GAYA HIDUP

Sabtu, 26 November 2011 | 17:09 WIB

Angka Kematian Ibu dan Bayi Masih Tinggi

Ediya Moralia
Angka Kematian Ibu dan Bayi Masih Tinggi
Foto : Ist

INILAH.COM, Kupang - Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi di Indonesia masih relatif tinggi dibandingkan negara lain di ASEAN. Nusa Tenggara Timur termasuk provinsi dengan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi yang tinggi. Apa sebab?

Data menyebutkan, Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia sebesar 228/100.000 kelahiran hidup, sedangkan Angka Kematian Bayi (AKB) sebesar 34/1000 kelahiran hidup.

Di Provinsi NTT menunjukkan AKI dan AKB yang lebih tinggi dari angka nasional yakni AKI sebesar 306/100.000 kelahiran hidup dan AKB sebesar 57/1000 kelahiran hidup.

Beberapa faktor ditengarai menjadi aspek penyebab dari masih tingginya angka kematian ibu saat melahirkan. Mulai dari kelahiran berisiko, yakni kelahiran di usia yang masih relatif muda, terlalu tua, terlalu sering melahirkan, hingga akses layanan kesehatan terhadap ibu-ibu hamil.

Secara medis kematian ibu melahirkan karena pendarahan, tapi ada banyak faktor juga yang memicu. Rentang usia terbaik melahirkan adalah 20-35 tahun dengan periode jarak melahirkan sekitar tiga tahun dari anak pertama ke anak kedua," kata Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sugiri Syarif saat berkunjung ke Nusa Tenggara Timur, awal pekan ini.

Sugiri menilai, penurunan AKI dan AKB merupakan salah satu target yang cukup sulit dicapai dibandingkan target Millenium Development Goals (MDGs) lainnya. Untuk itu perlu kerja sama lintas sektor, seperti partisipasi masyarakat dan swasta.

Dalam kasus di NTT, misalnya, Angka Kematian Bayi (AKB) turun dari 62/1000 pada 2004 menjadi 57/1000 pada 2002. Angka Kematian Ibu (AKI) 554/100.000 pada 2004 menurun menjadi 306/100.000 pada 2007. Sedangkan untuk Usia Harapan Hidup (UHH) 65,05 pada 2004 naik menjadi 65,1 pada 2007. Kesertaan Program Keluarga Berencana 42,2% pada 2007 (SDKI) naik menjadi 55,7% pada 2010.

Gubernur NTT Frans Lebu Raya mengatakan, NTT merupakan provinsi kedua terbanyak penduduknya di kawasan timur Indonesia terbanyak saat ini, setelah Sulawesi Selatan.

Jumlah penduduk NTT yakni 4.683.827 jiwa, terdiri dari laki-laki 2.326.487 dan perempuan 2.357.340. Dari jumlah penduduk tersebut 37,37% berada pada usia 0-14 tahun. Laju pertumbuhan penduduk di wilayah kepulauan ini mencapai 2,1 persen, berdasarkan sensus penduduk 2010.

Sedangkan angka kemiskinan di NTT telah menurun dari 27,58% pada tahun 2008, menjadi 21,23% pada tahun 2011 ini. Untuk mengentaskan kemiskinan ini Program Keluarga Berencana (KB) yang berjalan di Nusa Tenggara Timur dapat menjadi pintu masuk.

"Karena tidak ada orang miskin melahirkan orang sukses, jadi angka kelahiran harus diatur," ujar Frans.

Sementara itu, Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi NTT Lucia Adinda Lebu Raya mengatakan faktor sumber daya menjadi masalah besar dalam menekan AKI dan AKB di NTT.

Selama ini, pemahaman masyarakat tentang kehamilan sehat masih sangat rendah. Pemerintah provinsi terus berupaya dengan beragam program untuk menekan angka kematian ibu, papar Lucia.

Selain dengan terus memberikan edukasi tentang reproduksi dan penjarangan kehamilan, pemerintah daerah juga memiliki program revolusioner angka kematian ibu yang menyasar semua ibu hamil, mulai dari trisemester pertama hingga pasca melahirkan.

"Kami memantau terus perkembangan ibu-ibu hamil sampai dia melahirkan," kata Lucia. Cara memantaunya adalah dengan memasang tiga bendera dengan warna berbeda di depan rumah ibu hamil.

Bendera hijau untuk kehamilan tiga bulan pertama, bendera kuning untuk kehamilan tiga bulan kedua, dan bendera merah untuk kehamilan tiga bulan terakhir.

Biasanya saat ada ibu yang melahirkan, kita menyiapkan mobil. Jika ada masalah dalam proses melahirkan, kita akan bawa ibu hamil tersebut ke Puskesmas tingkat kecamatan, kata Camat Kualin, Simon OG Manu STP. Maklum, kata dia, setiap desa biasanya hanya memiliki satu puskemas pembantu, yang biasanya hanya terdiri dari dua dokter, yakni dokter umum dan dokter gigi.

Soal ini, Gubernur NTT Frans Lebu Raya mengakuinya. Ia mengatakan faktor infrastruktur, sarana kesehatan dan transportasi masih menjadi kendala, termasuk kesediaan dokter-dokter di NTT. Padahal, bila seorang ibu hamil mengalami pendarahan dalam proses persalinan, maka yang harus menanganinya minimal dokter di puskesmas yang fasilitasnya lebih lengkap.

Bidan saja tidak cukup mampu untuk menangani masalah pendarahan, kata Kepala BKKBN Sugiri.

BERITA TERKAIT
Kompetisi Bunga Internasional Libatkan Siswa SD
Seru, Tradisi Cari Jodoh di Kabuenga Wakatobi Wave
Muslim Traditional di 165 Wedding Exhibition 2019
Kenali Perawatan Kecantikan Crystal Lift
Generasi Z Mulai Berpikir Penting Miliki Asuransi
Inovasi Kesehatan di Era Teknologi Digital
(Paham Literasi Ekonomi) Para Ibu Semakin Pintar Atur Keuangan Rumah Tangga

kembali ke atas