PASAR MODAL

Kamis, 29 Desember 2011 | 03:00 WIB
(AG Pahlevi)

Asing Tak Banyak Masuk pada Saham Multifinance

Ahmad Munjin
Asing Tak Banyak Masuk pada Saham Multifinance
inilah.com/Wirasatria

INILAH.COM, Jakarta Investor asing dinilai tak bisa banyak masuk pada saham-saham di sektor multifinance. Selain kapitalisasi marketnya yang kecil, juga faktor wacana pematokan DP 30%.

AG Pahlevi, analis dari PT Andalan Artha Advisindo Securities mengatakan,saham-saham multifinance, tidak bisa dibandingkan dengan saham-saham perbankan. Sebab, kapitalisasi market sektor ini kecil. Karena itu, asing pun tidak bisa masuk banyak pada saham-saham di sektor ini. Karena itu, kebanyakan pemegang saham sektor ini adalah investor lokal.

Dia merekomendasikan jual saham-saham di sektor ini untuk short term. Menurutnya, lebih baik pilih saham-saham sektor consumer goods, semen, tol yang maket cap-nya besar. Seiring invesvestment grade, asing juga akan berburu saham berkapitalisasi besar, katanya kepada INILAH.COM.

Pada perdagangan Rabu (28/12) saham PT Adira Dinamika Multi Finance (ADMF.JK) naik Rp450 (4,09%) ke level Rp11.450; PT Wahana Ottomitra Multiartha (WOMF.JK) turun Rp5 (2,17%) ke level Rp225; PT Verena Multi Finance (VRNA.JK) naik Rp7 (5,51%) ke level Rp134;

Begitu juga PT HD Finance (HDFA.JK) yang naik Rp5 (2,27%) ke level Rp225; PT BFI Finance (BFIN.JK) naik Rp625 (12,56%) ke level Rp5.600; dan PT Clipan Finance Indonesia (CFIN.JK) naik Rp5 (1,21%) ke level Rp415. Berikut ini wawancara lengkapnya:

BI mewacanakan untuk mematok DP pembiayaan sebesar 30%. Bagaimana pengaruhnya pada emiten di sektor multifinance?

Itu hanya menjadi sentiment negatif bagi saham-saham di sektor multifinance jika sudah benar-benar disahkan. Di antaranya, ADMF, WOMF, VRNA, HDFA, BFIN, dan lain-lain. Hanya saham CFIN yang tidak terdampak negatif secara fundamental. Sebab, segmen pembiayaannya adalah sektor alat berat. Emiten ini lebih terpengaruh oleh berita-berita soal batu bara.

Dilihat dari segmenya, apakah pembiayaan motor atau mobil yang paling terpengaruh?

Multifinace segmen pembiayaan motor seperti ADMF dan FIF yang paling terdampak negatif dibandingkan pembiayaan mobil. Sebab, depresiasi nilai buku pembiayaan motor terjadi sangat cepat. Misalnya, pembiayaan motor Honda dengan harga Rp11 juta. Pada tahun kedua, outstanding-nya turun menjadi Rp9 juta.

Pada saat yang sama, harga motornya pun turun lebih cepat. Padahal, nilai jaminan dari kreditnya adalah motor tersebut. Karena itu, nilai jaminannya lebih rendah daripada nilai kreditnya. Jika kreditnya macet dan jaminannya reposses oleh multifinance, saat dijual kembali, itu merupakan jual rugi.

Bukankah dengan Down Payment (DP) yang besar justru menurunkan tingkat risiko kredit?

Ya. Dengan patokan DP 30%, profil risiko industri multifinance pun menjadi turun untuk jangka panjang. Karena itu, untuk jangka pendek sentimennya negatif dan untuk jangka panjang, industri ini menjadi lebih sehat.

Bagaimana dengan profil risiko industri ini sekarang?

Hingga saat ini, profil risiko Non-Performing Loan (NPL) emiten multifinance masih berada pada level standar kesehatannya (di level bawah). Hanya saja, trennya naik. Lihat saja NPL ADMF yang menjadi benchmark di sektor ini. Pada kuartal III-2010 di level 1,1%; kuartal IV-2010 1,2%; kuartal I-2011 1,3%; dan kuartal II-2011 1,4%. Untuk September 2011, NPL-nya di level 1,4%.

Kenaikan NPL pada ADMF dipicu oleh pangsa pasarnya yang besar. Kenaikan tren NPL, juga mengindikasikan adanya penurunan kualitas kredit pada segmen pembiyaan otomotif. Memang, dilihat dari standarnya, level 1,4% sebenarnya masih aman. Tapi, tren kenaikan NPL yang menandakan penurunan kualitas kredit, patut diwaspadai. Standar kesehatan NPL perbankan di level 2,7% dan kondisi parah 5%. Sedangkan standar untuk multifinance di bawah level NPL perbankan. Karena itu, cukup beralasan bagi BI mengintervensi industri multifinance dengan rencana batas DP 30%.

Seberapa lama aturan tersebut jadi sentimen negatif?

Untuk jangka pendek (3 bulan) kenaikan DP itu akan jadi sentiment negatif dan saham-saham di sektor ini akan melemah setelah aturan itu berlaku. Sebab, investor merupakan managing shares holder sebagai penerima net income. Jadi, jika net income turun, harga sahamnya pun turun.

Bahkan, dalam sepekan sebelum ketentuan itu disahkan, pelaku pasar akan melakukan aksi jual dan eksodus ke saham-saham sektor lain. Lalu, dari sisi fundamental, volume pembiayaan juga akan turun dalam tiga bulan. Meski berpeluang masih tumbuh, tapi lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.

Bagaimana dengan faktor likuiditas?

Saham-saham multifinance, tidak bisa dibandingkan dengan saham-saham perbankan. Sebab, kapitalisasi market sektor ini kecil. Karena itu, asing pun tidak bisa masuk banyak pada saham-saham di sektor ini. Alhasil, kebanyakan pemegang saham sektor ini adalah investor lokal.

Kalau begitu, apa rekomendasi Anda untuk saham-saham di sektor multifinance?

Saya rekomendasikan jual saham-saham di sektor ini untuk short term. Lebih baik pilih saham-saham sektor consumer goods, semen, tol yang maket cap-nya besar. Seiring invesvestment grade, asing juga akan berburu saham berkapitalisasi besar. Setelah itu, tunggu harga bawah meskipun valuasi saham multifiance saat ini dibandingkan perbankan sangat rendah.

Di level berapa rata-rata valuasi saham di sektor ini?

Rata-rata Price to Book Value Ratio (PBV) sektor multifinance di level 1,6 kali. Artinya, jika investor ingin membeli saham-saham sektor multifinance bisa dilakukan pada PBV 1,3 kali atau lebih rendah (diskon) 47% dari PBV perbankan sebesar 2,7% untuk 2012. Memang Return On Equity(ROE)besar yakni 25% seperti perbankan. Tapi, karena market cap-nya kecil, meski PBV-nya murah, investor asing tidak masuk.

#saham #multifinance #asing #down payment #dp #30% #bi #a
BERITA TERKAIT
IHSG Tertekan 0,1% ke 6.136,96 di Awal Sesi
IHSG Bisa Manfaatkan Peluang Bangkit
Harga Minyak Mentah Turun Respon Sikap Trump
Harga Emas di Rekor Terendah 3 Bulan
Dow Jones Masih Bisa Pertahankan Rekor
OPEC Kurangi Produksi, AS Naikkan Ekspor Energi
Bursa Saham AS Bisa dalam Tekanan

kembali ke atas