PASAR MODAL

Kamis, 17 November 2011 | 05:00 WIB

Bursa Mixed, Koleksi Saham BMRI, BBRI & ASII

Natasha & Vina Ramitha
Bursa Mixed, Koleksi Saham BMRI, BBRI & ASII
inilah.com/Dok

INILAH.COM, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Kamis (17/11) diprediksikan bergerak mixed di range sempit. Bertahan atau beli saham Bank Mandiri (BMRI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dan Astra Internasional (ASII).

Pengamat pasar modal Felix Sindhunata memprediksikan pasar global kehilangan arah dan terus bergerak mixed dalam range sempit tanpa arah meski kondisi Amerika membaik dengan pertumbuhan PDB 2,5%, dan penjualan ritel meningkat.

"Ada risiko di Eropa seiring peningkatan yield obligasi Yunani dan Italia yang dipicu oleh penjualan obligasi Italia oleh bank-bank Eropa guna memperbaiki neraca keuangan akhir tahun ini," ujarnya, kemarin.

Untuk jangka menengah panjang sampai dengan 2012 juga relatif mixed. Sebab , perkembangan yang positif dari perekonomian AS dibarengi dengan melambatnya ekonomi Eropa. Sedangkan China terus melambatkan ekonominya meski inflasi sudah mulai turun. Namun, penurunan inflasi China bukan disebabkan melemahnya aktivitas ekonomi. Harga properti masih tinggi dan cenderung berisiko bubble.

Investor pun cenderung bermain aman dengan membeli aset safe haven yang menyebabkan dolar AS terus menguat. Di tengah penguatan dolar, BI justru menurunkan suku bunga 50 basis poin. Meski belum berdampak banyak pada turunnya rupiah, hal ini dinilai tak efektif untuk menurunkan lending rate hingga ke 6% + 300 bsp. Sebab ada time lag tiga bulan dari turunnya BI rate ke penurunan lending rate atau suku bunga kredit bank yang saat ini di kisaran 14%.

"Range perdagangan menjadi sempit. Tak ada yang berani ambil posisi. Di pasar obligasi stagnasi juga terjadi," lanjut Felix.

Ia melanjutkan, imbal hasil obligasi Italia naik karena bank-bank mengucurkan obligasi jelang tutup buku 2011. Dolar AS masih menjadi safe haven, sehingga akan mendorong penguatan mata uang tersebut.

Sementara obligasi rupiah pemerintah banyak dibeli oleh BI, termasuk global bond Indonesia. Sehingga kecil kemungkinan terjadi pengalihan dana dari obligasi pemerintah Eropa ke global bond di emerging market."Dalam kondisi ini, investor disarankan wait and see," ujarnya.

Sementara analis lainnya, Nico Omer Jonckheere dari Valbury Asia Securities memperkirakan, masih ada peluang untuk trading di saham-saham kapitalisasi besar yang likuid. Sebab, valuasi menjadi menarik setelah terjadi koreksi harga.

Apalagi dengan proyeksi earning di kuartal empat ini diperkirakan masih tumbuh, melanjutkan peningkatan EPS (earning per share) di kuartal ketiga 2011. Nico merekomendasikan saham perbankan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dan Bank Mandiri (Bank Mandiri) serta Astra International (ASII). "Trading buy pada saham-saham ini," ujarnya. [mdr]

#ihsg #bmri #bbri #asii
BERITA TERKAIT
IHSG Masih Bisa Lanjutkan Penguatan
Trump Siapkan Tarif Ancaman ke China, Jika..
Inilah Pemicu Harga Minyak Jatuh 3% Lebih
Harga Emas Berjangka Bisa Bangkit
Bursa Saham AS Berani Abaikan Isu Tarif AS-China
Inilah Pemicu Kebuntuan Negosiasi AS-China
AS dan China Bisa Sepakat Sebelum Natal?

kembali ke atas