GAYA HIDUP

Jumat, 15 Juli 2011 | 08:45 WIB

Awas, Diabetes Militus juga Bisa Serang Anak

Dahlia Krisnamurti
Awas, Diabetes Militus juga Bisa Serang Anak

INILAH.COM,Jakarta - Penyakit Diabetes Melitus (DM) khususnya tipe 2 yang bukan faktor keturunan kini tak hanya menyerang orang dewasa, tetapi juga anak-anak dan remaja.

Ironisnya lagi, diabetes pada anak sulit dideteksi, sehingga tidak bisa dicegah sejak dini. Tidak ada tanda-tanda khusus dari seorang bayi yang memiliki potensi terkena diabetes saat usia dewasa, seorang anak baru akan terdeteksi menderita diabetes pada usia tujuh tahun ke atas.

Hal itu ditandai sejumlah gejala yang mirip dengan gejala diare seperti muntah,sering buang air besar, kesadaran menurun (koma), dehidrasi berat, dan kejang-kejang dan sebagainya.

Namun bedanya, nafas si anak berbau asam (aseton). Kondisi itulah yang membuat orang tua terkadang salah dalam menilai kondisi kesehatan buah hatinya.

Banyak orang tua melihat gejala yang terjadi pada anaknya sebagai diare berat. Padahal dia sudah terserang diabetes. Tidak jarang anak penderita diabetes dibawa ke rumah sakit dalam keadaan koma.

Untuk mengantisipasi hal itu, orangtua harus memperhatikan kebiasaan makan dan aktivitas fisik anaknya di rumah. Selain juga memperhatikan perkembangan berat badan anak tersebut.

Anak yang terindikasi menderita DM biasanya sering cepat, merasa lapar dan haus, buang air kecilnya banyak dan berat badannya tidak pernah naik.

Berbanding terbalik dengan untuk DM tipe 1 pada anak bisa dikenali sejak awal. Yang jadi masalah adalah orangtua yang tidak memiliki riwayat DM, biasanya lalai menjaga kesehatan anaknya sehingga kegemukan dan berpotensi terkena DM tipe 2.

Tidak semua anak obesitas memiliki peluang terkena DM. Namun anak obesitas yang memiliki orangtua diabetes memiliki peluang besar untuk terkena penyakit yang sama dengan orangtuanya tersebut.

Gejala awal DM biasa disebut dengan 3 P, yakni polifagi (banyak makan), polidipsi (banyak minum), dan poliuri (banyak kencing).

Gejala lain yang harus diwaspadai orang tua adalah jika si kecil tiba-tiba ngompol. Misalnya, sudah 3-4 tahun anak tidak ngompol, lalu mendadak, kok, ngompol lagi. Nah, itu harus dicurigai sebagai gejala diabetes.

DM tipe I bisa muncul sejak usia dini, bahkan bayi sekali pun. Cuma, kalau masih kecil, meski kekurangan insulin, biasanya tidak banyak. Jadi, tidak terlalu tampak meski kadar gulanya naik. Baru setelah anak semakin besar, makin kelihatan karena kebutuhan insulinnya makin banyak.

Apalagi kalau orangtua tidak mampu menjaga berat badan anaknya sehingga terkena obesitas. Anak-anak sekarang, hobi makan junk food yang jumlah kalorinya sangat besar. Tanpa serat, isinya hanya protein, lemak, dan karbohidrat. Kalau dihitung, bisa ribuan kalori per porsi. Padahal seharusnya porsi untuk sehari, sementara kalori yang dikeluarkan tidak sebanyak yang diasup.

Anak penderita DM tak boleh melakukan diet ketat sebagaimana orang dewasa. Yang harus dihindari adalah makanan bersifat high glisemic index yang menguras insulin.

Dan sebaliknya, harus memperbanyak makanan berserat. Jangan makan makanan yang minim kalori sehingga kadar gula darah terlalu rendah atau hipoglikemia yang bisa menyebabkan pingsan. Ini membahayakan.

DM tipe 1 memang tidak bisa dihindari. Namun DM tipe 2 bisa dihindari melalui pola hidup yang baik dan benar, yaitu membatasi makanan dan melakukan olahraga secara teratur.

Ajaklah anak untuk mendapatkan aktivitas fisik yang teratur, tapi ingat bahwa aktivitas fisik bisa mempengaruhi kadar gula darah hingga 12 jam setelah latihan.

Karenanya jika ingin memulai aktivitas yang baru, periksalah kadar gula darah lebih sering dari biasanya untuk melihat bagaimana tubuh bereaksi terhadap kegiatan tersebut.

Meskipun diabetes tipe 1 ini membutuhkan perawatan konsisten, tapi seiring kemajuan teknologi dalam memantau kadar gula darah dan pengiriman insulin bisa memudahkan monitoringnya. Dengan perawatan yang tepat, anak-anak dengan diabetes tipe 1 bisa memiliki harapan untuk hidup lebih lama. [mor]

#diabetes militus
BERITA TERKAIT
Pentingnya Momen Kedekatan Anak dengan Orangtua
Ini Cara Besarkan Anak Agar Tidak Mem-Bully
Masalah Kulit yang Dialami Saat Hamil
Cara Ajarkan si Kecil Terima Kekalahan
Cara Atasi Flu Saat Hamil
200 Jemaah Haji Palembang Ikut Pembinaan Kesehatan
(FOOD SENSE) Tempat Instagramable di MKG

kembali ke atas