EKONOMI

Senin, 27 Februari 2012 | 15:14 WIB
(Laporan Perjalanan Wartawan INILAH.COM)

Pertamina Digoyang Petral Melawan (2)

Pertamina Digoyang Petral Melawan (2)
inilah.com

INILAH.COM, Singapura Kunjungan wartawan ke kantor Pertamina Energy Services di Singapura menjadi perbincangan publik karena bersamaan dengan kedatangan mantan Anggota DPR Ade Daud Nasution yang hendak mengklarifikasi soal ketidakjelasan tender minyak mentah.

Saat sekitar 17 wartawan dari Tanah Air serius memahami sistem pelelangan yang baru berlangsung kurang dari setengah jam itu, tiga Anak Negeri masuk ke dalam ruangan presentasi. Mereka adalah bekas anggota DPR RI Ade Daud Nasution, pengacara Johnson Panjaitan dan bekas anggota DPR Boy Saur. Para wartawan tentu terkejut, tapi tuan rumah mempersilakan mereka duduk dan mulai terasa ketegangan.

Vice President Corporate Communication M Harun langsung menyambut dengan perkataan: "Wah kebetulan ini ada Pak Ade Daud dan kawan-kawan agar mereka bisa mendapatkan penjelasan soal kerja Petral. Jangan semua dipolitisir," sembari mempersilakan duduk.

Ade Nasution yang pernah duduk di Komisi VII DPR RI menimpali: "Apa yang mau dipolitisir, wong di Indonesia ini semua sudah jadi negeri politik," sambil duduk di deretan yang sama dengan para petinggi Petral.

Ade Nasution berkata, "Mumpung ada wartawan, kami akan bertanya beberapa hal soal tender Petral. Apalagi, kami kemarin sudah menjadi saksi pelapor untuk kasus Petral di KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi)."

"Pertama, kami bertanya mengapa minyak azeri milik Socar (perusahaan minyak asal Azerbaijan) sampai kalah. Padahal, sudah dilakukan pembicaraan G to G. Kemudian kan kita tahu lah, bagaimana impor ini berlangsung sampai selalu dimenangkan Gold Manor," papar Ade Daud panjang lebar.

"Apalagi kami lihat humas Pertamina ini kinerjanya buruk dalam memberikan penjelasan soal impor minyak," kata Ade. Harun yang asli Surabaya langsung menjawab: Pertamina ini sudah berusaha untuk negara tapi reputasinya dirusak dengan berbagai fitnah, katanya.

Nawazier mempersilakan kalau mau melihat prosedur lelang yang berlangsung di PES, siapa pesertanya dan mekanisme harga yang terbentuk. Tapi Nawazier menampik kalau ada dana APBN yang digunakan Petral dalam pembelian minyak. Kami tidak menggunakan dana APBN, karena murni kami mendapat dana dari perbankan, kata bekas Direktur Keuangan Asuransi Tugu Mandiri yang pernah terlibat dalam perhitungan subsidi BBM.

Nawazier menjelaskan, kekalahan Socar Trading Pte Ltd dari PTT Thailan Plc adalah karena harga yang diajukan Socar terlalu tinggi. "Sehingga kami nggak mungkin membeli dengan harga tersebut. Bayangkan dengan selisih 1,5 dolar AS dikalikan 800 ribu barel, berapa kerugian yang harus ditanggung Pertamina," cetus Nazawir dengan nada tinggi.

Mendengar penuturan tersebut, Ade Daud terlihat manggut-manggut sambil mencatat. Saat itu, politisi PBR ini tidak bisa membalas sanggahan PES. Saat itulah ahli hukum Petral Boyke Sidharta menyahut dengan keras. "Kalau dengan data itu sudah terbantah, maka mestinya laporan ke KPK harus dicabut Pak Ade."

"Wah kalau untuk cabut laporan, itu urusannya lain," ujar Ade Nasution. Ia lalu berpamitan dan bersalaman dengan para pejabat PES dan bahkan foto bersama.

Sebuah SMS masuk ke telepon genggam saya. Segera ketemu dan wawancara Ade Nasution di restoran Jade di Takashimaya. Saya katakan, tidak mungkin karena kami belum selesai mendengarkan presentasi dan mau melihat tender minyak hari ini jam 12.30 waktu Singapura. Kalau mau, wawancara bisa dilakukan setelah tender minyak selesai.

Setelah itu kami makan siang sambil mendengarkan presentasi PES lagi. Ketika agak jeda, sebuah berita masuk ke ponsel Harun yang mengatakan Ade Nasution menunggu diwawancara di gerai Louis Vuiton. Ternyata Ade Nasution bersama Johnson Panjaitan dan Boy Saur berdiri di kaki lima depan Takashimaya.

Sambil menunjuk pedagang es potong di sebelahnya, Ade berkata: Ini es potong kesukaan saya di Singapura, sembari menyalami kami: saya, cameraman Metro TV dan Mochamad Harun. Malah Ade bilang kepada Harun, bahwa apa yang dikatakannya di kantor PES tadi anggap saja tidak pernah terjadi. Keduanya juga bersalaman.

Saya diminta kameraman MetroTV untuk memegang mikrofon, padahal saya wartawan Inilah.com. Yang mewawancari Ade Nasution dan Johnson Panjaitan adalah saya, sedangkan cameraman Metro TV yang merekam. Reporter Metro TV saat itu sedang mengikuti proses tender yang sedang berlansung di kantor PES. Saya memang lupa mengenalkan diri kepada Ade Nasution dan teman-temannya, karena ingin segera mengikuti berjalannya proses tender.

Berikut wawancaranya:

Inilah.com: Siapa yang melaporkan adanya mafia minyak di Petral ke KPK?

Ade Daud Nasution: Sebenarnya yang melapor itu bukan Ade Nasution. Sebenarnya yang melapor ke KPK adalah anak negeri. Kenapa kita datang ke kantor Petral, kita nanya langsung. Mungkin data yang kita dapat itu benar atau tidak.

Kita dapat keterangan dari Direktur Petral, bahwa minyak Azeri dari Socar Azerbaijan kenapa tidak jadi dijual G to G (government to government), ternyata harga yang ditawarkan Socar anehnya kok bisa lebih mahal yang PTT Thailand jual kepada Pertamina. Hal-hal seperti harus riil dan jelas.

Tapi hal ini saya ceritakan bahwa acara Sarasehan Anak Negeri ini mendapat rating yang tinggi di Metro TV. Kita mau cerita yang sebenarnya. Kalau sudah ada tender sejak lama pasti yang memang yang harganya lebih rendah dan tidak ada mafia minyak. Yang harganya lebih rendah pasti komplain kalau kalah. Hal-hal seperti itu harus jelas

Inilah.com: Apakah Anda akan mencabut laporan ke KPK?

Saya akan ceritakan kepada KPK yang sebenarnya. Nanti kan Pertamina akan dipanggil KPK. [mdr/habis]

#Pertamina Digoyang Petral Melawan
BERITA TERKAIT
Kisruh di TVRI, Rizal Ramli Dukung Helmi
DPR Dukung Ahok dan Moeldoko Berantas Mafia Migas
Tahun Ini, Industri Baja Diramal Masih Aman
Jokowi: Jiwasraya Lama Sakit, Sembuhnya Juga Lama
Menteri Teten Siap Lelang Jabatan 3 Posisi Deputi
BPJS Makin Mahal, Partainya Prabowo Tawarkan Ini
Efeknya Minim,Jangan Mudah Tergiur Investasi China

kembali ke atas