SINDIKASI

Rabu, 01 Agustus 2012 | 02:40 WIB

Mantan Gubernur Sumbar Wafat

Haluan Padang
Mantan Gubernur Sumbar Wafat
H Zainal Bakar SH Ist

INILAH.COM, Padang - Sumbar kehilangan salah satu putra terbaiknya. Selasa pagi (31/7), sekitar pukul 07.15 WIB, mantan Gubernur Sumbar H Zainal Bakar SH meninggal dunia di RSUP M Djamil Padang.

Para pelayat dari berbagai kalangan pun berdatangan ke rumah duka di Jalan Kali Serayu, Kota Padang. Di antaranya terlihat Gubernur Sumbar Irwan Prayitno, Wakil Gubernur Sumbar Muslim Kasim, Ketua DPRD Sumbar Yultekhnil, Sekdaprov Sumbar Ali Asmar, seluruh pimpinan SKPD serta para staf di lingkungan Pemprov Sumbar serta bupati/walikota di Sumbar.

Pimpinan partai politik di daerah ini juga tampak hadir, LKAAM Sumbar, KPU Sumbar serta para pamong senior seperti mantan Sekdaprov Sumbar Rusdi Lubis, mantan Walikota dan Bupati Solok Hasan Basri, mantan kepala Dispenda Yenifra, mantan Kepala BPM Nazif Lubuk dan istrinya mantan Wakil Ketua DPRD Sumbar Titi Nazif Lubuk serta yang lainnya.

Kepala mereka terpekur memanjatkan doa untuk orang yang dicintai dan disayangi. Penghormatan yang diberikan bukan semata karena almarhum pernah menjabat sebagai Gubernur Sumbar. Tetapi lebih dari itu, sosok almarhum Zainal Bakar juga bagaikan guru dan teman bagi mereka di samping sebagai pamong senior.

Almarhum Zainal Bakar adalah sosok pemimpin yang egaliter, tegas dan tahu betul dengan bidang tugasnya. Beliau juga yang mengajak saya pulang kampung mengabdi di Ranah Minang ini, ujar Wakil Gubernur Sumbar Muslim Kasim mengenang.

Saat itu Muslim masih menjabat sebagai Kepala Dolog di Bali. Ketika Zainal Bakar dan rombongan Pemprov Sumbar berkunjung ke pulau dewata, Zainal menawarinya pindah ke Padang. Gayung bersambut, Muslim pun menyetujuinya. Hal itu tak kan pernah dilupakannya.

Sepekan terakhir, kondisi kesehatan almarhum terus menurun. Pihak keluarga membawanya ke RSUP M.Djamil. Gubernur Sumbar Irwan Prayitno dan Wakil Gubernur Sumbar Muslim Kasim berkesempatan membezuknya di rumah sakit sambil berdoa untuk kesembuhannya. Namun Tuhan berkata lain. Dia pergi menghadap Illahi dalam usia 72 tahun.

Almarhum dimakamkan di kampung halamannya, pandam pekuburan Keluarga Besar Rang Kayo Ganto Suaro, Nagari Pilubang, Sungai Sirah, Kecamatan Sungai Limau, Kabupaten Padang Pariaman. Sebelum dibawa ke Pariaman, jenazah almarhum disemayamkan di Kantor Gubernur Sumbar.

Gubernur Sumbar Irwan Prayitno didampingi Wakil Gubernur Sumbar Muslim Kasim, Ketua DPRD Sumbar Yultekhnil dan jajaran Pemprov Sumbar memberikan penghormatan terakhir sebelum melepas jenazah menuju peristirahatannya yang terakhir.

Istri almarhum Zuarna Azziano terlihat tabah menghadapi cobaan ini. Begitu pula ketujuh putra yang ditinggalkannya. Masing-masing Is Prima Nanda, Sania Putra, Trimon Satari, Boy Richardson, Oky Parman, Y.Adriansyah Zain dan Poetri Fitria dan kerabat lainnya.

Gubernur Sumbar Irwan Prayitno dalam sambutannya saat melepas jenazah mengungkapkan duka yang mendalam. Masyarakat Sumbar kehilangan salah satu putra terbaiknya, sosok yang berjasa bagi pembangunan di daerah ini. Sebut saja pembangunan jalan layang Kelok 9 dan Bandara Internasional Minangkabau (BIM) dimulai pada masa kepemimpinannya sebagai Gubernur Sumbar.

Belum lagi jasanya ketika mengabdi sebagai Bupati Padang Pariaman. Berbagai penghargaan pun berhasil diraihnya. Pengabdian Zainal Bakar untuk Ranah Bundo ini tak dapat dibilang. Dia merintis karir mulai dari bawah sebagai PNS golongan IIIA, tahun 1967.

Kita merasa sangat kehilangan dengan kepergian beliau. Semoga jasa beliau dalam membangun Sumbar menjadi amal baik yang mengalir terus untuknya. Dan kita yang hidup ini, suatu saat juga akan menyusul beliau, ucap Irwan.

Di Mata Masyarakat

Di antara pelayat yang hadir, tampak anggota KPU Sumbar Mufti Syarfie. Matanya berlinang. Dia tak dapat menyembunyikan kesedihan hatinya. Sewaktu kepemimpinan Zainal Bakar, Mufti tercatat sebagai wartawan Harian Haluan yang bertugas di Kantor Gubernur Sumbar.

Baginya, Zainal Bakar bukan semata narasumber untuk mendapatkan berita-berita aktual saja. Tetapi juga sebagai guru, orang tua bahkan sebagai teman. Yang paling diingatnya, sosok Zainal sangat terbuka dan selalu menjalin komunikasi dengan seluruh kalangan. Tak ada persoalan yang tak bisa diselesaikannya.

Pak Zainal sangat terbuka orangnya. Suka berkomunikasi dengan siapa saja. Bila ada masalah, dia akan berupaya melakukan pendekatan dan menjalin komunikasi dengan pihak tersebut sehingga suasana menjadi mencair, katanya.

Di kalangan kuli tinta saat itu, Mufti memang dikenal paling dekat dengan almarhum. Setiap kali kunjungan kerja ke kabupaten/kota, Mufti selalu di mobil dinas BA 1 mendampingi sang gubernur. Tak mengherankan bila informasi aktual tentang pemerintahan termasuk kebijakan yang diambil Zainal Bakar selaku Gubernur Sumbar, selalu diceritakan padanya.

Namun almarhum Zainal tak lupa pula bercerita latar belakang kebijakan yang diambilnya. Sehingga dia punya pemahaman yang komprehenshif tentang persoalan tersebut. Zainal juga mendengarkan aspirasi yang disampaikan kepadanya. Jangan heran, bila masa itu para wartawan turut memberi warna di pemerintahan daerah.

Pada bagian lain, Mufti mengenang kesukaan beliau pada makanan. Tidak ada yang berpantang baginya. Semua makanan disukainya. Dinama kuliner yang enak, pasti akan dicarinya. Terutama sate dan lotek.

Tak jauh berbeda kenanganan yang dibeber Syofyan, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sumbar dan Suhermanto Raza, Kepala Biro Pemerintahan dan Administrasi Rantau Setdaprov Sumbar terhadap sosok Zainal Bakar. Suaranya lantang, kadang membuat nyali ciut. Tetapi sebenarnya dia sangat dekat dengan staf, tak ada jarak berarti.

Beliau benar-benar seorang pamong senior, sangat paham tentang pemerintahan. Suaranya besar dan lantang. Kalau marah membuat nyali kita ciut, kenang Syofyan.

Begitu pula ketika berbeda pendapat dengannya. Berdebat tentang suatu hal dengannya harus disertai dengan alasan tentang kebaikan dan keburukan bila hal itu dilaksanakan. Awalnya beliau tidak bisa terima. Tetapi kemudian dia membenarkan apa yang dikatakan stafnya.

Dengan suara besar dan lantang, dia akan mendebat kita. Yang pasti kita jelaskan tentang hal baik dan buruk bila dilaksanakan. Awalnya dia tak bisa terima. Kemudian dia akan katakan, bahwa kita benar. Begitulah dia, ucap Suhermanto.

Seorang pelayat lainnya menimpali, Bara bana berangnyo ka awak, tapi nan awak ko beko lalu juo mah, katanya. Maksudnya, walau almarhum marah pada stafnya, tapi yang diminta stafnya tetap dikabulkan.

BERITA TERKAIT
Trump Pamer Keampuhan America First di Davos
Berbagi Tugas Mulia, Menyimpulkan Kehidupan
Ezechiel Tinggalkan Persib Gabung Bhayangkara FC
Praperadilan Ditolak, KPK Kebut Penyidikan Nurhadi
Tata Nexon Dibekali 35 Fitur Konektivitas
ReJO: Jadi Relawan Harus Didasari Niat Tulus
Pemprov Jatim Gelar Aksi Resik-Resik Sungai

kembali ke atas