KARIKATUR

Selasa, 24 Mei 2011 | 15:34 WIB

Cinta Semata

Karim Raslan
Cinta Semata

Ada saat-saat bahkan di Indonesia sekalipun apa yang kita lihat adalah apa yang kita dapatkan; tidak ada gunanya mencari makna tersembunyi, karena semuanya sudah terlihat jelas.

Ironisnya, penulis seperti saya tidak terbiasa dengan komunikasi langsung dan tanpa basa basi seperti itu. Hal itu membuat kita merasa khawatir dan tidak nyaman: pasti kita melewatkan sesuatu.

Beberapa minggu lalu pada sebuah malam yang diguyur hujan, saya menghadiri pameran seni di Galeri Soermadja Institut Teknologi Bandung. Saya mengalami semacam pencerahan ketika seorang perempuan paruh baya yang periang, bertubuh bugar dan berambut mengembang bagai Rapunzel, menjelaskan pada saya bahwa lukisan yang sedang saya pandangi adalah tentang cinta.

Pada Sabtu malam itu, dan saya berada di sana sebagai seorang kolektor seni, sekaligus sebagai direktur dan pemegang saham dari sebuah galeri pribadi yang menjadi salah satu penyelenggara dalam pameran tersebut.

Namun karena saya tidak terlibat menjadi kurator, saya hanya sempat melihat sekilas saja sejumlah lukisan yang dipamerkan. Lukisan-lukisan ini adalah langkah besar bagi pelukisnya, M. Irfan, mantan anggota Jendela, sebuah kelompok seniman yang sudah tidak asing lagi.

Dahulu, karya Irfan dilukis di atas kanvas berukuran sangat besar, dengan penggambaran seperti uap kereta ala Dr. Zhivago, yang membentuk pemandangan suram dan kelam.

Gambar-gambar aneh dan membingungkan yang ditampilkan itu menimbulkan berbagai pertanyaan tanpa jawaban: apakah lukisan-lukisan ini merayakan era industrial atau hanya sebuah essay gambar dalam keindahan yang kasar?

Apapun itu, karya-karya Irfan sebelumnya sangat disukai para kolektor dan sering muncul dalam berbagai acara lelang.

Kali ini, karya Irfan sangat berbeda: terlihat lebih hidup, lebih manusiawi bahkan dekoratif. Seperti sudah diduga, banyak orang yang tidak puas dengan perubahan ini, serta dengan konsep Irfan untuk pamerannya 'Apa sih yang si 'Fan coba lakukan?, 'Maksudnya apa? Maknanya apa?

Saat itu saya hanya menggelengkan kepala dan benar-benar tidak mengerti. Sejak saya mulai banyak menghabiskan waktu di Indonesia, saya menjadi terbiasa hidup di lingkungan serba gamang dan tidak menentu.

Walaupun kadang saya merindukan transparansi dan kejelasan dari berbagai kelompok masyarakat lainnya, saya belajar untuk mencintai berbagai lapisan makna yang halus, sesuatu yang sangat Indonesia.

Bahkan, di negara yang terkenal dengan keanekaragaman warna (merah, hijau, biru, dll), abu-abu tetap menjadi warna paling cocok mencerminkan bagaimana kebenaran didistilasi.

Bagaimanapun juga, di Indonesia, dan khususnya Jawa, kata 'iya' seringkali berarti 'tidak', dan 'tidak' hampir dipastikan tidak pernah berarti 'iya'. Kita jadi terbiasa mengamati sebuah peristiwa seperti menggunakan lensa yang gelap dan kabur.

Meski demikian, karena semua orang di galeri para kolektor, kurator, penulis, pelukis dan mahasiswa tampaknya sedang mencari makna lebih tinggi yang susah dicari ini, saya ikut saja dengan mereka.

Pertama-tama, saya memperhatikan bahwa rangkaian gambar uap kereta sudah tergantikan dengan pesawat tempur dan pesawat pengebom, hutan yang dipenuhi kupu-kupu dan beberapa potret istri dan anak-anaknya. Bahkan ada sebuah lukisan tentang Irfan dan istrinya sedang membersihkan senapan. Menarik...

Saat itulah saya bertemu dengan istri dari tamu kehormatan si wanita dengan rambut seperti Medusa. Saat itu dia kebetulan sedang memandangi salah satu patung yang terbuat dari bahan fiberglass sebuah potret diri dari sang seniman, yang sedang memandang ke atas dengan tatapan penuh kasih sayang.

"Lihat," katanya sambil menunjuk judul patung itu. "Judulnya Honey Im Home. Pembuatnya, Irfan, sangat sayang pada istrinya. Semua karya ini tentang jatuh cinta. Saya bahkan sudah memasang foto patung ini di homepage saya! katanya bangga.

Dan waktu dia sedang berbicara itu, saya menyadari betapa bodoh dan butanya saya. Karya-karya Irfan begitu lugas sebuah penghormatan bagi istri dan keluarganya, serta sebuah perayaan cinta dan rumah tangga.

Saya, beserta para peserta pameran yang 'melek seni lainnya, selalu berusaha menjadi pintar dan rumit. Kita mencari sesuatu yang tidak ada, sementara kebenaran cinta ada di depan mata kita.

Lalu saya berkeliling ruang pameran untuk kedua kalinya, dengan mata terbuka, kanvas-kanvas itu seketika tampak hidup dan saya mengalami sendiri sukacita Irfan dalam kekuatan cinta yang terhempas bebas dan mengaliri seluruh ruangan.

Terkadang, di Indonesia, apa yang kita lihat adalah apa yang kita dapatkan, dan dalam hal ini, "Yang kita butuhkan hanya cinta semata... [mor]

BERITA TERKAIT
Lintasarta Kumpulkan 10 Startup dari Jawa Timur
(Orangtua Sibuk) Siapkan Waktu 15 Menit untuk Bermain dengan Anak
(Hong Kong Terbuka) Ahsan/Hendra ke Babak Kedua, Ihsan Tersisih
Band Asal Bengkulu Ini Siap Warnai Belantika Musik
(Ungkap Sabu 12 Kg) Kapolda Puji Kinerja Satreskrim Polres Surabaya
Insentif Guru TPQ di Tuban Bakal Naik 100 Persen
Ciptakan Suasana Kerja Seru di Coworking Space

ke atas