EKONOMI

Sabtu, 30 Juli 2011 | 17:01 WIB

Senat dan DPR AS Berebut Ajukan Proposal Terbaik

Th. Asteria
Senat dan DPR AS Berebut Ajukan Proposal Terbaik
gev.com

INILAH.COM, Washington Kesepakatan plafon kredit AS belum menunjukkan titik terang. Setelah RUU yang diajukan DPR ditolak, lembaga yang didominasi Partai Republik ini juga berencana melakukan tindakan serupa pada Senat. Sabtu (30/7) malam nanti. Duh!

Senat pada Jumat (29/7) malam waktu setempat, menolak RUU yang diajukan DPR untuk menaikkan batas utang AS dan memotong defisit. Hal ini membuka jalan bagi pemungutan suara bagi RUU Senat yang didominasi Demokrat dan pembicaraan kompromi intens menjelang potensi default pemerintah.

Padahal, pada Jumat pagi, RUU DPR ini lolos dengan voting 218-210, setelah para pemimpin Republik berhasil menang atas pihak konservatif dengan menaikkan batas utang US$ 14,3 triliun untuk melewati amandemen anggaran berimbang.

Presiden Barack Obama menentang RUU DPR ini, namun Ia mendukung RUU pesaing dari Pemimpin Mayoritas Senat dari Demokrat, Harry Reid. Bagaimanapun, RUU DPR AS dan Senat sebenarnya punya banyak kesamaan, hanya berbeda pada jumlah dan kapan menaikkan batas pinjaman pemerintah.

Pemimpin Senat bekerja mati-matian untuk kompromi ini, dari komentar Partai Republik, termasuk Senator. Olympia Snowe dari Maine dan Scott Brown dari Massachusetts mengindikasikan kesepakatan dapat mendapat dukungan bipartisan. Snowe mengatakan ia sedang meninjau rencana Reid dari Nevada, dan Pemimpin Minoritas Mitch McConnell dari Kentucky, seraya berharap mereka bisa bekerja dengan perbedaan. Demikian menurut The Wall Street Journal.

Reid berharap bisa mengesahkan RUU-nya di Senat, setelah bernegosiasi dengan Partai Republik dan telah menetapkan pemungutan suara untuk menghentikan perdebatan di Minggu dini hari. Bagian akhir akan datang pada Selasa.

Sementara Obama terus memperingatkan bahwa batas utang perlu dinaikkan sebelum Selasa, untuk menghindari default. Pembayaran utang Kementrian Keuangan, tunjangan veteran dan gaji pegawai pemerintah akan terhenti, jika pemerintah tidak dapat membayar tagihannya, ujar Gedung Putih.

Pada Sabtu (30/7), DPR yang didominasi Partai Republik, berencana menolak RUU plafon kredit Senator Reid, yang akan memotong belanja sekitar US$ 2 triliun lebih dari 10 tahun dan menaikkan batas utang sekitar US$ 2,4 triliun. Itu cukup untuk masa pemilu 2012 dan menghindari perdebatan baru atas plafon kredit sebelum Pemilu.

Sedangkan RUU DPR, pada dasarnya akan menaikkan batas utang sebesar US$ 900 miliar dalam waktu dekat. Ditulis oleh Ketua DPR John Boehner, RUU itu membutuhkan DPR dan Senat untuk meloloskan amandemen anggaran berimbang, sebelum batas utang dinaikkan lagi.

RUU Boehner, yang menghadapi pemberontakan dari pihak konservatif pada Kamis malam, juga akan memangkas belanja US$ 917 miliar lebih dari 10 tahun. "Kami sudah mencoba yang terbaik untuk mengakhiri krisis ini, Boehner, Republikan dari Ohio, mengatakan di DPR, kemarin.

Namun, Senat memilih untuk menolak RUU tersebut, dengan pemungutan suara 59-41 pada Jumat malam.

Sebelumnya, Reid mengundang McConnell untuk duduk bersama dan mencari kesepakatan untuk menaikkan batas pinjaman dan memotong pengeluaran. "Ini kesempatan terakhir kita untuk menyelamatkan bangsa ini dari default," kata Reid.

Baik RUU DPR maupun RUU, tidak ada yang ingin menaikkan pajak.

Investor gugup menonton aksi di Washington. Saham AS memperpanjang penurunan berturut-turut pada Jumat, mengirim Dow Jones Industrial Average dan indeks S & P 500 ke pekan terburuk lebih dari setahun. Kekhawatiran bahwa anggota parlemen AS tidak akan menyelesaikan krisis utang yang mengancam ekonomi AS yang membaik, sudah membayangi aksi jual. Sementara harga treasury meningkat pada Jumat dan menjatuhkan yield 10 tahun ke level terbesar sejak Desember.

Rencana awal Boehner menghadapi pembelotan dari Partai Republik konservatif yang kecewa karena tidak ada pemotongan belanja lebih besar. Partai Republik Ohio banyak menghabiskan pekan ini dengan mencoba mengumpulkan dukungan bagi proposalnya, hanya untuk mendorong kembali voting yang awalnya dijadwalkan Kamis malam.

Di sisi lain, Kementrian Keuangan telah lama bersikeras bahwa Selasa adalah tenggat waktu yang sulit untuk menaikkan batas utang. Namun menurut The Wall Street Journal, lembaga tersebut berencana memprioritaskan pembayaran, dengan membayar US$ 29 miliar bunga kepada pemegang obligasi pada 15 Agustus.

Lembaga pemeringkat kredit, termasuk Standard & Poor telah memperingatkan bahwa AS bisa kehilangan peringkat AAA, tanpa rencana kredibel untuk memangkas defisit. Obama memohon atas peringatan-peringatan tersebut, dengan mengatakan bahwa biaya pinjaman akan naik untuk warga AS.

"Rating kredit yang lebih rendah berpotensi menaikkan pajak setiap orang, dalam bentuk tingginya suku bunga pada hipotek, pinjaman mobil dan kartu kredit. Dan itu tidak bisa dibenarkan, "kata Presiden.

Di sisi lain, kelompok konservatif Tea Party, tetap mempertahankan untuk pemangkasan belanja yang lebih besar. "Seperti keluarga atau bisnis apapun dalam menghadapi kesulitan fiskal, Washington harus membuat pemotongan dalam pengeluaran sekarang. Kita tidak akan menerima pendekatan fiskal yang malas dan tidak bertanggung jawab, "kata Jenny Beth Martin dan Mark Meckler, pendiri Tea Party. [mdr]

#senat #AS #DPR #Boehner #Reid
BERITA TERKAIT
Kinerja Jeblok, Tinjau Ulang Anggaran OJK Rp6,06T
Erick: Pendirian Anak Usaha BUMN Harus Diperketat
(Optimalisasi Subsidi Energi) PKS Perintahkan KESDM Data Ulang Pelanggan Listrik
DPR Minta IEU-CEPA Prioritaskan Sawit Indonesia
Potensi Sawit Masih Oke, DPR Kritik Keras BPDP-KS
Komisi VII DPR Minta Kenaikan Tarif Setrum Ditunda
Pengawasan OJK Jeblok, DPR Bentuk Badan Supervisi

kembali ke atas