PASAR MODAL

Senin, 27 Februari 2012 | 18:45 WIB

Pasar Tiarap Respon Yunani dan Inflasi BBM

Ahmad Munjin
Pasar Tiarap Respon Yunani dan Inflasi BBM
inilah.com

INILAH.COM, Jakarta IHSG dan rupiah kompak melemah tajam. Kecemasan pasar atas bailout Yunani dan potensi lambungan inflasi seiring rencana kenaikan harga BBM jadi pemicunya.

Analis senior Monex Investindo Futures Albertus Christian mengatakan, pelemahan rupiah hari ini salah satunya dipicu oleh adanya kecemasan pasar atas Parlemen Jerman yang sedang melangsungkan voting untuk paket bailout Yunani. Menurutnya, ada kecemasan adanya oposisi yang akan melawan rencana Kanselir Jerman Angela Merkel untuk memberikan persetujuan paket bailout untuk Yunani.

Di sisi lain, lanjutnya, secara regional juga terjadi penguatan dolar AS akibat penantian pasar atas hasil pertemuan G20 yang masih berlangsung. "Karena itu, sepanjang perdagagangan rupiah mencapai level terlemahnya 9.176 per dolar AS setelah mencapai level terkuatnya 9.094 dari posisi pembukaan 9.130," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Senin (27/2/2012).

Kurs rupiah $ pada kontrak harga emas di London, Senin (27/2) ditutup melemah 120 poin (1,3%) ke level 9.163/9.174 per dolar AS dari posisi akhir pekan lalu 9.043/9.053.

Pada saat yang sama, International Monetary Fund (IMF) mengindikasikan hanya akan berkontribusi pada bailout Yunani jika Uni Eropa bisa mengucurkan dana bailout European Finacial Stability Facility (EFSF) bersamaan dengan pengucuran dana bailout European Stability Mechanism (ESM). "Soal ini, kemungkinan akan diputuskan pada KTT Uni Eropa akhir pekan ini," ujar Christian.

Christian menegaskan, pekan ini banyak yang ditunggu oleh investor global terutama KTT Uni Eropa pada Kamis (1/3) dan Jumat (2/3).

Dari internal, pelemahan rupiah juga masih dipicu oleh outlook inflasi yang tinggi seiring rencana pemerintah menaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) per 1 April 2012. "Jika harga BBM bersubsidi naik Rp1.500 per liter, inflasi naik ke atas 5,5% melampaui target APBN 5,3%," paparnya.

Dia menambahkan, jika harga BBM naik di atas Rp1.500, inflasi bisa mencapai 7%. Itulah yang dicemaskan pasar. "Apalagi, harga minyak terus merangsek naik hingga mencapai US$110 per barel," ucap Christian.

Alhasil, dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Indeks dolar AS menguat ke level 78,55 dari sebelumnya 78,35. "Terhadap euro, dolar AS menguat ke level US$1,3423 dari sebelumnya US$1,3457," imbuh Christian.

Dari bursa saham, Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan, pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ^JKSE) 33,55 poin (0,86%) ke level 3.861,016 dipicu oleh penantian pasar atas kepastian pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

Padahal, harga minyak Nymex masih terus mengalami kenaikan. Pada perdagangan hari Jumat kemarin, harga minyak Nymex masih mengalami kenaikan sebesar US$1,94 atau setara dengan 1,8% dan ditutup di level US$109,77 per barrel. Harga minyak semakin mendekati level psikologis US$110, ujarnya.

Karena itu, Satrio menegaskan, pasar harus tetap berhati-hati. Sebab, pergerakan dari harga minyak (yang merupakan sumber dari trend turun jangka pendek ini), masih belum jelas di mana bakal berakhirnya. Harga minyak Nymex, kalau cuman melihat flat range-nya, target harganya hanya sekitar US$110 US$115 per barrel, imbuh Satrio.

#ihsg #rupiah #inflasi #bbm #bailout #yunani #albertus c
BERITA TERKAIT
IHSG Masih Bisa Lanjutkan Penguatan
Trump Siapkan Tarif Ancaman ke China, Jika..
Inilah Pemicu Harga Minyak Jatuh 3% Lebih
Harga Emas Berjangka Bisa Bangkit
Bursa Saham AS Berani Abaikan Isu Tarif AS-China
Inilah Pemicu Kebuntuan Negosiasi AS-China
AS dan China Bisa Sepakat Sebelum Natal?

kembali ke atas