NASIONAL

Senin, 29 Agustus 2011 | 03:15 WIB

Muhammadiyah: Perbedaan Tanggal Lebaran Itu Biasa

Bayu Hermawan
Muhammadiyah: Perbedaan Tanggal Lebaran Itu Biasa
muhammadiyah.or.id

INILAH.COM, Jakarta - Wakil Sekretaris Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) PP. Muhammadiyah, Mamud Murod Al-Barbasy menganggap perbedaan penentuan hari raya Idul Fitri tidak perlu dibesar-besarkan.

Menurutnya perbedaan antara Nahdlatul Ulama (NU) yang menganut rukyatul hilal dan Muhammadiyah yang mengunakan wujudul hilal melalui hisab, keduanya merupakan metode yang sama-sama mempunyai landasan yang kuat.

Karenanya kalau pun terjadi perbedaan lebih pada ikhtilaf dan ini hal biasa saja dalam Islam, utamanya dalam metode pengambilan hukum (ushul fiqh), tidak perlu dibesar-besarkan apalagi ditarik masuk pada wilayah politik, sebagaimana kerap terjadi utamanya pada masa era Orde Baru, jelas Mamud Murod kepada INILAH.COM, Senin (28/8/2011).

Mamud mengatakan dalam menyikapi beda hari lebaran ini, Menteri Agama harus benar-benar menegaskan perbedaan lebaran sebagai ranah agama yang di dalamnya terdapat keyakinan, antara rukyah dan hisab.

Jadi tidak perlu dibesar-besarkan. Kalau Menag mencampuri terlalu jauh perbedaan ini sama halnya mencampuri soal keyakinan yang tentunya bertentangan dengan Pancasila. Menag perlu juga menegaskan tentang pentingnya menjaga kerukunan jangan sampai menganggap pandangannya paling benar sendiri, ucapnya.

Lebih lanjut dia mengatakan Menteri Agama seharusnya sudah bisa belajar dari perbedaan lebaran yang terjadi pada tahun 1994. Dimana saat itu NU memutuskan berbeda lebaran dengan pemerintah karena keyakinan akan metode rukyatul hilal yang secara konsisten digunakan NU.

Saat itu NU berlebaran lebih cepat sehari dari keputusan Sidang Isbat. Dari hasil pantauan ditemukan adanya beberapa Tim Rukyat yang berhasil melihat hilal. Tapi Menag yang saat itu dijabat Tarmidzi Taher yang memiliki faham keagamaan lebih dekat ke Muhammadiyah menyikapi secara emosional sampai-sampai NU kena semprot dari Menag, jelasnya.

Untuk itu jika kali ini penentuan hari raya berbeda, Mamud Murod berharap prinsip ikhtilaful aimmah rahmah harus dijunjung tinggi. Perbedaan beda lebaran harus dilihat dalam kacamata agama sebagai sesuatu yang biasa. Jangan sampai digeser menjadi persoalan politik. Tentu Menag cukup paham akan hal ini, ujar Mamud yang juga menjabat sebagai Sekretaris Divisi Penegakkan Hukum DPP Partai Demokrat.

#lebaran #muhammadiyah #nu
BERITA TERKAIT
(Suicide Bomber di Medan) Khofifah: Ada Orang Mencurigakan, Lapor Polisi
Majunya Mumtaz dan Gibran Bukan Politik Dinasti
Kompolnas Dorong Polri Ungkap Bom Bundir di Medan
Tjahjo Kaji Penambahan Perwira Tinggi TNI - Polri
Komisi l Sebut HRS Dicekal Terkait 'Visa'
Seorang Pria di Garut Bunuh Kakak Mantan Istri
Densus 88 Tangkap 3 Teroris di Banten

kembali ke atas