, 27 September 2008 | 13:39 WIB

Kisah Tragis Gitta Sessa Wanda Cantika

Oleh:
Kisah Tragis Gitta Sessa Wanda Cantika
Hari ini, secara tidak sengaja saya masuk dalam sebuah forum besar di Indonesia bernama Kaskus. Saya tertarik sebuah artikel yang melukiskan seorang pria yang menangis dua hari dua malam karena membaca sebuah buku berjudul Surat Kecil Untuk Tuhan.

Awalnya, saya sempat curiga apakah orang ini hanya ingin mencari sensasi atau ingin mencari perhatian dari pembaca-pembaca di forum tersebut.

Walau memang saya sempat melihat resensi singkat buku yang berdasarkan kisah nyata tersebut.

Saya hanya tersenyum kecil ketika orang itu begitu sayangnya terhadap buku itu lalu mengambil foto bersama dan memajangnya di forum sehingga menjadi celaan rekan-rekan pembaca forum tersebut. Keesokan harinya, saya mampir ke toko buku Gramedia di mal Ciputra.

Saya iseng-iseng mencari buku itu dan membuktikan apakah benar sedemikian mengharukannya. Gambar cover buku itu cukup sejuk dilihat dan terdapat tulisan yang melukiskan kisah diary sang tokoh dalam buku tersebut.

Harga Rp 35.000, cukup lumayan, akan tetapi melihat buku itu juga dibuat untuk amal saya pun membelinya dengan harapan amal ibadah saya terhadap buku itu dapat digunakan untuk membantu para penderita kanker yang kurang mampu.

Saya sudah tidak sabar melihat isi buku tersebut yang ditulis seorang novelis bernama Agnes Davonar. Sepanjang perjalanan dengan bus transjakarta saya membaca buku itu dan sebuah puisi yang cukup mengharukan terlukis pada baris pertama buku tersebut.

Buku itu juga dipasang beberapa foto sang tokoh bernama Gitta Sessa Wanda Cantika, gadis itu tidak asing rasanya bagi saya. Dan ternyata memang benar. Gadis itu pernah menjadi artis cilik jamannya Trio Kwek-kwek masih ngetop.

Mencapai baris ke 15 halaman buku tersebut, tanpa sadar saya terhanyut dalam perjalanan gadis cantik yang begitu tragis. Saya tak dapat menahan haru dan menangis sepanjang perjalanan dari Ciputra menuju Harmoni. Tangis kecil membuat saya malu karena beberapa penumpang bis pasti berpikir saya sedang menangis karena putus cinta.

Saya berusaha menahan haru, kemudian berpikir tidak mungkin saya menangis di dalam bis dan akhirnya saya putuskan untuk membawa pulang dan membaca di rumah saja.

Sungguh buku yang tidak dapat saya lukisan betapa sangat penuh emosional, buku ini mengajarkan saya tentang arti kehidupan.

Ketabahan seorang manusia terhadap cobaan Tuhan. Tanpa mengeluh dan tanpa menangis, Gitta seolah ingin mengajak semua orang di dunia ini untuk sadar akan kebesaran Tuhan, hal itu ditunjukkan ketika ia berhasil lolos dari kanker pertamanya.

Namun sayang, akhirnya kanker kedua mengakhiri hidupnya. Dan Surat terakhirnya kepada Tuhan inilah yang membuat saya menangis tiada henti. Hati gadis cilik yang masih sangat belia dapat berkata kepada Tuhan untuk membiarkan dirinya menjadi orang terakhir yang mengalami sakit seperti ini, dan biarkan semua orang di dunia ini tidak merasakan apa yang ia rasakan.

Mungkin bagi semua yang ingin merasakan arti
kehidupan dan menikmati akhir dari bulan suci ini dengan mudik. Buku ini layak menjadi teman ataupun kado bagi mereka yang mengalami cobaan untuk kuat dan berharap keajaiban selalu ada bagi siapapun yang percaya akan kebesaran Tuhan.

Angel Momo, angelmomoku@yahoo.com
Berita Terkait
Kembali ke atas