EKONOMI

Minggu, 31 Juli 2011 | 16:23 WIB

Krisis AS Tidak Bakal Buat RI Kolaps

Mosi Retnani Fajarwati
Krisis AS Tidak Bakal Buat RI Kolaps
finance.com

INILAH.COM, Jakarta - Badan Kebijakan Fiskal (BKF) menilai, kondisi ekonomi AS yang masih belum stabil terkait utang hanya akan 'menyentil' Indonesia.

Plt Kepala BKF Bambang Brodjonegoro mengungkapkan, kondisi AS saat ini masih belum bisa dikatakan gagal bayar (default). "Amerika bukan default, cuma mungkin dia kemampuan bayar utangnya tidak seperti biasanya. Otomatis itu bisa berpengaruh ke rating-nya," ujar Bambang di kantornya, akhir pekan ini.

Menurutnya, apabila rating utang AS terpengaruh maka akan memicu gejolak pada pasar dunia. "Terutama pada negara-negara yang banyak membeli treasury bill mereka, seperti China dan segala macam," ujarnya.

Namun, ia menilai, kondisi tersebut tidak akan berpengaruh signifikan pada ekonomi Indonesia. "Kalau Indonesia tidak, saya tidak tahu persis tapi saya yakin kalau pun ada kecil sekali, itu harus ditanya ke BI yang mengelola cadangan devisa," ujarnya.

"Dampak Amerika ke kita itu hanya di ekspor impor, dan itu pun sekarang bukan yang paling utama lagi. Jadi, kalau ada dampak Amerika ekonominya terganggu, dampaknya ada, cuma tidak sampai membuat kita harus collapse," tegasnya.

Di sisi lain, ia mengatakan, pemerintah tetap waspada pada sektor-sektor yang dinilai akan sedikit tergoyang yaitu ekspor ke AS, aliran investasi sektor riil (Foreign Direct Investment/FDI), dan aliran dana asing (capital inflow).

"Satu, mungkin ekspor kita ke sana bisa terganggu kalau ekonomi mereka terganggu. Kedua, mungkin aliran FDI sedikit terganggu. Ketiga, capital inflow-nya yang mestinya ke Amerika sebagian makin banyak Indonesia. Rupiahnya makin kuat, terus kita ada kekhawatiran sudden reversal. Jadi artinya yang kita harus jaga banget jangan sampai terjadi bubble di kita, bubble dalam bentuk apa pun," paparnya.

"Dalam ekonomi global yang pergerakannya sangat cepat ya potensi bubble itu yang harus diwaspadai. Jadi, kita jangan sampai cepat puas kalau misalkan sekarang IHSG naik kencang, rupiah makin kuat, capital inflow makin banyak, SUN makin rendah yield-nya," pungkasnya.

Seperti diketahui, pada tanggal 2 Agustus nanti kongres AS akan memutuskan apakah akan memutuskan kenaikan batas utang negara adidaya tersebut. [mel]

#Plt Kepala BKF Bambang Brodjonegoro #utang AS
BERITA TERKAIT
Siap-siap, Bea Balik Nama Kendaraan Naik 12,5%
Urgensi Impor Beras Ketan Perum Bulog Dikritisi
Menteri Edhy Ajak Kaum Muda Masuk Dunia Perikanan
Erick Serahkan Nama Calon Dirut 3 BUMN
Pertamina Eksplorasi Besar-besaran
Pertamina Kontraktor Blok Corridor Pada 2026
Geothermal, Pertamina Manfaatkan Energi Bersih

kembali ke atas