METROPOLITAN

Jumat, 16 Desember 2011 | 18:23 WIB

4 PNS Diduga Ikut Palsukan Pompa Penyedot Banjir

Wahyu Praditya Purnomo
4 PNS Diduga Ikut Palsukan Pompa Penyedot Banjir
inilah.com/Dok

INILAH.COM, Jakarta - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus mendalami keterlibatan pegawai negeri sipil (PNS) dalam kasus pemalsuan pompa polder (penyedot air banjir-red), di Kampung Bandan, Penjaringan, Jakarta Utara.

Rencananya, pihak Inspektorat Pemprov DKI Jakarta akan memeriksa keterlibatan PNS dilingkungan Pemprov yang terlibat dalam kasus tersebut. Kepala Inspektorat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Frangki Mangatas Pandjaitan, mengatakan, pihaknya akan memanggil empat PNS beserta pimpinan, yang diduga terlibat dalam kasus pemalsuan pompa polder itu.

"Pemanggilan itu bertujuan untuk meminta keterangan terkait dugaan perjalanan ke Korea Selatan disetujui atau tidak," kata Frangki saat dihubungi di Jakarta, Jumat (16/12/2011).

Frangki melanjutkan, meski demikian ada sejumlah tahapan penyelidikan yang harus dilakukan oleh tim yang dibentuknya. Saat ini pihaknya masih mengumpulkan data dan dokumentasi serta membandingkan antara laporan pemalsuan dengan fakta yang ada di lapangan. "Setelah pencocokan data, baru kita panggil keempat orang tersebut," ucapnya.

Dia menjelaskan, nantinya kesimpulan hasil pemeriksaan akan diserahkan kepada Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo untuk ditindaklanjuti. Tapi hingga saat ini, Frangki belum dapat memastikan kapan penyelidikan yang dilakukan akan selesai.

"Kita belum tahu sampai kapan, yang jelas Gubernur akan memutuskan hukumannya seperti apa, inspektorat hanya sebatas menyelidiki dan melaporkan hasilnya. Lamanya proses penyelidikan yang pasti secepatnya," jelasnya.

Seperti diketahui, empat PNS diduga kuat telibat dalam pemalsuan pompa air di Kampung Bandan, Jakarta Utara. Indikasi pemalsuan diketahui pada pengadaan pompa air saat pembangunan pompa polder di Kampung Bandan, yang tidak sesuai dokumen.

Dalam dokumen tersebut, ditetapkan Starting Methode yang diminta adalah Variable Frekuensi Drive (VFD), tapi panitia lelang tetap memenangkan PT Ruhaak Phala Industries, yang mengajukan Starting Method Soft Starter.

Ada perbedaan harga tinggi antara Starting Methode VFD dengan Starting Methode Soft Starter. Penyimpangan lainnya, adalah pengurangan ketebalan pipa yang harusnya 16 mm ternyata yang dipasang cuma 12 mm.[bay]

#banjir #genangan #jakarta #rob
BERITA TERKAIT
Jakarta Hari Ini Cerah Berawan, Tak Sampai Hujan
BPRD Tagih Pajak ke Rumah Para Penunggak
(Operasi Zebra Jaya) Polisi Amankan 800 Kendaraan Bermasalah Pajak
BPN Kota Depok Tertibkan Warga Berdalih Verponding
Anies Temui Pembalab Formula E Asal Belgia
Banyak Nama Cawagub, Anies: Harus Bisa Kerja Sama
Prakiraan Cuaca Ibu Kota Hari Ini

kembali ke atas