PASAR MODAL

Rabu, 28 Desember 2011 | 18:30 WIB

Ritel Jepang-Yunani Buruk, Pasar Lunglai

Ahmad Munjin
Ritel Jepang-Yunani Buruk, Pasar Lunglai
inilah.com

INILAH.COM, Jakarta IHSG melemah dan rupiah stagnan. Pasar terpengaruh negatif rilis data penjualan ritel Jepang dan Yunani yang angkanya jauh di bawah ekspektasi.

Analis senior Monex Investindo Futures Albertus Christian mengatakan, meski ditutup stagnan tapi sepanjang perdagangan rupiah melemah tajam. Menurutnya, pelemahan tersebut dipicu oleh buruknya data yang dirilis di Jepang. Kondisi itu, mengurangi keyakinan konsumen Asia akibat faktor regional.

Pasar terkejut dengan laporan penjualan ritel dan laporan pengeluaran rumah tangga (household spending) Jepang. Angkanya dirilis di bawah ekspektasi. "Karena itu, sepanjang perdagangan, rupiah mencapai level terlemahnya 9.186 kemudian mencapai level terkuatnya 9.063 dari posisi pembukaan 9.073 per dolar AS, katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Rabu (28/12).

Kurs rupiah $ pada kontrak harga emas di London, Rabu (28/12) ditutup stagnan di level 9.070 per dolar AS.

Pengeluaran rumah tangga Jepang untuk year on year November 2011 dirilis turun jadi -3,2% dari Oktober yang dirilis hanya -0,4%. Begitu juga dengan penjualan ritelnya yang turun jadi -2,3% (year on year) pada November dari Oktober 1,9%.

Hanya saja, lanjut dia, faktor akhir tahun di mana volume perdagangan sangat tipis membuat rupiah pada akhirnya ditutup stagnan dibandingkan penutupan perdagangan kemarin. "Para investor juga lebih bersikap wait and see menunggu awal Januari 2012 sambil melihat efek window dressing," ucapnya.

Sementara itu, dari Eropa pasar masih mencermati beberapa laporan penjualan ritel terutama pada negara-negara yang sedang bermasalah dengan utang. "Kemarin, Yunani dilaporkan mengalami penurunan penjualan ritel pada musim belanja libur Natal 2011 sebesar 30% dibandingkan periode yang sama 2010. Ini menjadi indikasi bahwa Yunani masih sulit untuk lepas dari kondisi resesi ekonomi," timpalnya.

Alhasil, dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang utama meskipun ditransaksikan stagnan terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Indeks dolar AS naik 0,4% ke level 80,17 dari sebelumnya 80,14. "Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan stagnan di level US$1,3066 per euro," imbuh Christian.

Dari bursa saham, Kepala Riset Valbury Asia Securities Alfiansyah mengatakan, pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ^JKSE) sebesar 20,21 poin (0,53%) ke level 3.769,214 dipicu oleh bayang-bayang negatif yang datang dari Eropa. Menurutnya, pasar menghawatirkan ancaman downgrade dari lembaga pemeringkat pada awal 2012.

Berbagai lembaga, lanjut Alfiansyah, akan kembali mengkaji semua peringkat utang kawasan eurozone. Dikhawatirkan, mereka tidak akan segan-segan untuk kembali men-downgrade peringkat utang Uni Eropa, paparnya.

Di sisi lain, pasar juga masih mencemaskan lonjakan yield obligasi Eropa pada tiap lelang yang memberikan pengaruh cukup kuat pada pasar modal global. Pasar juga masih menantikan rencana AS untuk melanjutkan program stimulus ekonomi yakni Quantitative Easing (QE) tahap ketiga, imbuh Alfiansyah. [mdr]

#rupiah #kurs #nilai tukar #dollar #ihsg
BERITA TERKAIT
IHSG Masih Bisa Lanjutkan Penguatan
Trump Siapkan Tarif Ancaman ke China, Jika..
Inilah Pemicu Harga Minyak Jatuh 3% Lebih
Harga Emas Berjangka Bisa Bangkit
Bursa Saham AS Berani Abaikan Isu Tarif AS-China
Inilah Pemicu Kebuntuan Negosiasi AS-China
AS dan China Bisa Sepakat Sebelum Natal?

kembali ke atas