PASAR MODAL

Sabtu, 14 Januari 2012 | 12:46 WIB

Inilah Alasan S&P Turunkan Rating 9 Negara Euro

Mosi Retnani Fajarwati
Inilah Alasan S&P Turunkan Rating 9 Negara Euro
IST

INILAH.COM, Berlin - Lembaga pemeringkat Standard & Poor's menurunkan peringkat kredit sembilan negara zona euro. Peringkat Perancis dan Austria turun dari triple-A, sementara peringkat Jerman tetap.

"Penurunan rating ini terutama didorong oleh penilaian kami bahwa inisiatif kebijakan yang telah diambil oleh pembuat kebijakan Eropa dalam beberapa pekan terakhir mungkin tidak cukup untuk sepenuhnya mengatasi tekanan sistemik yang sedang berlangsung di zona euro," ungkap S&P dalam siaran pers, seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (14/1).

Di tengah potensi penurunan rating yang membahayakan, komunikasi antara pihak kreditur dengan Yunani terkait pengalihan utang menjadi hal penting untuk menghindari gagal bayar. Para pejabat menyatakan akan ada pembahsan lebih lanjut pekan depan, terkait hal tersebut.

Nantinya bila Yunani tidak dapat 'membujuk' bank dan perusahaan asuransi untuk menerima kerugian dengan sukarela atas kepemilikan obligasi mereka, maka utang jatuh tempo Yunani pada akhir Maret akan menembus 14,4 miliar euro.

S&P menurunkan rating utang jangka panjang untuk Siprus, Italia, Portugal dan Spanyol sebesar dua notch, dan memangkas rating Austria, Perancis, Malta, Slowakia dan Slovenia sebesar satu notch.

Penurunan ini menempatkan Italia pada tingkat yang sama dengan Kazakhstan yaitu BBB+ dan mendorong Portugal ke status 'sampah'. Lembaga kredit rating ini mempertahankan peringkat jangka panjang untuk Belgia, Estonia, Finlandia, Jerman, Irlandia, Luxembourg dan Belanda.

Wall Street merosot usai laporan penurunan peringkat tersebut, walau tidak merosot tajam. Euro turun lebih dari 1 sen ke US$1.2650. Bursa saham Eropa ditutup lebih rendah. Obligasi Jerman bertenor 10 tahun memasuki rekor tertinggi baru, sementara risiko surat utang Perancis, Spanyol, Italia dan Belgia meningkat.

Lembaga kredit rating menempatkan 14 negara zona euro yaitu Austria, Belgia, Siprus, Estonia, Finlandia, Perancis, Irlandia, Italia, Luxemburg, Malta, Belanda, Portugal, Slovenia, dan Spanyol pada pandangan (outlook) "negatif" dengan kemungkinan penurunan rating kembali. Jerman adalah satu-satunya negara yang bertahan dengan rating triple A dan pandangan stabil.

Pandangan negatif tersebut menunjukkan bahwa S&P yakin setidaknya akan ada penurunan rating lanjutan terhadap negara-negara tersebut pada tahun 2012 atau 2013.

Menteri Keuangan Perancis Francois Baroin angkat bicara setelah pertemuan darurat dengan Presiden Nicolas Sarkozy, dengan mengatakan bahwa penurunan rating menjadi AA+ adalah yang pertama kalinya sejak tahun 1975. "Ini bukan bencana. Ini rating yang sangat baik. Namun ini bukan berita yang baik," ungkap Baroin kepada dua stasiun televisi Perancis. Pemerintah, lanjutnya, tidak akan menanggapi dengan langkah-langkah penghematan lebih lanjut.

Pada Desember lalu, S&P menempatkan peringkat 15 negara zona euro dengan pandangan negatif, termasuk negara ekonomi terbesar Eropa yaitu Jerman dan Perancis dan menyatakan bahwa potensi sistemik akan berdampak pada pengetatan kredit.

Sejak munculnya laporan tersebut, Bank Sentral Eropa (ECB) telah mengguyur sistem perbankan dengan dana kredit murah berjangka waktu tiga tahun untuk mencegah krisis kredit. Pada saat itu, lembaga pemeringkat ini juga menyatakan adanya penurunan rating akan melemahkan posisi Fasilitas Stabilitas Keuangan Eropa (EFSF).

Para menteri keuangan zona euro melakukan kesepakatan bersama dan menyatakan bahwa mereka telah mengambil langkah mendalam untuk menuntaskan krisis utang dan mempercepat reformasi fiskal agar kondisi ekonomi lebih kuat.

Para juru runding Yunani, yang telah berulang kali meyakinkan kreditur-kreditur swasta, bahkan mengakui bahwa mereka saat ini kurang berharap banyak akan kondisi yang ada terutama dengan adanya peringatan potensi bencana besar bagi Yunani dan Eropa, jika mereka gagal. "Kemarin kita berhati-hati dan percaya diri. Hari ini kita kurang optimis," ungkap seorang sumber yang dekat dengan juru bicara Yunani yang bertanggung jawab atas negosiasi.

Lembaga Keuangan Internasional (IIF) menyatakan bahwa di tengah kondisi saat ini, dialog antara Yunani dan pihak swasta terhenti dan memberi waktu untuk refleksi tentang manfaat dari pendekatan sukarela.

Hantaman bertubi-tubi dari laporan S&P dan berlarutnya perundingan utang Yunani datang setelah awal tahun yang cerah sehubungan dengan hasil lelang obligasi Spanyol dan Italia, yang membukukan penurunan biaya pinjaman pada pekan ini.

Langkah ECB yang mengguyur perbankan dengan pinjaman murah bertenor tiga tahun cukup membantu untuk mengatasi stagnasi pemberian kredit, sekaligus menyediakan dana untuk membeli obligasi pemerintah.

Dana Talangan akan Melemah

S&P mengatakan, zona euro menghadapi banyak tekanan termasuk kondisi pengetatan kredit, meningkatnya premi risiko, dan melemahnya prospek pertumbuhan ekonomi. Tekanan juga datang dari adanya hambatan politik untuk solusi terhadap krisis karena perselisihan terbuka dan berkepanjangan di kalangan para pembuat kebijakan Eropa.

Menurut S&P, penghematan dan disiplin anggaran saja tidak cukup untuk melawan krisis utang dan menyelamatkan negara.

Perancis dan Austria berisiko karena besarnya eksposur bank kepada negara-negara zona euro dan sekitarnya seperti Hungaria, serta melemahnya prospek ekonomi untuk Eropa. Italia dan Spanyol sendiri menghadapi biaya pinjaman yang melonjak.

Pemotongan peringkat Perancis adalah kemunduran telak dan akan berdampak pada terpilihnya kembali Sarkozy pada pemilu bulan Mei mendatang. Selain itu penurunan ini bisa melemahkan dana penyelamatan zona euro, mengurangi kemampuannya untuk membantu negara-negara dalam kesulitan. Pasalnya, Perancis merupakan penjamin terbesar kedua EFSF, yang memiliki rating triple A.

#s&p #penurunan rating kredit zona euro #krisis utan
BERITA TERKAIT
Kartu Kredit Topang Transaksi di Singles Day
SMP Binaan AALI Mampu Berprestasi Skala Nasional
Buffett Kurangi Saham Apple, Beli Saham Tambang
Permintaan Minyak Mentah Naik Jadi 1,1 Juta Barel
Wow! Utang Global Kian Naik Jadi US$250 Triliun
Isu Perang Tarif Bawa Harga Minyak Naik Hampir 2%
Rekor di Bursa Saham Tekan Harga Emas

kembali ke atas