PASAR MODAL

Jumat, 09 Maret 2012 | 17:30 WIB

Ekspektasi Perlambatan China Picu Rupiah Datar

Ahmad Munjin
Ekspektasi Perlambatan China Picu Rupiah Datar
inilah.com/Agus Priatna

INILAH.COM, Jakarta - Kurs rupiah pada kontrak harga emas di London, Jumat (9/3) ditutup melemah tipis 1 poin (0,01%) ke level 9.131/9.141 per dolar AS dari posisi kemarin 9.130/9.140.

Analis senior Monex Investindo Futures Albertus Christian mengatakan, seharusnya, optimisme Eropa berdampak positif pada rupiah seiring tercapainya 80% partisipasi kreditor swasta pada debt swap Yunani. Tapi, hal itu tampak sudah terdiskon sehingga pasar lebih merespon data-data ekonomi dari China yang dirilis kurang menggembirakan.

Kondisi ini, memicu capital outflow di mana para investor melakukan aksi profit taking mengingat adanya risiko perlambatan ekonomi China yang akan berimbas ke Indonesia. "Karena itu, sepanjang perdagangan rupiah mencapai level terlemahnya 9.135 setelah mencapai level terkuatnya 9.112 per dolar AS dari posisi pembukaan 9.122, katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (9/3).

Lebih jauh Christian menjelaskan, pelaku pasar mengalihkan dananya pada aset-aset yang dipandang lebih menguntungkan dibandingkan rupiah. "Jadi, hubungan yang paling nyata adalah arus hot money jadi keluar," ujarnya.

Data-data ekonomi China yang kurang menggembirakan antara lain, inflasi China untuk Februari 2012 yang angkanya jatuh di bawah konsensus di level 3,2% (year on year) dibandingkan bulan sebelumnya 4,5%. "Level 3,2% sekaligus merupakan level terendah dalam dua tahun terakhir," timpal Christian.

Kondisi itu, lanjutnya, mengindikasikan adanya soft landing. Artinya, China mengalami perlambatan ekonomi. Apalagi, kondisi itu diperparah dengan lapporan penjualan ritel pada Januari hingga Februari yang hanya bertambah 14,7% di bawah bulan sebelumnya 18,1%.

Lalu, kata Christian, ada laporan produksi pabrik China bulan Februari yang angkanya juga jatuh di bawah bulan sebelumnya jadi 11,4% dari sebelumnya 12,8%. "Jadi, data-data ekonomi dari China secara umum justru berimbas negatif pada rupiah," timpal Christian.

Dia menegaskan, dengan memburuknya data inflasi China memicu spekulasi pasar, tentan peluang adanya pelonggaran moneter di negeri Tirai Bambu itu lebih lanjut untuk menopang pertumbuhan ekonomi.

Tapi, Christian menggarisbawahi, pelemahan rupiah hanya tipis karena masih ada optimisme dari debt swap Yunani yang menunjukkan adanya partisipasi sebesar 80% dari para kreditor swasta atau di atas target 75%. "Meskipun, Yunani sebenarnya membutuhkan 90% partisipasi untuk menghindari pemaksaan bagi para kreditor yang tidak berpartisipasi dan menanggung kerugian," imbuhnya.

Artinya, karena masih di level 80%, Yunani harus memaksa kreditor lain yang belum berpartisipasi. "Jika di bawah 75%, Yunani terancam batal untuk mendapatkan bailout tahap kedua," paparnya.

Tapi, secara umum sentimennnya positif karena Yunani berhasil mengamankan paket bailout. "Hanya saja, karena sentimen dari China negatif, rupiah pada akhirnya sideways cenderung melemah," tutur Christian.

Alhasil, dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Indeks dolar AS menguat 0,18% ke level 79,33 dari sebelumnya 79,18. "Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan menguat ke level US$1,3225 dari sebelumnya US$1,3273 per euro," imbuh Christian.

#rupiah #china #soft landing #albertus christian
BERITA TERKAIT
SMP Binaan AALI Mampu Berprestasi Skala Nasional
Buffett Kurangi Saham Apple, Beli Saham Tambang
Permintaan Minyak Mentah Naik Jadi 1,1 Juta Barel
Wow! Utang Global Kian Naik Jadi US$250 Triliun
Isu Perang Tarif Bawa Harga Minyak Naik Hampir 2%
Rekor di Bursa Saham Tekan Harga Emas
Dow Manfaatkan Pernyataan Kudlow Cetak Rekor Lagi

kembali ke atas