GAYA HIDUP

Sabtu, 14 Januari 2012 | 19:09 WIB

Ranu Kumbolo dan Segudang Cerita

Nury Sybli
Ranu Kumbolo dan Segudang Cerita
inilah.com/Nury Sybli

INILAH.COM, Jakarta - Kabut menggelayut menutupi jarak pandang. Hawa dingin menyeruak ke tulang sum-sum. Tapi semangat kami untuk mencapai puncak Semeru tak lantas pupus. Gunung tertinggi di pulau Jawa ini menjadi tujuan kami untuk menutup akhir 2011.

Perjalanan dimulai dari ibu kota satu minggu sebelum Desember berakhir. Bus mini yang mengangkut sedikitnya 30 orang meninggalkan Jakarta. Dan hampir 30 jam juga kemi menempuh perjalanan darat menuju Tumpang, Malang.

Tepat pukul 02.00 wib dini hari kami tiba di kediaman Bapak Laman di Desa Tumpang, Malang. Di rumah sederhana ini kami berkesempatan beristirahat dan mengepak ulang tas caril yang membawa perbekalan.

Setelah cukup beristirahat dan mengisi perut dengan nasi tempe kami bersiap melanjutkan perjalanan. Pandakian dilakukan melalui jalur pos Ranu Pani, Ranu Kumbolo, Kali Mati, Arcopodo, Mahameru.

Untuk mencapai Rane Pani kami tidak lagi menggunakan bus, melainkan JIP 4x4 yang siap menanjak dan melewati jalur yang terjal dan jalan ditutup awan. Hujan tak mau kalah mengguyur bumi. Sudah satu bulan terakhir cuaca di kawasan Semeru memang ekstrim. Tidak jarang gempa kecil terasa di desa kaki gunung berapi ini.

Cuaca di Semeru tetap tidak bisa diprediksi. Kami tetap mendaki namun jika cuaca kian buruk kami akan memutuskan untuk berkemah di Ranu Kumbolo.

Para pendaki umumnya ke Gunung Semeru sekadar berolahraga alam bebas, jarang berpetualang sambil mengeksplorasi situs-situs arkeologi di jalur pendakian yang bernilai sejarah tinggi.

Pukul 13.00 kami memulai pendakian dari pos Ranu Pani. Jalur yang dilalui cukup landai. Dari pos 1 ke pos 2, pos 3 kami belum melihat danau. Pendakian pun diteruskan.

Sekitar pukul 16.00 kami melihat pos 4 dan di sana pula kami melihat danau di atas ketinggian 2.500 di atas permukaan laut (dpl), Ranu Kumbolo. Danau memiliki pesonanya sendiri.

Semangat mencapai ke bibir danau pun semakin terpacu. Kaki terus melangkah menuruni jalur yang licin dan terjal akibat hujan. Tepat pukul 17.00 kami tiba di bibir danau.

Tenda berukuran 1800 siap didirikan sebelum hujan mengguyur dan malam menyelimuti. Ya, malam pertama di Ranu Kumbolo. Di tengah rintik hujan kami bersama 45 orang anggota Smiling Camp menyiapkan makan malam di bibir danau.

Apa menu malam ini? Telur dadar, ikan asin, sambal terasi, sarden dan berbagai aneka masakan menghiasi tenda-tenda. Tidak lupa, secangkir teh panas menemani hidangan malam itu.

Kabut tebal dan rintik hujan terus menyelimuti Ranu Kumbolo. Jaket tebal goretex dan kaos kaki menjadi sahabat kami yang paling setia. Tapi air danau terus saja menggoda untuk menceburkan diri ke dalamnya.

Aaah, andai saja saya bisa berenang bebas, saya akan berlari dan menenggelamkan diri ke pusaran danau untuk menikmati indahnya ciptaan Yang Mahakuasa ini.

Hari kedua pendakian rombongan beranjak dari Ranu Kumbolo menuju Kali Mati untuk mencapai Arcopodo. Rintik hujan tak menyurutkan pendakian. Satu malam di Kali Mati tak membuat rombongan bertahan dan meneruskan pendakian ke puncak tertinggi 3260 (dpl), Mahameru. Kami harus kembali ke Ranu Kumbolo. Cuaca ekstrem.

Meski tenda para pendaki memadati bibir danau, Ranu Kumbolo tetap memiliki pesonanya sendiri.

Di Ranu Kumbolo terdapat prasasti yang diperkirakan dibuat oleh masyarakat masa Singosari hingga Majapahit yang melakukan perjalanan spritual ke Gunung Semeru. Berdasarkan literatur juga masih ada temuan artefak yang fisiknya sekarang tidak diketahui.

Malam pergantian tahun pun tiba. Ranu Kumbolo menyambut kami dengan senyuman. Kabut tebal dan rintik hujan menjadi pemandangan yang sulit untuk diceritakan.

Selamat tahun baru 2012. [mor]

BERITA TERKAIT
Jawhara Syari ke Pentas Internasional
Manfaat Menggunakan Pil KB untuk Perempuan
Peran Ibu Sangat Besar untuk Keluarga
Perempuan Masih Bingung Pilih Metode Kontrasepsi?
Travelling ke Luar Negeri Jangan Lupa Dokumen Ini
Ratusan Pegiat Kesehatan Dukung Konservasi Penyu
Ibu Tunjukkan Peduli Bumi dengan Sehelai Pakaian

kembali ke atas