PASAR MODAL

Rabu, 10 Agustus 2011 | 19:03 WIB

Ekonomi AS Melemah, Market Rebound

Ahmad Munjin
Ekonomi AS Melemah, Market Rebound
inilah.com

INILAH.COM, Jakarta Rupiah dan IHSG kompak menguat. Pasar lega atas komitmen The Fed untuk melonggarkan moneternya hingga 2013. Tapi, itu juga sekaligus menunjukan pelemahan ekonomi AS.

Periset dan analis senior PT Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, penguatan rupiah hari ini dipicu oleh pasar yang cukup lega setelah tadi pagi The Federal Reserve Rapat. The Fed memberikan isyarat bahwa bank sentral akan tetap menjalankan kebijakan moneter longgarnya hingga pertengahan 2013.

Tujuannya, lanjut Firman, untuk menggairahkan aktivitas ekonomi AS. "Karena itu, sepanjang perdagangan rupiah mencapai level terkuatnya 8.510 dan 8.535 sebagai level terlemahnya dari posisi pembukaan 8.520 per dolar AS, katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Rabu (10/8).

Kurs rupiah $ di pasar spot valas antar bank Jakarta, Rabu (10/8) ditutup menguat 37 poin (0,43%) ke level 8.520/8.530 per dolar AS dari posisi kemarin 8.557/8.567.

Firman melajutkan, di lain pihak, komitmen The Fed juga menunjukkan bahwa perekonomian AS saat ini sedang melemah. "Karena itu pasar tidak begitu optimis dengan perkembangan ekonomi dunia terakhir meskipun kepanikan sedikit berkurang," paparnya.

Apalagi, ditegaskan Firman, meskipun The Fed berkomitmen untuk melonggarkan moneternya hingga 2013, tapi pasar tidak melihat adanya sinyal Quantitative Easing (QE) ketiga. Sebab, tiga anggota dewan gubernur The Fed menolak pelonggaran itu. "Pada saat QE kedua dilakukan tidak terjadi penolakan," ucapnya.

Tapi, dolar AS tetap mendapat tekanan karena The Fed mempertahankan pelonggaran moneternya itu sehingga dolar AS melemah terhadap mata uang utama secara umum.

Hanya saja, rupiah kesulitan untuk mempertahankan rally-nya lebih jauh jika bursa saham dunia belum stabil. "Pemulihan bursa saham hari ini dan kemarin, dilihat pasar semata technical rebound setelah panik berlebihan dalam sepekan terakhir," ungkapnya.

Alhasil, dolar AS melemah terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Indeks dolar AS turun ke level 73,872 dari posisi sebelumnya 74,605. "Terhadap euro, dolar AS melemah ke level US$,4379 dari sebelumnya US$1,4368 per euro," imbuh Firman.

Dari bursa saham, Head of Researh Valbury Asia Securities Alfiansyah mengatakan, penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ^JKSE) sebesar 128,46 poin (3,44%) ke level 3.863,576 hari ini dipicu oleh positifnya pergerakan bursa regional sebagai respon atas pernyataan Gubernur The Fed Ben Bernanke semalam. Tapi, untuk confirm penguatan berikutnya harus mengkaji beberapa hal, ujarnya.

Menurutnya, pasar tetap harus mencermati pernyataan Bernanke yang merupakan hasil sidang dari The Federal Open Market Committee (FOMC) semalam yang menjadi penyejuk pasar global. Terutama, pernyataan bahwa The Fed tetap akan mempertahankan suku bunga rendah hingga pertengahan 2013, paparnya.

Alfiansyah menegasan pernyataan tinggal pernyataan. Yang dibutuhkan market adalah suatu langkah atau kebijakan nyata yang akan dilakukan The Fed dalam menangani dampak krisis yang terjadi di AS.

Meski begitu, lanjutnya, dengan penguatan yang diiringi besarnya volume transaksi, IHSG tetap berada di jalur positif hingga penutupan. Apalagi, jika mengacu pada faktor internal, tidak ada masalah, tandasnya.

Secara teknikal pun, dikatakan Alfiansyah, indeks juga memang seharusnya rebound karena sudah berada pada oversold area. Jadi, potensi koreksi hari ini dalam sinyal terbatas, sedangkan pola reversal menguat jauh lebih terbuka, papar Alfiansyah. [mdr]

#rupiah #valas #ihsg
BERITA TERKAIT
Harga Saham IPO Saudi Aramco US$8
IHSG Ada Peluang Bangkit
Kartu Kredit Topang Transaksi di Singles Day
Buffett Kurangi Saham Apple, Beli Saham Tambang
Permintaan Minyak Mentah Naik Jadi 1,1 Juta Barel
Wow! Utang Global Kian Naik Jadi US$250 Triliun
Isu Perang Tarif Bawa Harga Minyak Naik Hampir 2%

kembali ke atas