KARIKATUR

Rabu, 14 Maret 2012 | 03:53 WIB
(Agung H Soehedi)

Di-PHK Boeing, Sukses di AS

Di-PHK Boeing, Sukses di AS
Herdi Sahrasad dan Ir Agung H Soehedi inilah.com

INILAH.COM, Seattle - Menjadi warga Amerika yang baik, harus dibarengi dengan skill atau keahlian yang baik pula, dengan perilaku dan tutur kata yang berkebajikan. Agar menjadi bagian integral dari masyarakat AS yang bermartabat.

Termasuk jatidiri, semangat mandiri, keahlian dan pendidikan menjadi kunci kesuksesan dalam mewujudkan cita-cita dan impian bagi WNI di negeri ini. Itulah sekelumit falsafah Ir Agung H Soehedi, sosok yang tahan banting setelah sempat mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) di Boeing Company, perusahaan yang didirikan William Boeing, di Amerika.

Karena itu, saya yakini karakter dan pendidikan dalam arti seluas-luasnya, menjadi kunci keberhasilan warga Indonesia yang merantau di luar negeri, termasuk di negeri Paman Sam ini, ujar alumnus Teknik Sipil Institut Teknologi Nasional (Itenas), Bandung yang ditempa Prof Habibie menjadi analis struktur pesawat terbang ini, saat ditemui di Seattle, baru-baru ini.

Agung tetap mengembangkan keahlian teknik sipilnya, meski ia sejak lulus sarjana, lebih banyak belajar dan mengembangkan keahlian Aeronatikanya. Ilmu itu saling melengkapi, tidak ada yang serba sempurna, justru dalam teknologi, interdisipliner juga menjadi kunci, kata Agung yang menikah dengan gadis Yogyakarta, Yani O Soehedi dan dikarunia dua puteri (Livi dan Shasha) dan dua putera (Adi dan Nouval).

Puteri pertamanya. Livi, sudah sarjana dan memilih bekerja di perusahaan swasta di Jakarta, sementara Shasha, Adi dan Nouval menempuh pendidikan di sekolah negeri, Seattle dengan prestasi yang cukup bagus .

Agung menilai, potensi ilmu dan teknolog anak anak negeri bangsa sangat tinggi dan beragam, sayang bahwa negara kurang mampu mengoptimalkannya karena korupsi merajalela dan membudaya meski demokrasi sudah ditegakkan.

Ia beranda-andai, jika korupsi, kolusi dan nepotisme bisa dibabat/dihabisi pemerintah SBY, maka potensi anak Indonesia akan melaju ke depan dengan pesat. Namun karena yang terjadi justru sebaliknya, maka rakyat Indonesia yang menanggung dampak buruknya.

Rakyat kecil hidup makin miskin dan sulit di tengah kekayaan alam yang melimpah. Ibaratnya, rakyat menjadi tikus yang mati di lumbung padi karena Indonesia tidak dikelola dengan baik, malah under-managed dan mismanaged dewasa ini, bebernya.

Coba kalau pajak, pertambangan dan hasil alam dikelola secara baik dan maksimal, akuntabel dan transparan tanpa intervensi politisi, mafia atau sejenisnya, Indonesia sudah jauh lebih baik. Semua kelas terpelajar tahu bahwa ada mafia yang menguasai ekonomi-politik di Indonesia. Itulah pentingnya media dan LSM serta mahasiswa melakukan kontrol demokratis ketika DPR lemah menjalankan check and balance, ujarnya di Seattle, kemarin malam.

Agung Soehedi punya pengalaman hidup menarik. Setelah mundur dari Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) Bandung, kini PT Dirgantara Indonesia, akibat krisis moneter 1998, ia menjalani tes bekerja di Boeing dan diterima. Pada awal 2001 ia pun bertolak ke AS bekerja di Boeing Company. Namun seiring dengan terjadinya serangan Bom WTC 11 September 2001 di Amerika Serikat, pria kelahiran Temanggung, Jawa Tengah, 8 Mei 1963 tersebut harus kehilangan pekerjaan yang dicintainya yakni dunia dirgantara.

Tapi terkena PHK dari Boeing, justru membuatnya tahan banting, tidak pernah menyerah. Tuhan menakdirkan suami saya demikian, kami diuji dari bawah, dari kontrakan di sini, makanya tahan banting. Percayalah, Tuhan tidak pernah diam, dan kita harus berusaha, sampai berhasil, kata Yani Soehedi, sang istri yang menyetir mobil sendiri mengantar anak ke sekolah tiap hari.

Agung masih ingat, tragedi WTC yang menewaskan lebih dari tiga ribu jiwa itu membuat jutaan orang emoh memakai transportasi udara. Akibatnya, permintaan pesawat menurun drastis dan memaksa Boeing, pabrik pesawat raksasa dan tertua di dunia yang berbasis di Seattle, Amerika Serikat, tempat Agung bekerja selepas dari IPTN, mesti mem-PHK puluhan ribu karyawan.

Saya kena PHK yang menyedihkan, kali ini di Amerika, ujar Agung yang saat itu baru setahun masuk Boeing. Makanya, teman-teman jebolan IPTN di sini bilang, di PHK Boeing membuat Mas Agung tahan banting, kata alumnus ITB Ir Soepeno menirukan ucapan para rekannya dari IPTN yang sudah pada mapan di Boeing.

Karena sudah membawa istri dan anaknya boyongan ke Seattle, Agung pun mesti kreatif dan proaktif, untuk bertahan hidup. Ia pun akhirnya rela bekerja apa saja untuk menafkahi keluarga. Menjadi tukang cuci mobil, sopir shuttle bus, pengatur dan pembuat taman, tukang memperbaiki rumah, hingga mendirikan perusahaan perumahan, semuanya pernah dia jalani, membuatnya makin teruji dan tahan banting.

Bersyukur bahwa usaha terakhirnya itu membuat Agung menemukan keberhasilan dan keberuntungan. Usaha saya dan partner bidang property investment, sangat maju, sehingga saya mampu membeli rumah idaman, katanya.

Rumah Agung menjadi tempat berkumpul mahasiswa dan pemuda asal Indonesia, bahkan tempat penitipan barang-barang mereka. Rumahnya yang asri di kawasan Kent, Washington menjadi semacam base camp mahasiswa Indonesia, yang dianggapnya seperti keluarga sendiri. Itulah setitik nasionalisme orang kita di negeri rantau.

Tapi, tetap saja kesuksesan itu tak mampu menghapus kecintaan Agung kepada dunia aeronautika. Meski dua kali mengalami pengalaman pahit, ketika pada 2003 Boeing menawarinya untuk bekerja lagi seiring pulihnya pasar pesawat, Agung tak butuh waktu panjang untuk mengiyakan.

Partner saya tak mau melepas, tapi saya bersikeras kembali ke Boeing. Makanya, saya kembali bekerja di Boeing sampai sekarang dan sampai pensiun usia 60-70 nanti, Insya Allah, ujarnya.

Agung sangat menyukai dunia Aeronatika. Pilihan itu terbukti tepat. Di industri pe-sawat yang didirikan William Boeing itu karir Agung terus menanjak, meski bisnis bersama sang partner tetap dijalankan secara penuh.

Kini alumnus SMAN 3 Bandung tersebut menduduki jabatan structural analysis engineer. Pesawat produksi Boeing yang pernah ditangani sektor stress analysis-nya untuk Nacelle Structure adalah Boeing 737 dan Boeing 757.

Agung adalah satu di antara sekitar 30 orang Indonesia yang kini berkarir di Boeing. Mayoritas jebolan IPTN alias PT DI. Mereka tersebar di berbagai departemen, semuanya di bagian engineering, sebagai insinyur. Dari ke-30 orang itu, tak sedikit pula yang menduduki posisi senior dan berpengaruh karena skill yang mereka miliki.

Hal itu menunjukkan kapasitas dan kualitas Agung dkk yang sangat dihargai di Boeing. Agung mengakui bahwa apa yang mereka capai saat ini tak lepas dari latar belakang pengalaman dan training mereka di IPTN, yang menempa pembentukan kualitas dan profesionalitas.

Dengan kata lain, IPTN telah menempa mereka hingga memiliki kualitas dunia untuk bidang teknologi pembuatan pesawat. Di Boeing, kalau kita sebut IPTN, maka jelas tidak meragukan. Memudahkan untuk diterima sebagai insinyur, kata Agung di Seattle.

Agung menyatakan, puluhan alumni IPTN di Boeing membuktikan bahwa insinyur Indonesia tidak kalah dengan warga Amerika atau bangsa-bangsa lain di dunia. Tapi Agung mengaku bahwa di balik kebanggaan itu juga tersembul kesedihan dan kegelisahan karena semua kemampuan iptek yang dimiliki tak bisa dikembangkan atau dipakai di Tanah Air akibat krisis moneter 1998.

Indonesia adalah Indonesia, apapun keadaannya, kita selalu mencintainya dan ingin suatu ketika pulang kembali ketika pensiun dari Boeing nanti. Doakan ya, imbuhnya. [mdr]

#Agung H Soehedi #iptn
BERITA TERKAIT
Exco PSSI: Joko Driyono Masih Plt Ketum PSSI
Laba Melompat, Bisnis Pegadaian Lari Kencang
Pentingnya Bermusyarawarah
Jika Pecat Sarri Chelsea Sulit Cari Pelatih Baru
Microsoft Bawa Antivirus Defender ke MacOS
Ingin Naik MRT atau LRT, Ini Harga Tiketnya
Joko Driyono Resmi Ditahan, Ini Pernyataan PSSI

ke atas