PASAR MODAL

Senin, 25 Juli 2011 | 18:36 WIB

Pasar Panik Soal Utang Atlantik Eropa & AS

Ahmad Munjin
Pasar Panik Soal Utang Atlantik Eropa & AS
inilah.com

INILAH.COM, Jakarta Rupiah mendarat di teritori positif namun IHSG justru melemah. Secara global pasar panik atas alotnya kenaikan batas atas utang AS yang mengarah pada gagal bayar. Eropa pun kondisinya sama.

Periset dan analis senior PT Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, penguatan rupiah hari ini dipicu adanya harapan pasar bahwa ekonomi Indonesia bisa terlindungi dari gejolak ekonomi global. Sebab, pada awal Agustus bakal dirilis data inflasi dan ekspor impor yang diekspektasikan positif sehingga memicu optimisme pasar.

Karena itu, lanjutnya, rupiah ditutup di level terkuatnya 8.518 dan 8.531 sebagai level terlemahnya. "Tapi, secara global, market saat ini panik terkait krisis utang di kedua belah Atlantik baik Amerika maupun Eropa," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Senin (25/7).

Menurut Firman, sentimen regional variatif dalam artian tidak ada yang dominan. Sebab, baik sentimen AS maupun Eropa sama-sama negatif. Kurs rupiah $ di pasar spot valas antar bank Jakarta, Senin (25/7) ditutup menguat tipis 4 poin (0,04%) ke level 8.518/8.528 per dolar AS dari posisi sebelumnya 8.522/8.532.

Dia memaparkan, pada Jumat (22/7) pasar berharap AS sudah menyepakati kenaikan batas utangnya dan ternyata tidak. "Masing-masing pihak justru masih keukeuh dengan proposal masing-masing Partai (Republik dan Demokrat)," ungkap Firman.

Sementara itu, pasar juga belum begitu yakin dengan bailout Yunani apakah akan berjalan dengan mulus atau tidak. Apalagi, tadi siang lembaga pemeringkat Moody's Investor Service men-downgrade peringkat utang Yunani sebanyak 3 notes dari Caa1 ke Ca pada Senin (25/7) yang merupakan level terendah atau hanya satu note di atas default.

Moody's juga menyatakan, kemungkinan default sekarang 'hampir 100%' dengan outlook developing. "Itu menunjukkan ketidakpastian terkini tentang nilai pasar obligasi Yunani yang sesungguhnya dari pihak kreditur," ucap Firman.

Alhasil, lanjut Firman, dolar AS sideways terhadap mayoritas mata uang utama. Hal ini tampak dari indeks dolar AS yang tidak bergerak jauh dari level 74,150. "Hanya saja, terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa) dolar AS menguat ke level US$1,4372 dari posisi akhir pekan lalu US$1,4396 per euro akibat downgrade Yunani," imbuh Firman.

Dari bursa saham, analis Sekuritas Ekokapital Cece Ridwanullah mengatakan, pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ^JKSE) hari ini sebesar 19,73 poin (0,48%) ke level 4.087,094 merupakan suatu hal yang normal. Sebab, IHSG sendiri sudah overbought (jenuh beli).

Kondisi itu, seiring juga dengan bursa AS yang bergerak variatif (mixed) sehingga bursa Asia pun tadi pagi dibuka minus dan IHSG pun turut melemah. Di sisi lain, lanjutnya, pasar juga masih ketar-ketir terkait batas atas utang AS yang belum disepakati Kongres dengan pemerintah Obama. Kecemasan batas utang AS turut menghantui pasar.

Tapi menurutnya, para investor sebenarnya yakin bahwa kesepakatan itu akan tercapai. Apalagi, laporan keuangan emiten di AS semester I/2011 sudah dirilis positif. Hanya saja, imbuhnya, kelihatannya market hari ini konsolidasi.

Pelemahan indeks hari ini pun tidak terlalu dalam. Sebab, ada saham-saham second liner yang rebound saat saham-saham bluechips mengalami penurunan. Ini juga sekaligus menandakan bahwa market domestik sudah jenuh beli, timpal Cece. [mdr]

#rupiah #ihsg #valas #krisis as #utang as
BERITA TERKAIT
Pengitungan Pilpres 2019 Belum Usai, IHSG Melejit
Harga Minyak Mentah Kian Sensitif
Efek Pilpres, IHSG Bergerak Melewati 6.900..?
ConocoPhillips Jual Anak Usaha di London US$2,8 M
Wall Street Masih Andalkan Musim Laba Kuartal I
Sambut Pilpres 2019, Mata Uang Garuda Bersinar
Sehari Jelang Pilpres, IHSG Makin Berotot

kembali ke atas