METROPOLITAN

Selasa, 02 Agustus 2011 | 15:05 WIB
(Rakyat Kecil (Selalu) Puasa)

Ramadan di Kolong Jembatan

Wahyu Praditya Purnomo
Ramadan di Kolong Jembatan
foto ilustrasi blogspot.com

INILAH.COM, Jakarta - Kemiskinan memang lebih dekat kepada kekufuran. Namun itu tidak berlaku bagi Rosyah (59) yang telah puluhan tahun hidup di kolong jembatan di seberang Pasar Rumput.

Dengan hidup beralaskan tikar dan beratapkan langit-langit jembatan, Rosyah bersama beberapa keluarga lainnya bertahan hidup di Ibukota Jakarta.

Meski hidup serba kekurangan dan terbatas, Rosyah tetap melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim menjalankan ibadah puasa Ramadan.

"Memang sudah biasa kita prihatin, sehari enggak makan bukan sudah sering," kata Rosyah, yang mengaku sudah lebih dari 10 tahun tinggal di kolong jembatan.

Rosyah yang sehari-hari bekerja sebagai pemulung ini mengaku, di bulan puasa aktivitasnya sebagai pengumpul barang-barang bekas tidaklah berhenti.

Karena dengan hasil yang didapat dari hasil memulung inilah, ia mengaku dapat membeli menu makanan untuk berbuka puasa ataupun sahur, meski ala kadarnya.

Wanita yang telah tinggal di kolong jembatan sejak tahun 1995 ini mengaku, pada bulan Ramadan penghasilannya sebagai pengumpul barang-barang bekas mengalami peningkatan.

Jumlah sampah yang berhasil dikumpulkan pun meningkat tajam jika dibandingkan hari biasa. "Mungkin ini berkah Ramadan, karena banyak yang jualan, jadi sambah bertambah, mulai dari gelas mineral, botol mineral, koran atau kertas-kertas lainnya bisa dikumpulkan sampai berkilo-kilo."

Selama bulan Ramadan, Rosyah dapat mengumpulkan Rp50.000 sampai Rp75.000 per hari. Dari pendapatan yang dihasilkan tersebut, Rosyah mengaku menggunakannya hanya sebagian saja, sementara sisa uangnya ditabung, yang rencananya akan digunakan untuk pulang ke kampung di Sukabumi, Jawa Barat.

"Saya punya cita-cita Lebaran dikampung, karena hampir 5 tahun belum juga pulang kampung," harapnya.

Saat ini selain Rosyah, ada beberapa keluarga lain yang tinggal di kolong jembatan Pasar Rumput, yang terdiri sekitar 11 orang dewasa dan 5 anak-anak.

Rasa toleransi yang tinggi sebagai penghuni ditunjukan dari kebersamaan mereka saat berbuka. Meski hanya dengan menu makanan seadanya, mereka tetap bersyukur. [mah]

#wong cilik #puasa
BERITA TERKAIT
Bebas Virus Corona, Dinkes DKI Tetap Waspada
Pemprov DKI Bebaskan Pajak BBNKB
Usai Terima Surat dari Anies, DPRD Lakukan Ini
Anies Canangkan Pembangunan Halte TransJ-MRT Asean
PKS Minta KPK Ikut Awasi Pemilihan Wagub DKI
PKS Minta Anies Segera Proses 2 Cawagub
Polisi Bongkar Bisnis Prostitusi Anak di Jakut

kembali ke atas