TEKNOLOGI

Kamis, 16 Februari 2012 | 13:14 WIB

Apple Introspeksi Benahi Kesejahteraan Buruhnya

Ahmad Taufiqqurakhman
Apple Introspeksi Benahi Kesejahteraan Buruhnya
guardian.co.uk

INILAH.COM, Jakarta - Kasus demonstrasi dan bunuh diri massal buruh Apple sangat mengejutkan dunia dalam beberapa tahun terakhir. Kini Apple secara perlahan mulai introspeksi membenahi kesejahteraan demi nama baik.

Pihak Apple mengatakan bahwa saat ini sejumlah pabrik suplier mereka di China sedang dalam pengawasan dari kantor pusat. Tim Cook, CEO Apple, mengatakan bahwa demi memastikan lingkungan kerja di sejumlah pabrik suplier di China, tim audit terus melanjutkan pengawasannya di negara itu.

"Apple sangat serius dalam memperhatikan lingkungan kerja, yang sudah kami lakukan sejak lama," ujar Cook di acara Goldman Sachs Technology and Internet Conference, di San Francisco. "Kami tahu bahwa orang-orang memiliki ekspektasi yang tinggi untuk Apple, begitu pula kami untuk diri sendiri," tambahnya.

Bulan lalu Apple sepakat membolehkan inspeksi dari pihak Fair Labour Association (FLA) ke sejumlah pabrik suplier mereka di China. Sebelumnya, dalam memprotes kondisi buruh dan lingkungan kerjanya di China, sebuah petisi dihadirkan. Apple mendapat serangan berupa petisi 250 ribu tanda tangan, terkait kasus kesejahteraan buruh di pabrik suplier mereka di China.

Kelompok-kelompok persatuan buruh menghantarkan 250 ribu tanda tangan ke Apple Store di enam kota di seluruh dunia, sebagai protes atas kesejahteraan buruh dan kondisi lingkungan kerja di China. Pabrik suplier terbesar Apple di China, Foxconn, paling banyak mendapat tuduhan karena lingkungan kerjanya yang buruk.

"Sangat menyedihkan untuk mendengarkan kisah seperti buruh loncat dari gedung dan terus menggunakan tangannya hingga tak mampu lagi," ujar William Winters, sang pencetus situs petisi Change.org.

Sampai saat ini, petisi tersebut telah dikirimkan kepada Apple Store, San Francisco. Sementara sisanya akan akan dikirimkan Apple Store di kota lainnya di AS, Inggris, Australia, dan India.

Salah satu pabrik supplier Apple di China adalah Foxconn, yang juga memproduksi merk-merk dunia lainnya seperti Samsung, Microsoft, Amazon, dan lain-lain. Namun dalam waktu dua tahun terakhir menjadi perbincangan dengan munculnya kasus bunuh diri massal serta aksi demonstrasi yang sempat dilakukan oleh para buruh pabrik tersebut.

Beberapa pengamat yang bertugas men-survei tempat produksi tersebut mengatakan bahwa vendor lain menekan buruh mereka, tapi dengan cara yang baik, tidak seperti yang dilakukan Apple.

Namun beberapa pengamat mengatakan bahwa sangat tidak adil untuk 'menghakimi' secara sepihak. Mungkin saja pihak supplier demi memenuhi permintaan kuota produk dari Apple, sehingga memperkerjakan buruhnya di luar batas-batas wajar.

Permintaan yang besar dari pasar terhadap Apple mungkin 'menggiring' mereka menekan Foxconn agar bekerja cepat, demi menyelesaikan pesanan. Bahkan artikel New York Times menulis bahwa jika Apple berkomitmen untuk membuat ponsel 'bebas konflik' tentunya akan mengubah cara kerja roda teknologi, dan membuat mereka bangkrut.

Pada 2010 lalu dunia sempat dihebohkan kasus bunuh diri karyawan supplier Apple, sehingga membuat opini bahwa perusahaan tidak memperhatikan masalah tersebut. Apple untuk pertama kalinya merilis laporan dari para supliernya, yang berjumlah 156 (Sony, Intel, Samsung, Foxconn, dan lain-lain), karena kasus yang menyeret Apple terkait bunuh diri massal karyawan di pabrik Foxconn pada 2010 lalu.

Setelah mendapat banyak kritik karena tidak menyediakan lingkungan kerja kondusif untuk para buruh yang mempopulerkan iPad dan iPhone tersebut, Apple memberitahukan kepada supplier mereka agar membuka pintu selebar-lebarnya bagi para kelompok hak-hak buruh untuk mengawasinya.

Sebuah audit internal tahunan yang dilakukan menunjukkan bahwa 38% dari supplier Apple memberlakukan 60 jam kerja dalam sepekan dan satu hari per pekan. Dalam laporan yang bertajuk Supplier Responsibility Report 2012 tersebut, Apple mengatakan bahwa mereka telah menemukan sedikit pelanggaran pada 2011 ketimbang 2010, berdasarkan 229 audit yang dilakukan tahun lalu.

Audit yang dilakukan sempat menemukan bahwa 50 persen dari pegawai mereka telah melampaui 60 jam kerja dalam sepekan. Lalu para pabrik supplier tersebut tidak membayar lembur sesuai hukum berlaku, mengabaikan hari libur, memperkerjakan anak-anak di bawah umur, lingkungan kerja tak sehat dan masih banyak yang lain-lain.

Setelah beberapa pekerja mengancam akan melakukan bunuh diri massal karena diberlakukan secara tidak adil oleh perusahaan, Foxconn sebagai salah satu suplier, mengatakan bahwa masalah dengan karyawannya telah terselesaikan.

Sudah sepatutnya tahun ini kasus HAM atau kesejahteraan buruh pabrik-pabrik suplier Apple dituntaskan. Karena suka atau tidak hal tersebut sangat mempengaruhi imej Apple itu sendiri.

Tapi layaknya korporat-korporat besar yang biasanya selalu menekan tenaga kerjanya, dan selalu 'menutupi' segala kontroversi yang ada di dalamnya, apakah langkah yang dilakukan Apple ini hanyalah sebuah pencitraan? Lihat saja nanti. [mdr]

#apple
BERITA TERKAIT
Apple Siapkan Headset dan Kacamata AR
Apple Card Dituduh Berlakukan Diskriminasi Gender
Adobe Resmi Rilis Photoshop Khusus iPad
Apple Gandeng Valve Garap Headset AR?
Apple Ingatkan Pengguna iPhone 5 untuk Update iOS
Apple Akan Hadirkan Tiga Model iPhone dengan 5G
Apple dan Disney Siap Masuki Pasar TV Streaming

kembali ke atas