PASAR MODAL

Sabtu, 19 November 2011 | 15:04 WIB
(Wall Street Sepekan)

Obligasi Spanyol-Italia Tekan Wall Street 2,9%

Ahmad Munjin
Obligasi Spanyol-Italia Tekan Wall Street 2,9%
stockexchange.com

INILAH.COM, Jakarta - Dow Jones dalam sepekan terakhir turun 2,9% seiring kecemasan pasar atas kenaikan yield obligasi Italia dan Spanyol. Biaya pinjaman pun tak lagi sustainable.

Analis telah khawatir bahwa imbal hasil obligasi Eropa secara keseluruhan naik sehingga biaya pinjaman menjadi tidak berkelanjutan (sustainable). Pekan ini, Spanyol membayar hampir 7% imbal hasil obligasi dengan tenor 10 tahun. Bahkan, yield obligasi dengan tenor 5 dan 10 tahun naik ke atas 7% beberapa kali.

Kondisi ini, memicu kekhawatiran pasar yang lain yakni tekanan negatif pada bank-bank di Eropa, yang merupakan pemegang besar dari utang negara Eropa. Pada saat yang sama, European Central Bank (ECB) melaporkan betapa banyaknya utang yang dibeli pada awal pekan lalu.

Sementara itu, David Ader, Kepala Treasury Strategis pada CRT Capital mengatakan, kisaran imbal hasil saat ini pasar obligasi AS justru mencerminkan data yang lebih baik saat terjadi keprihatinan tentang Eropa. Dia mencatat, dalam sepekan terakhir bank-bank sentral asing membeli US$31,7 miliar treasury sekuritas yang merupakan pekan terbesar kelima yang pernah terjadi.

Yield obligasi AS dengan tenor 10-tahun, di level 2,012% atau lebih rendah dari pekan sebelumnya. Jika kita hanya fokus pada peristiwa perdagangan AS, seharusnya yield obligasi AS bisa naik 35 hingga 40 basis poin lebih tinggi, setidaknya dalam 10 tahun," kata Ader, seperti dikutip CNBC, Sabtu (19/11).

Pasalnya, pasar pinjaman antar bank jelas menunjukkan masalah. Semua bank yang berdarah-darah membuat saya khawatir," kata Ader. "Bank-bank sentral dunia dapat memberikan likuiditas. Tapi, itu tidak berarti semuanya akan baik dan baik."

Di lain pihak, Bank Sentral AS The Fed pada hari Selasa (22/11) diperkirakan bakal merilis risalah pertemuan terakhir. Hasil minutes itu akan diteliti oleh investor untuk setiap diskusi tentang apa yang mungkin memicu pelonggaran lebih lanjut.

Pejabat Fed, di sejumlah pidato dalam sepekan terakhir, berbicara pada kedua sisi dari isu pelonggaran monetere. Sementara itu, Presiden Fed Chicago Charles Evans, berbeda pendapat sendirian pada pertemuan terakhir.

Evans mengatakan, dalam pertemuan di Dewan Hubungan Luar Negeri pekan ini, tingkat pengangguran 9% memerlukan tindakan. "Kita harus berperilaku seperti ada masalah yang sangat besar di luar sana," ucapnya.

Pejabat Fed mengatakan, mereka akan mempertimbangkan program Quantitative Easing (QE) ketiga, jika diperlukan. Program terakhir, QE2, berakhir pada bulan Juni dan melibatkan pembelian US$600 miliar surat berharga. Kali ini, The Fed diperkirakan akan fokus pada hipotek, dalam upaya untuk mendorong tingkat hipotek rendah.

Mereka sedang membahas semua jenis pilihan kebijakan dan skenario, dan mereka sudah bicara banyak dengan Eropa. Tidak seperti 2008, mereka memiliki lebih banyak waktu tetapi alat yang lebih sedikit. Ini akan menarik untuk melihat apa skenario yang mereka bicarakan," kata Diane Swonk, Kepala Ekonom di Mesirow Finance.

Dalam sepekan terakhir, Indeks Dow Jones 2,9% menjadi 11.796, dan S & P 500 turun 3,8% ke 1.215. Nasdaq turun hampir 4% menjadi 2.572. Para pemain terburuk adalah saham keuangan, turun 5,6% dalam sepekan terakhir. Bahkan saham yang dipengaruhi oleh harga komoditas pun turun hampir pada level yang sama.

#dow jones #wall street #obligasi #italia #spanyol #yie
BERITA TERKAIT
Bursa Saham Asia Bergerak Variatif
IHSG Tertekan 0,1% ke 6.136,96 di Awal Sesi
IHSG Bisa Manfaatkan Peluang Bangkit
Harga Minyak Mentah Turun Respon Sikap Trump
Harga Emas di Rekor Terendah 3 Bulan
Dow Jones Masih Bisa Pertahankan Rekor
OPEC Kurangi Produksi, AS Naikkan Ekspor Energi

kembali ke atas