METROPOLITAN

Rabu, 30 November 2011 | 21:24 WIB

Mun'im Diadukan ke Majelis Kehormatan Dokter

Charles MS
Mun'im Diadukan ke Majelis Kehormatan Dokter
Abdul Mun'im Idries inilah.com/dok

INILAH.COM, Jakarta - Ahli forensik Rumah Sakit Cipto Mangkusumo (RSCM), Abdul Mun'im Idries, diadukan ke Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI) oleh tim pengacara terdakwa kasus tewasnya Irzen Octa.

''Kami mengadukan Abdul Mun'im karena laporan visum Irzen yang ia buat penuh rekayasa,'' ujar salah satu kuasa hukum terdakwa, Syamsul Bahri Radjam, di kantor MKDKI Jakarta, Rabu (30/11).

Menurut Syamsul, sebenarnya visum telah dibuat ahli forensik RSCM lainnya, yaitu Ade Firmansyah Sugiharto, empat jam setelah kematian Irzen. Ade adalah dokter spesialis forensik pada Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Visum yang pertama itu atas permintaan penyidik dari kepolisian, yang digunakan untuk kepentingan penyidikan (pro justisia). Itulah yang resmi dan benar, kata Syamsul.

Tetapi, setelah jasad Irzen dimakamkan, pengacara OC Kaligis meminta otopsi ulang kepada dr Munim, dengan dalih atas permintaan keluarga. Visum kedua itu dilakukan Mun'im 22 hari setelah Irzen tewas, dengan membongkar kuburannya. Menurut pengacara terdakwa, ulah Munim itu sebagai visum illegal, karena bukan atas perintah pihak penyidik tetapi digunakan sebagai alat bukti di pengadilan. Munin dinilai melakukan visum ulang tanpa izin dari penyidik yang berwenang dalam proses penyidikan kasus tersebut.

Apalagi, Mun'im dituding membuat laporan medik yang tidak sesuai dengan hasil pemeriksaannya. Di dalam hasil visum et repertum yang dilakukan pada tanggal 20 April 2011 di TPU Srengseng Sawah, Mun'im justru membuat opini atas visum Ade. Menurut dia, visum sebelumnya tidak tepat dan tidak sesuai fakta, karena tidak ditampilkan luka lecet dan memar akibat kekerasan tumpul, yang tidak dijelaskan dengan spesifik apa penyakit yang mengakibatkan pecahnya pembuluh darah di otak. Padahal, hasil itu sementara.

Jadi, menurut Syamsul, Munim hanya menilai hasil visum sementara, tidak pada hasil visum akhir. Di dalam hasil visum akhir, Ade menambahkan bahwa kematian Irzen karena mati lemas. Ia juga menuliskan adanya luka lecet yang terdapat pada hidung korban akibat kekerasan tumpul. Tetapi, itu tidak menyebabkan kematian, kata Syamsul.

Syamsul menilai, Mun'im seakan-akan sengaja mengarahkan penyidikan terhadap kasus penganiayaan. Padahal visum buatan Ade menyebutkan bahwa Irzen tewas karena pecahnya pembuluh darah di bawah bagian otak, hingga ia mati lemas. Di dalam laporan visum tersebut dikatakan bahwa sebab kematian adalah akibat penyakit pecahnya pembuluh darah di bilik otak dan di bawah selaput keras otak, hingga menekan batang otak, yang akan dikonfirmasi lebih lanjut melalui pemeriksaan laboratorium.

Kalimat 'akan dikonfirmasi lebih lanjut melalui pemeriksaan laboratorium itu diabaikan oleh Mun'im. Ahli forensik itu pun kemudian langsung menyimpulkan bahwa visum Ade tidak sesuai fakta. Para pengacara terdakwa menilai, Mun'im hanya membandingkan data visum yang masih berupa pemeriksaan sementara, yang belum diuji ke laboratorium.

Dalam laporan pengaduan itu, Mun'im dituding telah melanggar disiplin Kedokteran. Pelanggarannya antara lain melakukan otopsi ulang dan memberikan opini karena bujukan hadiah dan melakukan ketidakjujuran profesi. Syamsul menilai kerja Mun'im telah dipengaruhi konflik kepentingan. Dikatakannya, Mun'im diduga kuat telah menerima bujukan atau hadiah yang mungkin berpengaruh pada hasil visum Irzen. Mun'im telah memanifulasi visum Irzen. Diduga ia menerima suap,'' ujar Syamsul.

Dengan begitu, Mun'im telah melanggar ketentuan 10.5 butir (64) Bab X Tentang Kejujuran Profesi dokter dalam Buku Penyelenggaran Praktik Kedokteran Indonesia. Atas ketidak jujuran dalam membuat laporan visum, maka Mun'im dianggap melanggar Ketentuan Bab X Buku Penyelenggaran Praktik Kedokteran terbitan Konsil Kedokteran Indonesia pada 2006. Karena itu, kami mohon agar Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia menjatuhkan sanksi disiplin berupa rekomendasi pencabutan surat tanda registrasi atau surat ijin praktek bagi saudara Munim, tegas Syamsul saat membacakan isi pengaduan.

Setelah mengadukan Munim di MKDKI, para pengacara tersebut langsung menuju Komnas HAM untuk menindaklanjuti pengaduan terhadap Munim, penyidik kepolisian dari Polres Jakarta Selatan dan Jaksa Penuntut Umum (JPU). Mereka diadukan ke Komnas HAM lantaran dituding melakukan rekayasa bersama, sehingga membuat kelima terdakwa kehilangan kebebasannya karena dijebloskan ke penjara. Munin dituding melakukan visum illegal, sedangkan penyidik kepolisian dianggap sengaja menghilangkan barang bukti dan merekayasa BAP serta dengan sewenang-wenang telah memasukkan hasil otopsi yang tidak pro Justitia ke dalam berkas perkara, sehingga turut digunakan oleh JPU sebagai salah satu dasar dakwaan.

Irzen Octa adalah nasabah Citibankyang menunggak kartu kredit. Ia tewas pada 29 Maret 2011. Sementara terdakwanya adalah debt collector Citibank yang terdiri dari Arif Lukman, Donald Harris Bakara, Henry Wanslinton, Humisar Silalahi, dan Boy Anto Tambunan.

#mun'im idris #irzen octa #debt collector #citibank #s
BERITA TERKAIT
Pagi Ini, Jakarta Diprakirakan Cerah Berawan
Polisi Selidiki Pembongkaran Portal Sungai Turi
Hari Ini Cuaca Jakarta Cerah Berawan
(Teror Ait Keras Di Jakarta Barat) Pelaku Siram Korban Dengan Soda Api, Ini Efeknya
Polisi Tangkap Pelaku Teror Air Keras Di Jakbar
Kapolda Metro: Bahaya Medsos, Orang Jadi Radikal
Lapor Jual Kendaraan Bermotor Lewat Aplikasi Ini

kembali ke atas