NASIONAL

Rabu, 11 Januari 2012 | 20:30 WIB

Kepicikan Politik Elit Kian Dominan

Herdi Sahrasad
Kepicikan Politik Elit Kian Dominan
inilah.com/Agus Priatna

INILAH.COM, Jakarta - Politik Indonesia semakin tidak bermutu. Perdebatan elite politisi di DPR dengan istilah ikan salmon, ikan teri asin dan ikan piranha, membuktikan betapa dangkal dan piciknya para politisi kini.

Perang statemen di antara para politikus terus saja menyesaki atmosfer politik yang makin terpuruk dengan korupsi-kolusi. Para politisi mengalami kemandegan berpikir dan berakal budi sehingga tidak ada terobosan pemikiran untuk membangun kembali Indonesia yang bersih, adil dan beradab serta berdaya saing dalam kehidupan modern di era globalisasi ini.

Semua sudah dijual oleh elite politik: daulat ekonomi, sumber daya alam dan kepentingan nasional. Bagi para elite politik, makin jelas bahwa Indonesia is for sale, kata Mayjen TNI (Purn) dr. Hariyadi Darmawan, mantan Ketua Ikatan Alumni UI.

Bahkan kini muncul lagi istilah 'ikan tongkol' atau singkatan dari 'isinya tong kosong hanya bikin dongkol', dalam perang wacana para politisi itu. Sangat menyedihkan. Adalah politikus Partai Demokrat, I Gede Pasek yang mengeluarkan istilah ikan tongkol sebagai sindiran untuk para politikus yang frustrasi karena tuduhan terkait dengan dana Bank Century mengalir ke partai yang dibina Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu tidak terbukti.

"Kalau orang Demokrat dituduh beberapa politikus ibarat ikan piranha dan ikan teri asin, politisi yang frustrasi itu mirip ikan tongkol, isinya tong kosong hanya bikin dongkol," katanya kemarin.

Kegaduhan politik berawal dari sindiran politikus Partai Demokrat Sutan Bhatoegana yang menyebut Partai Golkar dan PKS sebagai ikan salmon alias intelektual kagetan asal ngomong. Sindiran itu dibalas Bambang Soesatyo dari Golkar dengan menyebut Bhatoegana sebagai ikan teri asin. Nasir Djamil dari PKS menyebut Partai Demokrat sebagai ikan piranha, pikiran dan pembicaraan suka beda.

Saling olok antarpolitikus yang tergabung dalam Sekretariat Gabungan (Setgab) Koalisi Partai Pendukung Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono itu mencerminkan mereka punya gagasan, tidak dewasa dan lemahnya kepemimpinan politik di kalangan DPR. Sehingga yang muncul hanyalah perdebatan murahan.

"Istilah ikan salmon, ikan teri asin, ikan piranha, dan ikan tongkol itu kekanak-kanakan politik. Harusnya mereka berdebat kepada substansi kritik, bukan saling ejek. Terus terang, ini menunjukkan kemalasan berpikir, kedangkalan, kepicikan dan ketidakdewasaan, mereka semua bukan negarawan," kata Prof Iberamsjah, pakar politik dari Universitas Indonesia. [berbagai sumber]

#ikan salmon #ikan teri #ikan piranha
BERITA TERKAIT
Airlangga Goda Wapres Maruf Sebagai Mantan Golkar
Ma'ruf: Munas Golkar Dikira Panas, Ternyata Sejuk
Mundur Dari Caketum Golkar, Ini Kata Aris Mandji
UID Tunjukkan Komitmen Dukung Pemerintah
Lemkapi Optimistis Kasus Teror Novel Terungkap
Kapolri Sebut Gatot Eddy Layak Dimutasi ke Mabes
Politisi PDIP I Nyoman Dhamantra Segera Disidang

kembali ke atas