NASIONAL

Senin, 18 Juli 2011 | 00:43 WIB
(As'ad Said Ali)

Biasa Urus yang Tak Terlihat

R Ferdian Andi R
Biasa Urus yang Tak Terlihat
As'ad Said Ali gp-ansor.org

INILAH.COM, Jakarta - Perayaan Hari Lahir 85 Nahdlatul Ulama (NU) di Gelora Bung Karno (GBK) Minggu (17/7/2011) cukup meriah. Presiden SBY dan para pejabat negara menghadiri perayaan ulang tahun tersebut. Ada tangan dingin di balik sukses acara tersebut.

Adalah As'ad Said Ali, Wakil Ketua Umum PBNU yang juga menjadi Ketua Panitia Harlah 85 NU. Berkat tangan dinginnya, rangkaian acara yang telah dimulai sejak Juni lalu berjalan sukses. Mulai seminar yang dilakukan di sejumlah kota besar seperti di Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Jakarta. Puncak dari rangkaian acara tersebut dengan menggelar rapat akbar di GBK.

Namun, ada sedikit insiden saat pembukaan Apel Akbar di GBK. Saat Presiden SBY tiba di lokasi acara sekitar pukul 13.00, warga nahdliyin yang telah berkumpul sejak pagi sekitar pukul 09.00 mulai meninggalkan lokasi. Di samping karena cuaca yang tak bersahabat karena terik matahari, warga NU tampak kelelahan.

Akibatnya, saat pembukaan acara, warga NU hanya tersisa sekitar 5.000-an orang. Padahal pagi harinya, dalam hitungan panitia, warga NU yang berkumpul di GBK berjumlah sekitar 130 ribu orang. Jelas jumlah peserta menurun drastis.

Nah, saat giliran sambutan Ketua Panitia, As'ad Said Ali secara terus terang meminta maaf kepada Presiden SBY terkait massa NU yang mulai bubar saat acara pembukaan. "Bapak Presiden, kami mohon maaf, karena peserta sudah berkurang. Banyak yang membawa anak-anak kecil," kelit As'ad saat memberi sambutan di GBK.

Dia melanjutkan, selain karena membawa anak kecil, para peserta meninggalkan lokasi apel akbar dikarenakan hawa panas dan melaksanakan ibadah salat dzuhur. "Mungkin juga salat, dan gerah berada di dalam, sehingga keluar," tambah As'ad.

Dia pun mengakui repot juga mengurus warga dan memobilisasi massa dalam Harlah NU ini. Dia mengakui tidak biasa mengurus yang tak tampak. "Nah, saat ini mengurus yang tampak, jadi belum terbiasa," katanya.

Bagi awam, memang sulit mencerna pernyataan As'ad. Namun jika menilik latar belakang As'ad, sebelum aktif di PBNU, As'ad merupakan Wakil Ketua Badan Intelejen Negara (BIN) di era AM Hendropriyono. Istilah 'tak tampak' yang disampaikan As'ad terkait kerja intelejen yang identik dengan pekerjaan yang cenderung tertutup, rahasia, dan senyap.

Aktivitas As'ad di PBNU jelas berbeda 180 derajat dengan di BIN. Aktivitas di NU menuntut pelibatan aktif dan bersingunggan dengan banyak orang. Maka tak salah, jika As'ad mohon pemakluman Presiden SBY bila warga NU keluar dari GBK saat acara dimulai. [mdr]

#As'ad Said Ali #nu #nahdlatul ulama
BERITA TERKAIT
Gibran Maju Pilwako, Dinilai Munculnya Dinasti
PKS Sarankan Gibran Kembangkan Bisnisnya
Potongan Tulang Manusia di Mojokerto Sejak 2004
PKS Harap Gibran Tak Seperti Putra Mantan Presiden
Waspadai Cuaca Ekstrem di Banyuwangi
Wakapolri Resmikan Polda Bengkulu Jadi Tipe A
Kejaksaan Tangkap Buronan Korupsi PT PLN Batubara

kembali ke atas