PASAR MODAL

Selasa, 17 Januari 2012 | 18:41 WIB

China Batal 'Hard Landing', Hasrat Pasar Bangkit

Ahmad Munjin
China Batal 'Hard Landing', Hasrat Pasar Bangkit
inilah.com

INILAH.COM, Jakarta IHSG dan rupiah kompak menguat. Hasrat pasar bangkit atas aset-aset berisiko setelah data pendapatan domestik bruto (GDP) China dirilis di atas ekspektasi dan suksesnya lelang obligasi Perancis.

Analis senior Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, pengutan rupiah hari ini, ditopang oleh membaiknya sentimen. Salah satunya, dipicu oleh data-data China yang memberikan harapan akan berlanjutnya pemulihan ekonomi.

Di sisi lain, lanjutnya, data China juga menunjukkan bahwa ekonomi negara nomor dua di dunia ini tidak akan mengalami hard landing seperti yang ditakutkan pasar. China hanya akan mengalami soft landing.

"Karena itu, rupiah ditutup di level terkuatnya 9.070 setelah sempat melemah ke level 9.200 sepanjang perdagangan dari posisi pembukaan 9.190 per dolar AS, katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Selasa (17/1). Kurs rupiah $ di pasar spot valas antar bank Jakarta, Selasa (17/1) ditutup menguat 80 poin (0,87%) ke level 9.070/9.100 per dolar AS dari posisi kemarin 9.150/9.170.

Kondisi ini, lanjutnya, akan mendorong pemerintahan Beijing bisa melonggarkan kebijakan fiskal maupun moneternya. GDP China cukup positif ditopang dua data lainnya yakni retail sales dan industrial output yang mengalami kenaikan. "Semua itu, memberi sinyal, konsumsi domestik China masih tangguh sehingga menopang pemulihan ekonominya," ujarnya.

Pendapatan domestik bruto (PDB) atau GDP China dirilis lebih tinggi dari prediksi 8,7% ke level 8,9% dari angka sebelumnya 9,1%. Sementara itu, retail sales naik jadi 18,1% dari sebelumnya 17,3%. Begitu juga dengan industrial output yang naik ke level 12,8% dari sebelumnya 12,4%.

Di lain pihak, lanjut Firman, suksesnya lelang obligasi Perancis semalam, juga memberikan sentimen positif pasca-downgrade massal zona euro. Lelang obligasi Perancis hampir mencapai target 8,7 miliar euro yakni 8,6 miliar euro.

Sementara itu, yield obligasinya dengan tenor 12 minggu turun tipis ke level 0,165% dari sebelumnya 0,166%. Begitu juga dengan yield obligasi dengan tenor 25 minggu yang turun ke level 0,281% dari sebelumnya 0,286%.

Alhasil, dolar AS melemah terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Indeks dolar AS turun ke level 80,935 dari sebelumnya 81,515. Terhadap euro, dolar AS melemah ke level US$1,2773 dari sebelumnya US$1,2662 per euro," imbuh Firman.

Dari bursa saham, analis Sekuritas Ekokapital Cece Ridwanullah mengatakan, penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ^JKSE) sebesar 45,06 (1,15%) ke posisi 3.954,755 dipicu positifnya pergerakan bursa regional Asia. Karena pasar saham AS libur, bursa saham Asia mengacu ke Eropa yang bergerak positif pasca-downgrade 9 negara zona euro, ujarnya.

Kenaikan bursa saham Eropa, kata Cece, disinyalir seiring komitmen dari European Central Bank (ECB) dan petinggi Uni Eropa lainnya untuk lebih fokus pada penanganan krisis pasca-downgrade meskipun pasar belum mengetahui detilnya. Karena itu, setelah pasar melakukan profit taking kemarin, hari ini kembali buy back saham-saham meskipun IHSG sudah jenuh beli, imbuhnya. [mdr]

#rupiah
BERITA TERKAIT
Apa IHSG Bisa Keluar dari Fase Konsolidasi Pendek?
Harga Minyak Berjangka Tunggu Isyarat 15 Desember
Harga Emas Bisa Naik Tipis Cerna Putusan Fed
Inilah Sikap Fed Saat Ini
Bursa Saham AS Hanya Naik Tipis
Obligasi Indosat Senilai Rp750 M Jatuh Tempo
2 Tahun Merugi, OVO Cari Investor Baru

kembali ke atas