METROPOLITAN

Selasa, 28 Februari 2012 | 00:04 WIB
(Penyidik Diduga Siksa Terdakwa Narkoba)

Propam Polda Metro Tolak Laporan Penyiksaan

Bayu Hermawan
Propam Polda Metro Tolak Laporan Penyiksaan
foto:ilustrasi

INILAH.COM, Jakarta - Penyidik kepolisian dari Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya diduga telah melakukan penyiksaan terhadap terdakwa narkotika, Edih Kusnadi (32). Atas perbuatannya, Adik kandung terdakwa, Suheri melaporkan oknum penyidik tersebut ke Bidang Propam Polda Metro Jaya.

Namun demikian, petugas Bidang Propam Polda Metro Jaya menolak pengaduan dari Suheri. Petugas bidang Propam Polda Metro Jaya meminta agar Suheri menyerahkan kuasa dan kronologis penganiayaan kakaknya itu ke Divisi Propam Mabes Polri.

Kami ikut perintah Mabes Polri Pak, karena kasus ini sudah lama, ujar Suheri menirukan ucapan petugas Bidang Propam Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (27/2/2012).

Menurut Suheri, penyiksaan oleh penyidik itu membuat kakaknya yang sudah divonis 10 tahun penjara dan kini mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, menderita patah tulang di tangan. Bukti bahwa tangan kakaknya patah dibuktikan dengan foto rongent dari dokter kepolisian. Kakak saya juga disetrum waktu itu. Saya tidak terima, kakak saya dianiaya Mas, kata Suheri.

Dijelaskannya, ada 18 penyidik yang memeriksa kakaknya waktu itu, tapi hanya tiga penyidik yang menganiaya. Tiga dari 18 penyidik yang dilaporkan itu berinisial, Ajun Komisaris AT, Ajun Komisaris AJ, Dan YJ.

Sebelum melapor ke Bidang Propam, kepada wartawan, Suheri menceritakan kronologisnya, serta memperlihatkan bukti-bukti penganiayaan yang akan diajukan ke petugas Bidang Propam. Bukti-bukti itu berupa foto hasil rontgen patah tulang, foto bekas luka pukulan, serta foto bekas luka setruman yang dikeluarkan dokter kepolisian.

Selain itu, dia juga menunjukan bukti surat pengantar orang sakit atas nama Edih Kusnadi tertanggal 27 Mei 2011 yang dikeluarkan Poliklinik Polda Metro Jaya bernomor Bidokkes/187/V/2011 dan secarik surat resep dokter.

Suheri mengungkapkan, penganiayaan yang dilakukan penyidik kepada kakaknya itu bermula dari penangkapan dua perantara narkotika, Iswandi Chandra alias Kiting dan Kurniawan alias Buluk pada 13 Mei 2011 silam di kawasan Jakarta Timur. Edih, kakak pelapor, kata Suheri, hanya mengenal Iswandi, sedangkan yang satunya lagi dia tidak mengenalnya.

Polisi waktu itu menyita barang bukti narkoba jenis sabu dari mereka seberat 54 gram. Kepada polisi, mereka mengaku sabu itu milik Riki yang akan dia serahkan kepada terdakwa Edih Kusnadih, selaku pemesan. Katanya dari 54 gram itu, 24 gramnya pesanan kakak saya. Ini semua rekayasa, kata Suheri.

Keesokannya, tanggal 14 Mei 2011, petugas melalui penyamaran under cover di kawasan Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat menangkap kakak pelapor. Kata Suheri, kakaknya itu dituduh polisi sebagai bandar narkoba.

Padahal polisi tidak menemukan barang bukti waktu kakak saya ditangkap. Kakak saya terbukti positif urine, setelah petugas memberi makan dan minum kopi kepada kakak saya. Diduga kopi itu sebelumnya diberikan zat mentapetamine, sehigga kakak saya positif, ujarnya.

Kendati tidak memiliki barang bukti, Edih tetap dibawa ke Polda Metro Jaya untuk dimintai keterangannya. Disinilah Edih mendapat perlakuan tidak manusiawi oleh para penyidik. Edih diduga dianiaya hingga patah tangannya dan disetrum dipaksa mengaku jika barang tersebut memang benar pesanannya.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto saat dikonfirmasi berkata, Ya silahkan saja melapor. Meski sudah jadi terdakwa dan ditahan, tapi ini dua kasus berbeda, ujar Rikwanto. [mar]

#polisi #penyidik #narkoba #penganiayaan
BERITA TERKAIT
Polisi Bekuk 55 Preman di Jakarta Selatan
Polda Metro Bongkar Penyelundupan 63 Kg Sabu
Polisi Bekuk Pengedar Narkoba Kelas Internasional
Banyak Nama Cawagub, Anies: Harus Bisa Kerja Sama
Prakiraan Cuaca Ibu Kota Hari Ini
Lagi, Prostitusi Berkedok Karaoke Ditutup Anies
Jakarta Hari Ini Cerah Berawan, Tak Sampai Hujan

kembali ke atas