NASIONAL

Sabtu, 10 Maret 2012 | 02:25 WIB

IPB : Investigasi Greenpeace Tidak Valid

Bayu Hermawan
IPB : Investigasi Greenpeace Tidak Valid
IST

INILAH.COM, Jakarta - Pakar Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr Ir Yanto Santosa DEA mengatakan tudingan Greenpeace terhadap perusahaan pulp dan paper yang menggunakan kayu ramin untuk bahan baku bubur kertas, tidak bisa dipertanggungjawabkan sepenuhnya.

"Apalagi tudingan itu hanya berdasarkan investigasi, sehingga tidak mengandung kebenaran yang obyektif," kata Yanto Santosa

Peneliti IPB ini mempertanyakan investigasi yang dilakukan LSM asing yang bermarkas di Belanda itu. Ia mengatakan seharusnya, Greenpeace masuk ke pabriknya. Lihat, apakah benar mesin yang dipakai bisa dipakai untuk kayu ramin.

"Setahu saya, mesin untuk pembuat bubur kertas itu mempunyai spesifikasi tertentu, artinya hanya bisa dipakai untuk jenis kayu-kayu yang sudah ditentukan. Kalau mesin itu untuk kayu meranti, maka tidak bisa dipakai untuk kayu yang lain," ungkapnya.

Menurut Yanto, yang seharusnya dibuktikan oleh Greenpeace itu bukan sekedar tumpukan kayunya saja. Sebab, bisa saja di tumpukan kayu itu ada raminnya, tapi belum tentu kayu ramin itu dijadikan bahan baku bubur kertas.

Dikatakannya kalau sekedar mengambil sample dari tumpukan kayu di pabriknya, lalu dibawa ke laboratorium untuk diteliti, itu belum mewakili kebenaran adanya penggunaan ramin sebagai bahan baku bubur kertas.

"Bisa saja ramin ada di tumpukan kayu, tapi apakah benar dijadikan bahan baku bubur kertas, itu yang terpenting," jelasnya.

Dalam hal ini, kata Yanto, harus diketahui dengan jelas, apakah mesin pembuat bubur kertas bisa memakan semua kayu. Apalagi, selama pembuatan bubur kertas, ada proses kimiawi, sehingga tidak sembarang kayu bisa masuk ke mesin tersebut.

"Mesin itu tidak bisa sembarang memakan kayu, karena ada proses kimiawinya. Misalnya, mesin untuk mangium, tidak bisa untuk sengon, apalagi ramin," tambahnya.

Bahkan, lanjut Yanto, penggunaan kayu ramin itu sama sekali tidak ekonomis. Sebab, harga kayu ramin terbilang mahal, sehingga tidak ekonomis dalam hitungan bisnisnya, apabila hanya dijadikan bubur kertas.

"Dalam bahasa harga, jelas tidak masuk. Biasanya, untuk bahan baku bubur kertas itu, kalau tidak mangium, sengon, atau jati putih. Itu lebih masuk akal dan lebih ekonomis, karena harganya jauh lebih murah," jelasnya.

Untuk itulah, kata Yanto, sebaiknya tidak mudah menuding pihak mana pun sebelum diketahui dengan jelas kebenarannya dan bisa dipertanggungjawabkan keilmiahannya. "Kalau sekedar investigasi, tapi tidak lengkap informasinya, ya gimana bisa dikatakan benar," katanya.

Sebelumnya Greenpeace menyerahkan bukti investigasi rahasia satu tahun penuh kepada Kementerian Kehutanan Republik Indonesia yang mengungkap skandal tentang perusahaan yang mereka tuding secara sistematis melanggar hukum Indonesia dengan menghancurkan ramin.

Dari kayu yang diidentifikasi sebagai ramin, sebanyak 56 sampel dikirim ke laboratorium independen kertas di Jerman untuk diverifikasi, dimana seorang spesialis identifikasi kayu yang dilindungi secara internasional mengkonfirmasi bahwa ke-46 sampel adalah ramin.

#ipb #greenpace #investigasi #tidak valid
BERITA TERKAIT
DPR Sepakat KKB Diredefinisi Organisasi Teroris
Sambangi SKK Migas, Kapolri Siap Tindak Mafia
Pimpinan KPK Temui Pimpinan Komisi III
Bertemu Yusril, Ketua DPD Bahas Sejumlah Isu
Ini 2 Kandidat Cawagub DKI Sudah Disetujui
Mayat Tanpa Kepala Ditemukan di Pantai Selok Anyar
Calon Istri Tak Tahu Ponari Pernah Tenar

kembali ke atas