EKONOMI
twitter facebook
Rabu, 13 Oktober 2010 | 20:43 WIB

Pangsa Pasar Indomie Terus Tergerus

Oleh: Ahmad Munjin
Pangsa Pasar Indomie Terus Tergerus
inilah.com/Wirasatria
INILAH.COM, Jakarta - Pangsa pasar Indomie bisa terus tergerus. Selain karena faktor agresifnya promosi para pesaingnya, isu negatif seperti pengawet berbahaya bisa menjadi ancaman.
Pasar mie instan di Indonesia memang menggiurkan. Ketergantungan masyarakat RI terhadap mie cepat saji ini cukup besar. Lihat saja, berdasarkan data dari Euromonitor International pada Januri 2010, market size untuk segmen mie di Indonesia terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahan.
Tidak heran, banyak perusahaan baru melirik pasar mie instan. Sejak 1999 hingga tahun 2004, angkanya terus mengalami kenaikan mencapai 9% dari total nilai penjualan di sektor ritel.
Nilainya naik dari Rp6,1 triliun pada 1999 jadi Rp9,4 triliun di 2004. Apalagi, sejak 2004 hingga 2009 justru mengalami kenaikan pesat ke level 15% atau setara dengan Rp15,9 triliun.
Memang, hingga saat ini Indomie yang diproduksi PT Indofood Sukses Makmur Tbk masih menguasai pasar. Namun, meski dominasinya begitu kuat, pangsa pasarnya sudah kian tergerus. Jika di 2002 Indomie menguasai sekitar 90% pangsa pasar mi instan, tahun 2004 menurun menjadi 75%. Saat itu, 25% sisanya dikeroyok merek mie instan lainnya.
Saat ini, di penghujung 2010, pangsa pasar Indomie tinggal 60% dan 20% dikuasai Mie Sedap yang diproduksi oleh PT Sayap Mas Utama (grup Wingsfood). Sedangkan, 20% sisanya, dikuasai pemain-pemain kecil.
Kemunduran Indomie itu patut diwaspadai. Sebab, Mie Sedap, meski produk ini baru diluncurkan pada Mei 2003 dan baru didistribusikan di Pulau Jawa dan Bali, namanya tenar di kalangan pembeli di warung-warung, bahkan swalayan.
Apalagi, baru-baru ini muncul larangan peredaran Indomie di Taiwan. Taiwan menyatakan, zat pengawet hidroksi asam benzoat yang digunakan pada kosmetika, ditemukan dalam Indomie. Zat itu berada di bumbu kecap.
Janson Nasrial, analis fundamental dari AmCapital Indonesia mengatakan, isu bahan pengawet berbahaya bagi kesehatan yang terkandung dalam kecap Indomie bisa menggerus pangsa pasar Indomie.
Apalagi, jika isu itu tidak diselesaikan dengan baik oleh pihak manajemen. Kalau pihak manajemen bisa mengatasi, tergerusnya pangsa pasar hanya sesaat saja, katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Selasa (12/10).
Secara pribadi, Janson menengarai, penarikan produk Indomie di pasar Taiwan dan Hong Kong karena adanya unsur persaingan dagang yang tidak sehat. Sebab, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) RI sendiri sudah menyatakan, Indomie masih aman dikonsumsi.
Selain ke Taiwan dan Hong Kong, Indomie juga sudah diekspor ke AS selama 20 tahun. Menurutnya, selama itu pula tidak pernah terjadi komplain. Karena itu, jika isu di Taiwan bisa diatasi, Indomie bisa mempertahankan posisi pangsa pasarnya.
Dari sisi brand awareness pun, masyarakat lebih mengenal Indomie dibandingkan merek lain. Laporan kinerja keuangan untuk kuartal ketiga pun diperkirakan lebih baik dari kuartal dua. Di kuartal tiga, ditunjang oleh faktor konsumsi selama lebaran dan bulan puasa, timpalnya.
Indomie juga mendapat dukungan dari faktor inelastic demand. Pada saat yang sama, berdasarkan survei majalah SWA, total consumer satisfaction Indomie paling tinggi di antara pemain-pemain mie instan lainnya, ungkapnya.
Lalu, dari sisi biaya imported material bisa ditekan akibat penguatan rupiah. Beban bunga Indofood juga semakin berkurang, setelah divestasi PT Indofood CBP Sukses Makmur, tuturnya.
Sebelumnya, pakar pemasaran Rhenald Kasali mengatakan, manajemen Indomie harus meningkatkan kewaspadaan karena Mie Sedap melakukan promosi sangat agresif.
Gebrakannya luar biasa, harganya pun di bawah Indomie, ditambah keunggulan-keunggulan lain. Saya rasa persaingan pasar mie instan akan semakin ketat, tandas Rhenald. [mdr]
Kembali ke atas