PASAR MODAL

Jumat, 15 Juli 2011 | 18:32 WIB

Pernyataan Bernanke Bingungkan Pasar

Ahmad Munjin
Pernyataan Bernanke Bingungkan Pasar
inilah.com/Agus Priatna

INILAH.COM, Jakarta Rupiah bergerak mendatar meski indeks saham domestik mencetak rekor baru. Pernyataan Gubernur The Fed Ben Bernanke dua hari terakhir cukup membingungkan pasar.

Periset dan analis senior PT Monex Investindo Futures mengatakan, pergerakan rupiah secara umum hari ini tidak bergerak banyak (sideways). Menurutnya, market cukup berhati-hati di tengah tidak jelasnya sentimen ekonomi global.

Hanya saja, lanjut Firman, investor cukup optimistis ekonomi Indonesia bisa mengarungi gejolak ekonomi global. "Karena itu, sepanjang perdagangan rupiah tidak bergerak banyak dengan level terkuat 8.525 dan 8.548 sebagai level terlemahnya, katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (15/7).

Kurs rupiah $ di pasar spot valas antar bank Jakarta, Jumat (15/7) ditutup menguat tipis 1 poin (0,01%) ke level 8.529/8.539 per dolar AS dari posisi kemarin 8.530/8.540.

Lebih jauh dia mengatakan, kemarin rupiah menguat signifikan seiring statemen gubernur The Fed Ben Bernanke yang mengisyaratkan bahwa The Fed bersiap-siap mengucurkan stimulus ekonomi atau Quantitative Easing (QE) ketiga. "Hanya saja, pernyataan Bernanke tadi malam, menafikan pernyataan sebelumnya itu," ungkapnya.

Bank sentral AS belum memiliki rencana untuk mengambil tindakan apapun untuk menopang pemulihan ekonomi. Pernyataan itu, menghilangkan ekspektasi adanya QE ketiga dalam waktu dekat. "Kondisi itu sempat memicu penguatan dolar AS," tandasnya.

Namun, lanjutnya, mata uang AS itu kembali melemah setelah lembaga pemeringkat Standard & Poor's seperti halnya dilakukan Moody's Investor Service tengah me-review untuk men-downgrade peringkat kredit AS jika batas atas utang AS tidak mencapai kata sepakat antara Washington dengan Capital Hills. "Walaupun tiap hari mereka bertemu, tapi belum ada sinyal perbaikan yang mengarah pada kata sepakat," tandasnya.

Sementara itu, lanjut Firman, dari Eropa malam ini, akan dirilis hasil uji ketahanan perbankan Uni Eropa. Karena itu, pelaku pasar enggan mengambil posisi dalam jumlah besar. "Dirumorkan ada 51 bank di Erpoa yang tidak lulus stress test. Tapi, biasanya, perkiraan pasar selalu jauh berbeda dengan rilisnya. Sebab, pasar memiliki pertimbangan dan alasan yang berbeda," ucapnya.

Alhasil, dolar AS ditransaksikan variatif (mixed) terhadap mayoritas mata uang utama. Tapi, terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa), dolar AS melemah. "Dolar AS melemah ke level US$1,4150 dari posisi sebelumnya US$1,4142 per euro," imbuh Firman.

Dari bursa saham, Head of Research Division PT Universal Broker Indonesia Satrio Utomo menilai positif penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ^JKSE) sebesar 25,49 poin (0,64%) ke level 4.023,122. Tren kenaikan IHSG belum mau takluk, ujarnya.

Tapi, bursa regional terlihat kebingungan menyikapi koreksi yang terjadi pada indeks Dow Jones Industrial (DJI) semalam. Indeks Nikkei masih naik, Hangseng malah bikin signal bearish setelah ditutup di bawah suport 21.900. Baguslah IHSG bisa mencetak rekor baru, imbuhnya.

Hanya saja, lanjut Satrio, saham PT Astra Internasional (ASII.JK) sudah memasuki kisaran resisten di Rp70.000-70.400. Lalu, PT Bank Mandiri (BMRI.JK) juga sudah memasuki kisaran resisten Rp8.000-8.200. Rasa-rasanya kita butuh sentimen positif yang lebih banyak jika kita berharap IHSG bisa menembus kisaran resisten 4.040-4.050. Dan hingga sore ini, saya tidak melihat sentimen positif itu, imbuhnya. [mdr]

#rupiah #valas #ihsg
BERITA TERKAIT
Inilah Penopang Penguatan Harga Minyak Mentah
Harga Emas Turun Tunggu Kebijakan Baru Fed
Saham Boeing dan Facebook Batasi Wall Street
Wall Street Bisa Bergerak Variatif
IHSG Akhirnya Naik 0,7% ke 6.509,44
Bursa Asia Mampu Catat Kenaikan
BEI Targetkan Jumlah Investor Syariah Naik 100%

ke atas