TEKNOLOGI

Kamis, 09 Agustus 2012 | 17:17 WIB

Arief Rachman: Pendidikan di Indonesia Masih Kaku

Riza Pahlevi
Arief Rachman: Pendidikan di Indonesia Masih Kaku
Guru Besar Universitas Negeri Jakarta Arief Rachman inilah.com

INILAH.COM, Bandung - Pengamat pendidikan dan Guru Besar Universitas Negeri Jakarta Arief Rachman menilai pendidikan di Indonesia masih sangat kaku. Sehingga dalam pembelajaran, seorang anak masih sulit untuk tumbuh kembang.

"Sudah saatnya sistem pembalajaran harus ditata dengan baik. Dengan sistem pembelajaran dengan membebaskan siswa dalam berkreativitas itu salah satu cara untuk menghasilkan generasi yang aktif dan produktif," kata Arief saat ditemui INILAH.COM usai menjadi narasumber Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) di Sasana Budaya Ganesha Kota Bandung, Kamis (9/8/2012).

Arief mengatakan selama ini kalangan pendidik dan pengajar kebanyakan hanya memusatkan perhatian pada orientasi hasil, bukan proses pembelajaran.

Melihat dari fenomena tersebut, maka dengan ini dalam dunia pendidikan harus ada rekonstruksi terhadap proses pembelajaran, ujar Arief yang juga menjabat selaku guru besar Linguistik di UNJ.

Selain itu saat ini sikap guru kurang mendukung pembentukan sikap pada siswa, lanjutnya, sehingga yang terjadi hanya transfer ilmu dan pengetahuan, bukan transformasi sikap kepada pelajar. Untuk pelajaran Pancasila, misalnya, siswa hanya mengetahui isi pelajaran Pancasila tanpa mengetahui cara bersikap dari nilai-nilai Pancasila.

Arief menjelasakan dalam hal ini peran orang tua juga tak luput dari tanggung jawab karena harus menanamkan sikap kepada putra-putri mereka. "Seperti contoh, bagaimana bersikap sesuai dengan agama Islam, bahwa di dalam Islam tidak disebutkan bagaimana membentuk negara Islam, tapi bagaimana memperkokoh kehidupan masyarakat Islam," ungkapnya

Dirinya menilai selama ini fenomena yang muncul dalam dunia pendidikan nasional adalah perhatian pada kekuatan kognitif siswa semata, bukan penekanan pada sisi afektif mereka. Ibaratnya, pengetahuan sudah dikemas dengan baik, sedangkan sikap sebagai akibat dari pengetahuan justru tidak dikuasai siswa.

Hal tersebut terjadi karena selama ini dunia pendidikan hanya fokus pada hal-hal yang dapat diukur dan diamati. Padahal, hal-hal yang tidak terukur dan teramati justru lebih penting, tegasnya.

Sementara itu berdasarkan pandangannya, munculnya gaya hidup yang berbahaya dalam kehidupan berbangsa, yakni segala aktivitas masyarakat hanya terpaku pada hasil, bukan proses. Apalagi ditambah dengan budaya hidup serba instan. Saat ini kebanyakan masyarakat bersifat materialistis serta cenderung tidak sabar, itu semua terjadi karena spiritualitasnya mereka lemah, tutur Arief..

Menurutnya, tak hanya proses pembelajaran untuk pembentukan sikap, pada dasarnya kekeliruan pendidikan nasional terletak pada sistem evaluasi. "Selama ini yang dievaluasi hanya nilai, sedangkan sikap pelajar sering diabaikan guru. Yang penting bukan mata pelajarannya, tapi proses dan evaluasinya," paparnya.[jul]

#hakteknas
BERITA TERKAIT
Samsung Siap Produksi Massal RAM Kapasitas Jumbo
Tebar Pesona Mobil Konsep Lexus LF-1 di GIIAS 2019
Jajaran Produk MASTER Terbaru Hadir di GIIAS 2019
Lebih Segar, Gojek Punya Logo Baru
(GIIAS 2019) Mencoba Fitur Honda SENSING Lewat Simulator VR
Google Tingkatkan Hadiah bagi Para Pemburu Bug
MediaTek Siapkan Chipset Gaming Helio G90

kembali ke atas