PASAR MODAL

Jumat, 07 Oktober 2011 | 18:46 WIB

Isu Likuiditas Eropa Jadi Katalis Market Hari Ini

Ahmad Munjin
Isu Likuiditas Eropa Jadi Katalis Market Hari Ini
inilah.com/Dok

INILAH.COM, Jakarta Rupiah ditutup stabil meski IHSG akhirnya melemah. ECB yang mengaktifkan kembali fasilitas likuiditas 12 bulan dan keinginan Kanselir Jerman untuk merekapitalisasi bank-bank Eropa menjadi katalisnya.

Periset dan analis senior PT Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, stabilnya pergerakan rupiah akhir pekan ini karena adanya harapan, Eropa dapat mencegah terjadinya krisis perbankan yang dipicu oleh berlarutnya krisis utang zona euro. Harapan itu muncul, terutama setelah European Central Bank (ECB) kemarin mengaktifkan kembali fasilitas likuiditas 12 bulannya.

Karena itu, lanjutnya, buruknya situasi likuditas perbankan Eropa bisa diantisipasi. "Karena itu, rupiah ditutup stabil setelah mencapai level terlemahnya 8.970 dan 8.890 sebagai level terkuatnya, katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (7/10).

Kurs rupiah $ di pasar spot valas antar bank Jakarta, Jumat (7/10) ditutup stabil di level 8.890/8.905 per dolar AS setelah dibuka melemah ke 8.930/8.940. Di sisi lain, lanjut Firman, ECB juga menegaskan komitmennya untuk membeli obligasi pemerintah zona euro baik di pasar primer maupun sekunder.

Lebih jauh ia menjelaskan, sentimen euro juga membaik setelah Kanselir Jerman Angela Merkel menegaskan keinginan Eropa untuk merekapitalisasi perbankan walaupun belum ada rincian kebijakan yang akan diambil. "Pasar melihat, Eropa dapat menyelamatkan sektor perbankan kawasan itu," tandas Firman.

Tapi, imbuhnya, di lain pihak, Bank of England (BoE) justru mengaktifkan kembali program Quantitative Easing (QE) senilai 75 miliar poundsterling. Sebagian besar ditujukan untuk membeli obligasi pemerintah Inggris. "Karena itu, sentimennya sedikit mendongkrak dolar AS terhadap poundsterling," tuturnya.

Selain faktor BoE itu, lanjutnya, setimen dari ECB dan Kanselir Jerman cukup kuat menopang euro. Pada saat yang sama, dari dalam negeri Bank Indonesia (BI) terus menunjukkan komitmennya untuk menjaga rupiah di bawah 9.000 per dolar AS. "Data terakhir menunjukan cadangan devisa berkurang sebesar US$10 miliar. Artinya, BI aktif di pasar," imbuh dia.

Alhasil, dolar AS melemah terhadap mayoritas mata uang utama tapi ditransaksikan stagnan terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Indeks dolar AS melemah ke level 78,594 dari sebelumnya 78,634. "Terhadap euro, dolar AS stabil di level US$1,3428 per euro," imbuh Firman.

Dari bursa saham, Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia Satrio mengatakan, koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ^JKSE) sebesar 17,42 poin (0,51%) ke level 3.425,684 akhir pekan ini disebabkan adanya downgrade salah satu sekuritas asing, yang menilai IHSG terlalu mahal.

Namun, Satrio melihat hal ini masih wajar, karena ketika semua bursa regional turun, IHSG masih bertahan di zona positif. Kalau IHSG mahal, dalam hal P/E nya, ya memang wajar, katanya.

Namun, dengan posisi net buy asing yang terus meningkat hingga ke Rp381 miliar sore ini, membuatnya curiga. Pasalnya, dengan posisi jangka pendek asing yang relatif masih minim, hanya di bawah 5 triliun, jauh dari level tertinginya di 18 triliun, asing ada kemungkinan melakukan downgrade karena tidak punya barang. Mereka mau belanja, makanya downgrade dulu, biar kita jualan, mereka yang nampung, paparnya. [mdr]

#rupiah
BERITA TERKAIT
Pakta Fase I Jadi Amunisi Trump di Pilpres 2020
Presiden Sebut Saatnya Mereformasi Lembaga Nonbank
Bursa Saham Asia Bergerak Naik
Kapitalisasi Pasar Induk Usaha Google Capai US$1 T
Harga Minyak Mentah Naik 1% Lebih
Ekonomi AS Moncer, Harga Emas Meleleh
Bursa Saham AS Masih Nikmati Sukses Paksa Fase I

kembali ke atas