EKONOMI

Senin, 10 September 2012 | 12:00 WIB
(Majalah InilahREVIEW Edisi ke-02 Tahun II)

Maryono, Membawa Keajaiban di Mutiara

Hideko
Maryono, Membawa Keajaiban di Mutiara
Maryono, Direktur Utama Bank Mutiara ist

SEBAGAI Direktur Utama Bank Mutiara, Maryono sebenarnya bisa mudik ke Rembang dengan cepat dan tidak melelahkan. Dengan gaji besar sebagai eksekutif papan atas, ia dan keluarganya bisa menggunakan transportasi udara ke Solo atau Yogyakarta, kemudian dilanjutkan dengan menggunakan transportasi darat menuju kampung halamannya. Namun Maryono dankeluargamemilih mudik dengan menggunakan mobildari Jakarta menuju Rembang.

Bagi orang yang tak terbiasa menempuh perjalananjauh, tentu ini sangat melelahkan. Maklum, untuk bisa sampai ke kota Rembang, Maryono dan keluarganya harus menembus kemacetan sejauh 536 kilometer. Tapi, bagi Maryono, mudik ke kota kelahirannya justru menjadi perjalanan yang mengasyikan. Tak hanya itu. Dari perjalanan mudik itu saya bisa merasakan dan bersyukur atas apa yang telah saya terima selama ini, katanya.

Banyak hal dilakukan Maryono agar acara pulang kampung terasa tidak membosankan danmelelahkan. Salah satunya adalah memanfaatkan momen tahunan itu untuk melatih kepiawaiannya dalam menggunakan kamera. Seru, apa saja saya potret,katanya. Sejak dua tahun belakangan, alumni Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro ini memang memiliki hobi baru:fotografi.

Sebelum menekuni fotografi,Maryono lebih sering menghabiskan waktu luangnya dengan bermain golf. Namun sejak dipercaya menjadi Direktur Utama Bank Mutiara (dulu benama Bank Century), mantan bankir Bank Mandiri ini tak memiliki waktu luang lagi untuk bermain golf. Maryono pun kemudian memilih kegiatan fotografi untuk mengurangi stress yang dirasakannya. Mengurus Bank Mutiara ternyata lebih susah dari mengelola bank baru,katanya.

Menjaga diriagar tetap fresh dan tidak stress sangat pentingbagi Maryono. Apalagi ia mendapat tugas membenahi Bank Mutiara dan menggembalikan uang negara yang dipakai untuk menyelamatkan bank tersebut. Diakui olehnya,permasalahan yang dialami Bank Mutiara sangat kompleks, lebih susah dari yang ia duga sebelumnya. Namun karena menjadi nakhoda Bank Mutiara dianggapnya sebagai tugas negara, Maryono pun bertekad untuk menyelesaikan tugasnya itu dengan sebaik-baiknya.

Layaknya seorang dokter, Maryono berusaha sekuat tenaga untuk memulihkan kesehatan pasiennya. Proses pemulihan bankyang diambil alih kepemilikannya oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) pada 2008 ini boleh dikatakan berlangsung cepat.

Bank Mutiara berhasil keluar kondisi Bank Tidak Sehat menjadi Bank Sehat hanya dalam waktu satu tahun,dan mentas dari status Bank Dalam Pengawasan Khusus menjadi Bank Dalam Pengawasan Normal dalam 2,5 tahun. Banyak yang tidak mengira bank ini dapat memperbaiki dirinyabegitu cepat,kata Maryono.

Bahkan Maryono sendiri mengakui, pemulihan yang terjadi di Bank Mutiara merupakan sebuah keajaiban. Bagaimana tidak? Saat diambil alih LPS, rasio kecukupan modal atau CAR (capital adequacy ratio) -23%. Namun, per 30 Juni 2012, CAR Bank Mutiara sudah mencapai 11,1 %. Kredit bermasalah atau NPL (non performing loan) pun turun dari 10,4% menjadi 3,4%. Sudah di bawah batas ketentuan Bank Indonesia, yakni maksimal sebesar 5%.

Kepercayaan dan loyalitas

Tak hanya sehat, Bank Mutiara juga mampu memberikan keuntungan bagi pemerintah. Tahun lalu, misalnya, Bank Mutiara berhasil membukukan laba bersih Rp 260 miliar. Tahun ini, sampai semester I, bank ini berhasil membukukan laba bersih Rp 83,8 miliar atau meningkat 309,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Padahal, saat diambil alih oleh LPS pada tahun 2008, Bank Mutiara masih mengantongi kerugian Rp 7,2 triliun.

Mantan bankir Bank Mandiri ini menceritakan, saat itu Bank Mutiara harus menghadapi berbagai masalah internal dan eksternal yang berat. Seperti diketahui, secara eksternal kepercayan masyarakat terhadap bank ini luntur. Apalagi setelah terkuaknya kasus Bank Century yang akhirnya merembet ke ranah politik. Di sisi lain karyawan bank yang sebelumnya tidak mengetahui kondisi banknya, sempat patah semangat dan kehilangan harapan.

Kepercayaan nasabah dan loyalitas dari para karyawan menjadi dua pilar yang mampu menyangga Bank Mutiara tetap berdiri hingga kini. Ada sejumlah strategi yang dilakukan manajemen dalam mengatasi krisis di bank ini. Selama tiga bulan pertama, Maryono menetapkannya sebagai fase survival. Bila selama tiga bulan pertama Bank Mutiara bisa bertahan, ada harapan untuk dapat hidup terus. Namun bila tidak berhasil, Maryono sudah menyiapkan usul kepada pemerintah untuk menutup saja bank ini.

Tak hanya itu saja. Manajemen juga berusaha mengatasi penarikan dana dan melakukan pendekatan kepada nasabah potensial untuk tidak menarik dananya dari Bank Mutiara. Pendekatan itu dibarengi dengan menjelaskan apa saja yang akan dilakukan manajemen dan bentuk dukungan dari pemerintah seperti menjamin dana nasabah.

Setelah melakukan pendekatan seperti itu, Hebatnya banyak nasabah yang malah menambah dananya ke Bank Mutiara. Padahal di antara mereka ada yang telah kehilangan uang akibat kasus Antaboga, ujar Maryono.

Sementara itu dari sisi internal, untuk membangitkan semangat dan harapan dari para karyawan, manajemen memberikan pengertian bahwa keputusan pemerintah untuk mem-bailout Bank Mutiara ini tak boleh disia-siakan. Sebab, jika saja pemerintah memilih menutup Bank Mutiara, karyawan akan kehilangan pekerjaan.

Hasil kerja keras manajemen dan karyawan tak sia-sia. Kini sejumlah investor telah menyatakan minatnya untuk membeli Bank Mutiara. Kebanyakan mereka merupakan investor luar negeri. Saya sih berharap divestasi bank ini akan dibeli oleh investor domestik, ujar pria yang kini telah berusia 57 tahun ini. Mungkinkah harapan Maryono bisa menjadi kenyataan, kita tunggu saja.

Selengkapnya, artikel ini bisa disimak di majalah InilahREVIEW edisi ke 02 Tahun II yang terbit Senin, 10 September 2012. [tjs]

#ireview22 #mutiara #maryono
BERITA TERKAIT
Inilah Persiapan PLN Sambut Kendaraan Listrik
Tuduhan Feedmill Picu Mahalnya Jagung Tak Bernalar
Kemenkop & UKM Gandeng TopKarir Atasi Pengangguran
DPR Ungkap PNBP Kelautan Bebani Nelayan
(Pulihkan TBBM Donggala) Pertamina Bagikan Penghargaan Mitra Kontraktor
Program 35GW, Perbankan Suntik PLN Rp4,5 Triliun
Pertamina dan Pemkab Bengkulu Utara Awasi LPG 3Kg

ke atas