PASAR MODAL

Jumat, 06 Januari 2012 | 17:05 WIB

Jelang Non-farm Payroll AS, Rupiah Menanjak

Ahmad Munjin
Jelang Non-farm Payroll AS, Rupiah Menanjak
inilah.com/Dok

INILAH.COM, Jakarta - Kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta,Jumat (6/1) ditutup menguat 20 (0,21%) ke level 9.090/9.110 per dolar AS dari posisi kemarin 9.110/9.120.

Analis senior Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, penguatan rupiah hari ini dipicu oleh intervensi dari Bank Indonesia (BI) yang dominan. Hal ini, kata dia, tampak dari penguatan yang hanya terjadi 1 jam jelang penutupan.

Di sisi lain, lanjut Firman, penguatan rupiah juga dipicu profit taking dolar AS oleh pasar yang mengantisipasi positif rilis data non-farm payrolls AS nanti malam. "Karena itu, rupiah ditutup pada level terkuatnya 9.090 dan 9.160 sebagai level terlemahnya dari posisi pembukaan 9.150 per dolar AS, katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (6/1).

Lebih jauh Firman menjelaskan, non-farm payrolls sudah diprediksi membaik. "Kondisi itu dilihat pasar bakal memberikan sentimen positif untuk bursa saham global dan berimbas positif bagi rupiah," timpalnya.

Sementara itu, lanjut Firman, perkembangan terakhir dari Eropa tidak begitu positif bagi market. Terutama, setelah hasil lelang obligasi Perancis menunjukkan kenaikan biaya pinjaman. "Kondisi ini, tentunya akan mencemaskan pasar tentang kemampuan pendanaan utang pemerintah di zona euro," ungkap Firman.

Yield obligasi Perancis naik dari 3,18% menjadi 3,29% untuk tenor 10 tahun. Begitu juga dengan yield obligasi dengan tenor 30 tahun yang naik dari 3,94% menjadi 3,97%.

Di lain pihak, penguatan rupiah juga karena pasar juga mengantisipasi positif rencana pertemuan German, Perancis dan Italia, awal pekan depan. "Kemungkinan, mereka akan membahas perkembangan terakhir di zona euro dan progres dari reformasi fiskal Italia apakah sesuai dengan yang diinginkan Jerman dan Perancis atau tidak," tandasnya.

Alhasil, menurut Firman, dolar AS melemah terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Indeks dolar AS melemah ke level 80,825 dari sebelumnya 80,936. "Tapi, pelemahan dolar AS bersifat sementara," timpalnya.

Pelamahan indeks dolar AS, jelas Firman, secara teknikal tampak adanya resitance yang cukup kuat pada level 81 sehingga terjadi profit taking. "Karena itu, setiap kali level tersebut dicapai, indeks dolar AS tidak bisa bertahan. Diperlukan kenaikan 81,4 untuk kenaikan dolar AS lebih lanjut. Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan melemah ke level US$1,2801 dari sebelumnya US$1,2786 per euro," imbuh Firman.

#rupiah #zulfirman basir #yield #obligasi #perancis #bi
BERITA TERKAIT
BBTN Siap Garap Dana Murah dan Pariwisata Bengkulu
Bursa Saham AS Tunggu Pidato Trump
Inilah Penggerak Bursa Saham Asia
IHSG Berani Bangkit ke 6.180,99 dengan Naik 0,5%
ASEAN Galang Kesepakatan Dagang Global
Bursa Saham Asia Bergerak Variatif
IHSG Tertekan 0,1% ke 6.136,96 di Awal Sesi

kembali ke atas