PASAR MODAL

Selasa, 02 Agustus 2011 | 18:29 WIB

Market Melandai Terusik Spanyol & Utang AS

Ahmad Munjin
Market Melandai Terusik Spanyol & Utang AS
inilah.com

INILAH.COM, Jakarta Rupiah dan IHSG kompak melemah. Pasar merespon kenaikan batas utang AS, kekhawatiran Spanyol dan isu perlambatan ekonomi AS yang bisa membawa negara itu pada resesi gelombang kedua.

Periset dan analis senior PT Monex Investindo Futures Albertus Christian mengatakan, pelemahan rupiah hari ini dipicu oleh aksi para pelaku pasar yang merespon kenaikan batas atas plafon utang AS (debt ceiling) meskipun pertumbuhan ekonomi AS yang melambat juga jadi perhatian. Karena itu, dolar AS menguat dari rekor pelemahannya.

Di sisi lain, lanjut Christian, muncul kekhawatiran krisis Eropa yang baru yakni masalah Spayol di market sehingga jadi tekanan bagi rupiah. Sebab, kondisi itu memicu peralihan risiko ke aset-aset dolar AS. "Karena itu, sepanjang perdagangan, rupiah merosot ke 8.476 dan 8.453 sebagai level terlemahnya, katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Selasa (2/8).

Kurs rupiah $ di pasar spot valas antar bank Jakarta, Selasa (2/8) ditutup melemah 15 poin (0,17%) ke level 8.470/8.480 per dolar AS dari posisi kemarin 8.455/8.465.

Lebih jauh dia menjelaskan, meski Spanyol belum di-downgrade, tapi, yield obligasi Spanyol terus mengalami kenaikan yang menggambarkan kekhawatiran pasar atas kondisi ekonomi negara itu. "Terakhir, yield obligasi Spanyol di level 6,5% dengan tenor 10 tahun," ungkap Christian.

Pada saat yang sama, menurut Christian, pemulihan ekonomi AS masih melambat sehingga memicu rumor resesi double dip (resesi gelombang kedua) di AS. Pada Jumat (29/7) pertumbuhan AS kuartal kedua 2011 dirilis 1,3% dari prediksi 1,8% dan angka kuartal sebelumnya 0,4%. "Meski GDP AS lebih tinggi dari sebelumnya, tapi angka itu lebih rendah dari prediksi," paparnya.

Kondisi ini, seharusnya menjadi tekanan bagi dolar AS. Tapi, saat ini pasar belum mendiskon rumor tersebut. "Sejauh ini, pasar masih mendiskon optimisme kenaikan plafon utang dan pemangkasan anggaran AS sekitar US$2,4 triliun dalam 10 tahun," imbuhnya.

Alhasil, dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Indeks dolar AS menguat 0,25% ke level 74,62 dari sebelumnya 74,53. "Terhadap euro, dolar AS menguat ke level US$1,4199 dari sebelumnya US$1,4252 per euro," imbuh Christian.

Dihubungi terpisah, Head of Research Division PT Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ^JKSE) pada Selasa (2/8) ini berhasil ditutup di atas suport 4.160. Indeks melemah 15,60 poin (0,37%) ke level 4.177,846.

IHSG, lanjut Satrio Utomo, memang masih ditutup di atas support. Akan tetapi, dapat dilihat juga bahwa cukup banyak saham-saham bluechips yang mengakhiri trend naiknya. Di antaranya, PT Bank Negara Indonesia (BBNI.JK), PT United Tractors (UNTR.JK), PT Indofood Sukses Makmur (INDF.JK), PT Bank Mandiri (BMRI.JK), dan masih ada beberapa lagi yang lain.

Satrio juga memaparkan tentang signal reversal yang muncul pada indeks Hang Seng hari ini. Ia masih mempertanyakan apakah hal itu pertanda bahwa indeks Dow Jones Industrial masih akan melanjutkan penurunannya? Kalau memang ya, mau sampai kemana?

Sebelumnya, Dow Jones telah mencapai kisaran suport 11.900-12.000. Akankah Dow menembus suport ini? Akankah kondisi market Amerika bakalan lebih jelek lagi dari kondisi saat ini? Apakah Amerika bakal terkena penurunan rating surat utangnya?

Menurutnya, semua jawabannya baru akan didapat besok pagi. Alhasil, apakah IHSG bakal mengakhiri trend naiknya? Jawabannya juga baru bisa dilihat besok, imbuhnya. [mdr]

#rupiah #valas #spanyol #krisis as
BERITA TERKAIT
Penjualan Mobil PT Astra Turun 7,9% di 2019
Presiden Kecewa Kinerja Lembaga Keuangan Nonbank?
Pakta Fase I Jadi Amunisi Trump di Pilpres 2020
Presiden Sebut Saatnya Mereformasi Lembaga Nonbank
Bursa Saham Asia Bergerak Naik
Kapitalisasi Pasar Induk Usaha Google Capai US$1 T
Harga Minyak Mentah Naik 1% Lebih

kembali ke atas