EKONOMI

Jumat, 09 Maret 2012 | 14:44 WIB

Indeks Kaya-Miskin China Terdistorsi

Bachtiar Abdullah
Indeks Kaya-Miskin China Terdistorsi
bloomberg.com

INILAH.COM, Beijing - Koefisien Gini atau indeks yang mencerminkan distribusi kalangan berpunya dan miskin di perkotaan ataupun pedesaan di China, telah terdistorsikan. Sehingga tidak menggambarkan keadaan sesungguhnya di negara superkaya kedua di dunia itu.

Biro Nasional Statistik (NBS) China Ma Jiantang, menyampaikan pendapatnya itu dalam diskusi panel dengan para penasihat survei pendapatan penduduk China, Rabu kemarin(8/3) seperti diberitakan Xinhua.

Indeks atau koefisien Gini mengukur ketidakmerataan antara nilai dari distribusi frekuensi, misalnya tingkat pendapatan. Koefisien Gini 0 (nol) mencerminkan, misalnya, tingkat pendapatan semua orang adalah sama. Sedangkan Gini koefisien 1 (satu) mencerminkan ketakmerataan maksimal dalam , misalnya, pendapatan. Hanya satu orang yang memiliki pendapatan, sedangkan anggota masayarakat lain tidak.

Ma mengatakan NBS tidak bermaksud menyembunyikan indeks Gini kepada masayarakat, namun survei ini tidak mampu menampilkan data yang benar-benar mumpuni karena tidak sesuai dengan metoda-metoda survei yang baru.

Menurut Ma, koefisien Gini di pedesaan China adalah 0,3897 pada tahun lalu, dekat dengan level 0,4 yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bansa. Sementara indeks Gini perkotaan China 0,33.

Jujur saja, kedua indeks Gini (pedesaan dan perkotaan) ini lebih rendah dari level sesunguhnya, ujar Ma. Menurutnya, survei pendapatan rumahtangga China dilaksanakan secara terpisah dengan menggunakan indikator-indikator yang berbeda.

Ia mengatakan. dalam survei-survei terpisah, NBS mengumpulkan data belanja rumah tangga perkotaan melalui proses pembukuan rumah tangga, sementara untuk pedesaan data diperoleh dari perhitungan pendapatan bersih rumahtangga

Karena data dasarnya terpisah, kita tidak dapat menghitung koefisien Gini yang seragam secara nasional, kata Ma, sembari menambahkan bahwa rumahtangga-rumahtangga perkotaan banyak yang enggan menyatakan pendapatan yang mereka peroleh sehingga membuat survei ini sulit dalam pelaksanaannya.

Ia juga mengatakan, NBS hanya akan mempublikasikan indeks Gini setelah menggunakan metoda survei yang sama dan menarik sample sesuai indikator-indikator yang sama dalam mengumpulkan data dari rumah tangga perkotaan maupun pedesaan. Ma mengatakan, akan menggunakan harga rumah sebagai patokan utama untuk merevisi data pendataan rumahtangga berpenghasilan tinggi. [mdr]

#china
BERITA TERKAIT
(Gaduh Laut Natuna) Nelayan Minta Jokowi Jangan Lemah Hadapi China
Gaduh Laut Natuna, Investasi China Apa Kabarnya?
Langgar ZEE Indonesia, China Harus Disadarkan
Bank Mandiri Perkuat KUR Daerah Wisata Prioritas
Menteri BUMN Diminta Awasi Kinerja Amarta Karya
KESDM Masih Hitung Penerima Subsidi LPG 3 Kilogram
Puluhan Pembangkit PLN Akan Dikonversi ke Gas

kembali ke atas