NASIONAL

Senin, 16 Januari 2012 | 19:47 WIB

Oligarki Politik Kembali Dikritik

Herdi Sahrasad
Oligarki Politik Kembali Dikritik
Hariman Siregar inilah.com/Wirasatria

INILAH.COM, Jakarta - Oligarki politik kembali menuai kritik tajam dari Tokoh Malari Hariman Siregar dalam orasinya ketika merayakan 12 tahun Indonesia Democracy Monitor dan Peristiwa Malari di Jakarta Minggu malam (15/1/12).

Oligarki politik dinilai tak perduli dengan kesulitan hidup rakyat seperti kemiskinan massal, kasus Mesuji, Bima, Papua dan protes marak kaum petani, buruh, perempuan dan mahasiswa akhir-akhir ini menunjukkan kuatnya perlawanan masyarakat menentang penghisapan dan penindasan.

Hariman melihat, negara saat ini tengah dibajak oleh kaum oligarki. Melalui demokrassi prosedural, lewat sistem kepartaian, kaum oligarki ini menguasai negara, padahal mereka tidak pernah berjuang untuk rakyat kecuali mencari uang dan keuntungan lain sehingga mereka tak punya kepekaan sosial atas derita dan kesulitan rakyat.

''Dengan kekuatan uang yang mereka miliki, kaum oligarki ini menilai rakyat tidak lebih dari angka-angka yang semuanya bisa mereka nilai dengan uang,'' kata tokoh demonstran yang sangat dekat dengan kaum mahasiswa dan pemuda ini.

Bahkan Hariman menegaskan bahwa negara dan rakyat di Indonesia era SBY sekarang ini bagai suami dan istri yang sudah cerai, namun setiap lima tahun sekali dipaksa tidur seranjang lagi untuk pemilu. Habis itu, rakyat dicerai lagi oleh negara. ''Kita melihat negara hanya mengurus urusannya sendiri, sementara rakyat juga dibiarkan sibuk dengan urusan dan masalahnya sendiri, ujarnya.

Saya kira itulah metafora yang tepat untuk menggambarkan situasi sekarang dimana lembaga eksekutif, yudikatif dan legislatif sudah tidak sejalan dengan kemauan rakyat. Karena itu, kita harus bergerak melakukan perubahan secepatnya sebelum 2014,'' kata mantan Ketua Umum Dewan Mahasiswa UI itu.

Menurut Hariman, perubahan harus dilakukan untuk menyetop dan menghentikan demokrasi prosedural, bahkan criminal, yang sudah sangat buruk dimana negara tidak lagi perduli rakyatnya, bahkan bagai suami dan istri yang sudah cerai itu.

Perubahan harus dilakukan oleh kita semua, tak bisa kita sendiri. Dan kita sebagai konstituen jalanan tidak boleh membiarkan situasi sekarang ini terus berlangsung, dimana oligarki politik dan kekuatan modal membajak dan menguasai negara, katanya.

Hadir dalam perayaan 12 tahun Indemo itu Daniel Dhakidae, Gumilang Kartasasmita, mantan DM ITB Komaruddin, Muslim Abdurrahman, Adnan Buyung Nasution, Mulyana Kusumah, Bursah Zarnubi, Nugroho Jayusman dan para aktivis dari berbagai angkatan serta mahasiswa dan masyarakat.

Ratusan hadirin mencela penguasa dan para menteri serta kelompok elite yang tidak amanah dan korup, yang ditampilkan dalam film pendek dokumenter Indemo sebagai ungkapan kekecewaan atas rezim yang bau criminal.

Hariman Siregar didampingi istrinya yakni Mbak Nuri, menyatakan tak akan berhenti mendorong dan menyemangati gerakan mahasiswa dan gerakan prodemokrasi agar terus mengoreksi dan mengkritik rezim sekarang yang membawa Indonesia semakin larut dan tergantung pada modal asing dan sistem neoliberalisme yang menyengsarakan rakyat.

Kebohongan dan pembohongan publik oleh rezim saat ini juga dikecam para aktivis dan intelektual. Bahkan para aktivis dan intelektual memberikan peringatan serius kepada penguasa dan istana melalui suara protes mereka dalam peringatan Malari kali ini..

Kita membutuhkan pemimpin yang berpihak kepada kepentingan rakyat, bukan hanya menikmati kekuasaan. Dewasa ini kita melihat keadilan sosial dan kesejahteraan rakyat makin merosot meski klaim dari pemerintah semua membaik dan ekonomi tumbuh, kata Hariman. [mdr]

#oligarki politik #hariman siregar
BERITA TERKAIT
Novel Soal Kabareskrim Baru & Kapolri Dipanggil
2019 Berat, Ketua KPK : Mungkin Perlu Merenung
Geger Ditemukan Bocah Tanpa Kepala
Nataru 2019 Jalur Tol Layang Cikampek Direkayasa
Sandi Kepergok Bawa 990 Pil Koplo di Warung Kopi
Gegara Kerang 3 Anak Terseret dan Hilang
Warga Depok, Pendaki Gunung Prau Tewas

kembali ke atas