EKONOMI

Kamis, 01 Maret 2012 | 18:02 WIB
(Kasus Debt Collector Citibank)

Terdakwa Pasrah Hadapi Vonis Terburuk

Terdakwa Pasrah Hadapi Vonis Terburuk
Foto: Ilustrasi

INILAH.COM, Jakarta - Terdakwa kasus dugaan pembunuhan nasabah kartu kredit Citibank Irzen Okta, mengaku siap menghadapi putusan hakim pada sidang pembacaan vonis di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Hal itu disampaikan Arif Lukman, salah satu terdakwa, menjelang sidang, dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (1/3/2012). "Perasaan saya normalnya sebagai terdakwa, harap-harap cemas. Tapi insyaallah saya siap," ungkapnya.

Namun, jika berdasarkan penilaian fakta-fakta rangkaian persidangan yang memakan waktu cukup panjang, ia mengaku optimistis hakim akan membebaskan dirinya beserta empat terdakwa lainnya yang dituntut 5 dan 7 tahun hukuman penjara oleh jaksa penuntut umum. "Setelah mengikuti rangkaian sidang yang memakan waktu cukup panjang dan melihat fakta persidangan, tidak ada yang memberatkan kami. Saya yakin dan optimistis akan bebas jika hakim menilai secara objektif dan tidak ada intervensi," ucapnya.

Dikatakannya, sedangkan jika hakim memvonisnya sesuai tuntutan jaksa, menurutnya, putusan itu bukan yang diharapkan. Namun, ia mengaku berusaha legowo dan memaafkan pihak-pihak yang telah mendzolimi karena merekayasa kasus ini. "Saya harus memaafkan mereka," ujarnya.

Arif mengaku akan berkonsultasi dengan kuasa hukum untuk mengajukan langkah hukum selanjutnya. "Kalau banding, kami akan berkonsultasi dengan kuasa hukum," katanya.

Disinggung penilaian jalannya persidangan, Arief mengaku heran dengan jaksa penuntut umum yang menuntutnya 7 tahun penjara tanpa melihat fakta-fakta hukum yang terkuak di persidangan. "Sebelum bacakan pledoi, saya berpikir, kok bisa ya fakta-fakta hukum di persidangan yang memakan waktu lama, diabaikan begitu saja, dan tuntutan hanya berdasar pada BAP. Padahal, saksi-saksi jelas mencabut BAP," bebernya.

Menurutnya, kasus ini penuh dengan rekayasa sesuai faka-fakta persidangan. "Kami menyatakan ini rekayasa, semua terungkap di persidangan," keluhnya.

Arief mengaku sedih tak bisa mendampingi sang istri melahirkan sang buah hati, Salsabila. Pasalnya, saat istrinya tengah hamil 3 bulan, ia ditahan di penjara lantaran dituduh melakukan tindak penganiayaan terhadap almarhum Irzen Okta. "Waktu saya ditahan, istri sedang hamil 3 bulan, sehingga saat melahirkan, saya tidak bisa mendampingi. Tapi saya selalu dikabari oleh keluarga," kata Arief saat ditemui di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menjelang sidang pembacaan vonis, Kamis, (1/3).

Dikatakannya, sebagai seorang ayah, ia merasa bersalah tak bisa mendampingi kelahiran putrinya yang kini telah berusia 2 bulan itu. Pasalnya, ia harus mendekam di balik terali besi lantaran dituduh telah merampas hak kemerdekaan seseorang yang menyebabkan kematian . "Seperti perasaan bapak-bapak lainnya, ya merasa kehilangan waktu untuk mendampingi anak saya," ungkapnya.

Dituturkannya, lantaran ia ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus meninggalnya Irzen Okta, sang istri (Anis) langsung pulang ke rumah orang tuanya agar tak mendengar gunjingan tetangga dirinya. "Setelah saya ditahan dan dia hamil besar, dia langsung pindah ke rumah orang tua agar tidak mendengar berita tentang saya dari tetangga," ujarnya.

Hari ini, Arief dan keempat rekan sepekerjaannya menghadapi sidang putusan majelis hakim. Sebelumnya, ia bersama Henry Waslinton dan Donald Harris Bakara dituntut 7 tahun hukuman penjara oleh jaksa penuntut umum. Pasalnya, ketiganya dianggap terbukti melanggar pasal 333 ayat (3) juncto pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Sedangkan 2 terdakwa lainnya, Humizar Silalahi dan Boy Yanto Tambunan, masing-masing ditutntut 5 tahun hukuman penjara. [*/cms]

#debt collector citibank
BERITA TERKAIT
B Corp Forum Ajak Swasta Buat Solusi Lingkungan
Bos Garuda Terseret Kasus Harley, Begini Kata Budi
Beginilah Regenerasi SDM Unggulan Ala Pertamina
Kemenkop dan UKM Perkuat Sinergi Pengembangan UMKM
Mentan Syahrul Ingin Vaksin Unggas RI Mendunia
Harley yang Ada Pesawat Garuda Milik Ari Askhara
Di War Room, Mentan Sapa Unit Kerja se-Indonesia

kembali ke atas